Sisi Lain

Juli 2, 2009

Sisi Lain

Untuk Tunk dan Almarhum

Ia duduk di sisi, diam-diam waktu mencuri, apa yang ia rengkuh dalam hati, dalam diam, dalam sakit dan sepi. Ia tetap duduk di sisi, sisi paling runcing paling sisi. Di setiap sisi ia duduk. Menunggu tanpa pernah menjawab, ia berpijak di sisi, di setiap sisi ia berpijak. Diam-diam waktu mencuri.

Laki-laki itu duduk di sisi, merokok puntung abadi, menghisap setiap asap, menghembus segala-galanya. Laki-laki dan sisi, renta dan sepi. Ia mengharap apa? Ia tak pernah menjawab. Ia teguh menelan pil sehari dua kali, pil yang ia simpan di saku paling dalam, ”seumur hidupmu jangan pernah berhenti”, demi apa yang ingin kau saksikan, dari perjudianmu dengan hidup dari hembus nafas paling ganjil. ”telan pilmu, biar gila, engkau harus hidup!”, perjudian yang sama sekali tidak adil.

Aku sisi, dari segala yang terang dan kelam, duduklah dipangkuanku. Semilir rasa perih melambai, melantun, mengajak meregang sedikit demi sedikit, ia yang tertanam hidup dan bergerak dalam darah, sungguh merusak, tapi juga mengingatkan, engkau renta dan rentan, aku akan menelanmu dalam malam dan siang yang pucat. Ia duduk di sisi, diam-dam waktu mencuri.

Engkau sisi? Aku akan rebah di pangkuanmu, sambil menunggu segala yang kupunya lenyap. Jangan hina aku, sakit itu kutanggung sendiri, yang kau rasa cuma bayangannya, cuma asap, apinya yang membakarku. Engkau sisi, lindungi aku dan sakitku, dari segala yang bertanya, dari segala yang curiga, akan aku serah apapun untukmu, walau ia huruf terakhir agar kelak adikku tahu itu makamku.

Ia duduk di sisi, di setiap sisi ia ada.

”yang terserak biarlah, toh waktu akan memungut apapun dari kita”. Ia lelaki, kuyup oleh terik dan basah hujan. Malam, mengajaknya syahdu dengan kopi encer, memeluk mimpi lama yang karatan, di terminal Kiara Condong, di warung kecil yang berdiri di atas selokan. Bulan di kota, mencumbu rayu khayal lelaki yang hidupnya terus-menerus merindu, tanpa berani bertanya. Kulit dan jiwanya memucat, ia menunggu subuh, untuk kemudian ke rumah sakit, meminta obat. Siang meminta sedikit perlindungan, berjumpa teman, menghayati segala ketiba-tibaan, menghajar lagi kekecewaan.

Panas kopinya menguap sebelum subuh tiba, ”oh sayup adzan tak pernah aku serindu ini padamu”. Menghantar hangat pada lubuk yang kelu, pada rasa mual yang menyebar, malam tak kunjung pudar, segala yang kurengkuh bergetar, segala yang kulihat berpendar, pecah, antara cahaya dan kelam. Lalu mendahului adzan, ada suara memanggil dari ibu, dan perempuan penuh ikhlas itu. ”rinduilah maut, siapkan segenap dirimu, syukur dan doa”. Sisi-sisi menguap, ia tenggelam dalam damai.

”Ini bukan saatmu”, kata itu di susul suara adzan, dan riang knalpot setengah ngantuk, bersemangat mengarungi jalanan yang segera sesak sepenuhnya. Ada yang mendorongnya dari lautan tengah. Kini ia mulai yakin, ada yang harus tetap dilalui sambil menunggu. Di bayarnya kopi dengan senyuman, lalu berjalan sambil menahan mual. Sisi itu muncul lagi, semakin runcing dari hari-hari kemarin.

Aspal masih basah, alam menyebar isyarat, menunjukan padaku asalku, apabila pasar asalku, kembalikan aku menjadi sayur mayur, apabila sungai itu asalku, kembalikan aku menjadi ikan, atau apabila sampah asalku, kembalikan aku menjadi? Jangan, jangan biarkan sampah asalku, ibuku bulan, bapakku matahari, hidup dan likunya yang membuatmu menyelinap, salahku atau salah masyarakatku? Engkau ada karena peralihan zaman, dulupun ada kolera, dimana pengidapnya menjadi kaum yang tak di kenal. Cuaca, musim, dan setetes lupa, tak ayal menyeret mereka ke gerbong kereta, diangkut ke sebuah ladang yang luas dengan pagar kawat listrik, lalu bensin, lalu api, lalu kau bunuh penyakit itu bersama merekanya. Atau pernah kudengar, sebuah desa dibakar, namanya dihapus dari silsilah manusia, bahkan dari silsilah mahluk hidup. Hanya dijadikan bentuk biologis tak berjenis.

Bukan kami yang memilih, bukan juga kalian yang memilih. Cuaca, musim, dan setetes lupa yang memilihkannya untukku. Tapi biarlah, kalian boleh marah padaku, tapi kumohon jangan bersedih untukku, jangan!. Sampai di rumah sakit, antrian kami pengemis obat, pada tuan negara, seperti lukisan saja, terimakasih. Sarapan tiga bakwan, secangkir teh manis, aku berjalan ke rumah cemara, dimana kita riang bersama dalam musim yang semi selalu, sinar matahari yang hangat, menghantar kawan yang pergi satu persatu.

Siang temannya pergi, dipenghujung pintu pernikahan, menitipkan huruf terakhir, yang harus ia selipkan pada nama di nisannya, ”selamat jalan kawan terbaik…”. Lalu ia rebah lagi di sisi, menunggu.

Semarang, 3 Juli 2009

Abu Mufakhir

Moonwalk

Juni 29, 2009

Moonwalk
Industri Musik dan (bayangan saya soal)Transendensi Seorang Jacko

Abu Mufakhir

There’s a place in your heart, and I know that it is love
And this place could be much brighter than tomorrow
And if you really try, you’ll find there’s no need to cry
In this place you’ll feel, there’s no hurt or sorrow
(Heal The World, Michael Jackson)

Michael Jackson adalah ‘King of Pop’, legenda dari dunia musik yang menyatu dengan bisnis, yang kemudian dikenali sebagai industri musik. Jacko lahir di Gary, Indiana, Amerika, 29 Agustus lima puluh tahun yang lalu. Kematiannya menjadi berita yang segera tersebar ke seluruh dunia, bahkan seperti dikatakan oleh wartawan Kompas, Bre Redana, “melindas berita lain, dari politik sampai berita apapun” (Kompas, Sabtu 27/06/09). Pada ujung usianya Jacko dalam keadaan yang apabila disimpulkan dari segala pemberitaan media massa mirip dengan ‘menyedihkan’, ia diterpa sakit, dakwaan pelecehan seksual, dililit hutang, dan mungkin saja ia menanggung sebuah mimpi yang belum tuntas.
Pada era ini, tidak mungkin ada selebritis besar yang tidak lahir dari bidannya yang terbaik, media massa. Media menjadikan seseorang -lebih tepatnya mendefinisikan seseorang, dan kemudian meredefiniskannya- mengalihkan perhatian orang pada dirinya, yang semuanya lekat oleh dan karena bisnis. Jacko, bakat, suara, gaya dan segala dirinya, dipoles oleh media, didistribusikan, dibesarkan, dan jadilah legenda. Jacko sempat menjadi pusat ketika masa jayanya, jutaan orang merujuk kearahnya, musik barat, dimana ada jiwa ‘bebas’ yang berjalan di atas bulan.
Jacko menjadi ‘icon’ oleh segala karya dan gayanya, segala kontroversi hidupnya, dan tentu saja oleh dorongan publikasi media massa. Dan ketika publikasi itu menyurut, karirnya semakin terpuruk. Industri musik dan media mengolah semua yang alami dan kerja kerasnya, menjadi lebih artistik dan ‘menjual’, sehingga terciptalah kekaguman massal jutaan manusia, sebuah industrialisasi kebudayaan massa. Dan Jacko menjadi besar seiring dengan industri musik yang kian pintar dalam menangkap dan memproduksi selera zaman dari seorang Michael Jackson.

Spiritualitas di Penghujung
Dari situasi di luar kendali Jacko sendiri, dan segala kemasyhurannya, saya kemudian membayangkan, ketika di ujung usianya, Jacko sedang duduk-duduk sendiri di rumahnya yang berdiri megah di kawasan yang ia namai Neverland, dimana setiap orang di situ menolak untuk dewasa. Matahari sore berkilauan dalam kemegahannya. Udara kering dan tenang, sementara Jacko merasa sangat kesepian, ia merasa telah begitu menjauh dan dijauhi oleh media. Namun ketika itulah Jacko menghayati lagi segala perjalanan hidupnya sampai ia kemudian menjadi legenda, dan ia hanya menyisakan satu mimpi lagi: konser di bulan Juli.
Jacko sedang merasakan dirinya sendiri, sedang menyusun musik halus dalam diam. Menciptakan ruang kecil, dimana dirinya bisa merasa lebih baik. Ia sedang terlibat dengan segala perjalanan musiknya, menjelajahinya kembali sebagai harmoni yang lebih dalam, yang hanya ia rasakan, sebuah interaksi untuk dirinya sendiri, sebuah konser pribadi. Ia sedang menikmati segala unsur dalam musik yang ia ciptakan, ia ingat-ingat lagi lirik dalam lagu yang ia nyanyikan, tapi dalam situasi yang sangat sederhana, bukan dalam sebuah konser yang megah dan riuh dengan sorak-sorai penonton. Dan tiba-tiba saja, segala ironi mengepungnya dalam kesunyian yang menakutkan. Ia sedang mengingat lagunya, “Heal The World”, dimana sebuah dunia yang lebih baik sedang diharapkan, sedang diperjuangkan untuk dibangun di atas semangat yang tak pernah padam. Mengingat lagu itu ia-pun merinding, ia merasa dunia dan industri musik, juga segala ketenarannya membuatnya kini sangat tersudut.
Kemudian ia beranjak pada salah lagu yang membuatnya sangat besar “You Are Not Alone”, yang ditulis oleh R. Kelly, dan kemudian ia dengan sangat keras meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang sendiri, ia tidak sedang hidup dalam dunia yang dingin. Bahwa ada seseorang yang terus setia menemaninya, seseorang yang terus hidup dalam hatinya.

You are not alone
I am here with you
Though you’re far away
I am here to stay
(You Are Not Alone, Michael Jackson)

Antara konser bulan Juli dan segala perjalanan hidup yang telah ia lalui, Jacko sedang meresapi dua hal tersebut dalam bayangan saya pada masa-masa di penghujung usianya, ia sedang membaur dengan segala yang metafor dan nyata. Ia sama-sama letih menahan sakit dan kebesarannya. Perjalanan spiritual, biasanya hinggap pada akhir-akhir usia, dan saya yakin Jacko mengalami itu, sebuah kisah transenden penuh warna yang ironis, namun akhirnya dengan segala keterbukaan ia menyadari dengan sepenuhnya, ia hanyalah seorang manusia biasa, yang kemudian sangat terbebani dengan segala tuntutan waktu, dan kepuasaan dari sekitarnya. Ia sedang merindukan keheningan, dimana segala kebesarannya menguap dalam sebuah proses introspeksi yang lepas dan bebas, ia sedang menciptakan ruang kecil di sudut jiwanya, dimana semuanya menjadi lebih baik.

Selamat Jalan Jacko. Kematianmu membuat, Heal The World, sebuah lagu yang mengajarkan kasih sesama manusia kembali lebih sering terdengar di seluruh dunia. Dan sesungguhnya konser itu sedang berjalan lebih cepat dari bulan Juli.

Dulu

Juni 24, 2009

Abah bermain catur sendiri,
Bermain-main dengan waktu

Rasanya baru kemarin, kulihat Abah melukis gerhana
dengan crayon ala anak TK
Ia yang senja, kembali subuh…
lukisan itu masih ada, menggantung dingin di samping meja makan

Rasanya baru kemarin,
Ia membelikanku wafer bergambar superman, dari koperasi kantor,
coklatnya harum potong gaji,
tapi dulu mana aku mengerti…

Aku dihubungkan ke masalalu
oleh rumah dan pohon jambu
rindu bak pelangi
warna-warni
sekaligus merdu merayu
tapi hening
tapi aneh
tapi apa?

Aku rindu dulu
Lebaran yang meriah
Abah membelikanku baju baru, merknya ‘Hammer’
Aku rindu dulu,
Dipaksa memegang ayam, menghadapkannya ke kiblat, lalu disembelih
Aku rindu dulu,
ketika dipilihkannya aku kacamata
malam diajarinya sejarah atau matematika

Pesannya padaku:
Pelajarilah apapun, tapi jangan sastra!

Ah, aku tersenyum lagi,
oleh masalalu

Abu
Anyar, 29 Mei 2009

Perempuan di dalam mobil mewah

Beribu tahun yang lalu
Rasanya kita pernah bertemu,
pada zaman batu
di suatu gua, di gunung purba
Rumah mentari dan pelangi

Aku ingat,
Kita telah dinikahkan matahari
Sebagai anak langit
Matamu biru, walau tak biru, tetap saja kunilai biru
Seperti laut
Luas dan dalam

Nafasmu angin
perlahan melembab
di ruang yang gelap,
tanpa matahari, tanpa langit
Sempurnalah bersamaku,
menjadi lumut
di sumur terdalam
dimana maut tak berani datang, sampai kapanpun

Lalu beranaklah
Serigala atau Malaikat
Susui mereka dengar air hujan
Kelak ketika mereka dewasa dan menjadi manusia
Lepaskan ke dunia, rimba belantara, hempaskan mereka ke sekolah

Perempuan, engkau belajar asmara dari jalanan
Jadilah ibu,
Jadilah ibu,
Jadilah ibu,
Seperti beribu tahun yang lalu
Seperti kasih dari batu

Abu
Anyar, 29 Mei 2009

Tinjauan Film

Mei 13, 2009

Tinjauan Film
Judul: New Rulers of the World
John Pilger

Go to Hell with Your Aid

Tubagus Abu Mufakhir

Ketika menonton film New Rulers of The World, saya selalu berhasil dibuatnya marah. Dalam film itu ada sebuah tayangan demonstrasi dari gerakan anti globalisasi yang membentangkan spanduk bernada “go to hell with your aid”, dan saya punya satu stiker dengan nada yang sama dan tertempel di boks file saya sejak tiga tahunan yang lalu, tapi saya baru tahu kalau kalimat itu adalah ucapan Soekarno ketika ia menjadi presiden dan menerapkan kebijakan ekonomi sosialisme ala Indonesia. Ucapan yang sering Soekarno katakan bersamaan dengan beberapa prinsip dan semangat industrialisasi yang ia coba tanamkan pada masa-masa akhir ia berdiri sebagai presiden dan pemimpin besar revolusi. “go to hell with your aid”, ini kalimat utama presiden pertama kita soal ekonomi beberapa puluh tahun yang lalu. Jelas, bernada anti barat.

Lalu, dalam film itu juga ada wawancara antara Jhon Pilger dengan seorang pejabat World Bank (Bank Dunia), pertanyaan prinsip Pilger ketika wawancara itu mengenai keterlibatan Bank Dunia dalam membangun ekonomi pasar yang menghasilkan kemiskinan dan korupsi sekitar tiga puluh persen atas utang luar negeri yang berasal dari Bank Dunia untuk Indonesia, pertanyaan ini seperti menegaskan peran Orde Baru dan Bank Dunia atas kemiskinan dan kesenjangan yang dalam di Indonesia, namun sayang, pertanyaan itu tak terjawab dengan baik, pejabat Bank Dunia tersebut justru mengatakan bahwa situasi tersebut baik langsung maupun tidak langsung merupakan warisan atas rezim Orde Lama yang ia anggap tidak becus mengurusi perekonomian. Lalu tayanganpun berpindah. Pilger seakan membiarkan kita ‘penonton’ menilai sendiri jawaban yang payah itu.

Perlawanan Terhadap Dominasi Ekonomi Belanda, Perbaikan Infrastruktur dan Industrialisasi ala Orde Lama

Atas jawaban pejabat Bank Dunia tersebut, saya tertarik untuk menengok ringkas mengenai kondisi perekonomian pada era Soekarno, pemaparan ini memiliki dasar pendapat bahwa, apa yang menjadi warisan perekonomian Orde Lama tidak semata-mata hanya merupakan persoalan ekonomi ideologis, yang oleh ekonom pragmatis dianggap sebagai suatu persoalan yang tidak rasional dalam tata ekonomi, namun persoalan situasi ekonomi pada era Soekarno lebih banyak merupakan warisan perekonomian kolonial. Sewajarnya itu dipahami, karena jika pejabat Bank Dunia itu menyatakan: “secara langsung atau tidak langsung, kemiskinan Indonesia saat ini merupakan warisan Orde Lama”, maka jelas terhubung langsung atas dampak kolonialisme terhadap kondisi perekonomian Indonesia ketika awal-awal kemerdekaan. Karena seperti kita ketahui, ekonom-ekonom Bank Dunia, seringkali membanggakan kinerja ekonomi Orde Baru bahkan menyebutnya sebagai keajaiaban, dan sebaliknya mencela habis-habisan ekonomi Orde Lama, dan dasar celaan mereka biasanya berdiri pada realitas hiperinflasi sebesar 636 persen ketika mencapai puncaknya pada tahun1966.
Saya yakin, bahwa pejabat Bank Dunia itu tentunya tahu, bahwa Indonesia telah dijajah selama 350 tahun, selain sumber daya alam Indonesia dikeruk untuk kesejahteraan dan kemajuan dunia barat, kemampuan Negara ini soal pembangunan ekonomi dan politik jelas tidak bisa dibandingkan dengan dunia barat ketika itu, atau ada berapakah ekonom Indonesia ketika Negara ini baru merdeka? Karenanya bisakah pembangunan ekonomi Indonesia rasional seperti apa kata mereka ekonom pragmatis itu? Dengan kata lain, ekonomi Indonesia pada awal kemerdekaan, seperti Negara-negara jajahan lain, lahir dari kolonialisme, karenanya kebijakan ekonomi kemudian merupakan hasil interaksi dari berbagai masalah besar ekonomi dan sosial yang dihadapi masyarakat dan kepentingan internasional (Blok Barat), sehingga ketika infrastruktur industri yang baru saja dibangun tidak mampu mendanai anggaran Negara maka pilihannya ketika itu adalah mencetak uang, hingga hiperinflasi terjadi. Kenapa pilihannya mencetak uang, bukannya hutang luar negeri? Karena Soekarno sedang membangun pondasi ekonomi yang mampu berdiri di kaki sendiri. Namun patut untuk kita ingat, bahwa dalam kondisi serba pas-pasan dan semangat ideologis yang terawat ketika itu, Indonesia berhasil membangun infrastruktur industri yang sangat hebat dan tidak hanya mengandalkan infrastruktur warisan yang diperoleh melalui nasionalisasi, dan berhasil menyingkirkan dominasi perusahaan Belanda, salah satu buktinya adalah Krakatau Steel, di Cilegon, dan di SMA Karakatau Steel saya menempuh sekolah lanjutan tingkat atas. Namun sayang, kemarin-kemarin pemerintahan kita berencana menjualnya ke pihak swasta asing sebagai bentuk dari praktik kebijakan privatisasi yang merupakan ciri pokok (sekaligus khas) dari rezim neolib. Dan inilah bedanya, yang satu membangun yang satu menjual. Yang satu nasionalisasi yang satu swastanisasi!.
Kembali ke situasi ekonomi warisan kolonial pada masa Orde Lama, latarbelakangnya adalah situasi politik yang riskan akibat intervensi dan keterlibatan Indonesia dalam perang dingin (hal ini sendiri merupakan konsekuensi situasi politik global), sekaligus persaingan kepentingan berbagai kelompok nasional ketika itu. Sehingga masalah terbesarnya kemudian adalah memadukan antara kepentingan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur fisik yang hancur akibat perang melawan Belanda dan ketika Jepang masuk dengan aspirasi masyarakat ketika itu, untuk mengubah ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional. Perwujudannya melalui penguasaan aset-aset yang produktif dan pembangunan infrastruktur industri baru. Situasinya sangat sosialis, dan penolakan besar-besar terhadap sistem ekonomi kapitalisme. Kebijakan Orde Lama menekankan penguasaan oleh Negara atas cabang-cabang penting produksi, dan membatasi perusahaan swasta hanya pada kegiatan ekonomi yang tidak menguasai kebutuhan pokok rakyat, hal ini seperti tertera dalam pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.
Proses industrialisasi yang berlangsung pada masa Orde Lama bertujuan menciptakan stabilitas ekonomi yang mengandalkan Negara (bukan pasar) , lepas dari penilaian bahwa ini merupakan proyek ekonomi yang sangat ambisius, pada kenyataannya banyak pabrik-pabrik milik Negara pada sektor manufaktur yang masih berdiri saat ini adalah hasil dari proyek industrialisasi yang sporadis ketika itu. Indutrialisasi ketika itu menjadi sangat prioritas bersanding dengan sektor pertanian, mengutip Sjafruddin, bahwa industri manufaktur harus dilandasi pertanian dan sumber daya alam Indonesia. Ini penting, karena sulit membangun sektor industri manufaktur apabila sektor pertanian masih kurang berkembang (Sjafruddin 1987). Kondisi ini kemudian berkembang menuju Ekonomi Terpimpin seiring dengan munculnya demokrasi terpimpin dan kedekatan Indonesia yang semakin intim dengan Negara-negara blok timur (Sovyet dan RRC). Salah satu program dalam ekonomi terpimpin ini dikenal sebagai “Rencana Pembangunan Semesta Delapan Tahun” yang dikepalai salah seorang pemimpin nasional terbaik, Mohamad Yamin. Yang perlu diperhatikan adalah, dalam kebijakan ekonomi ketika itu, di dalamnya termuat kandungan sosial-politik sebagai bagian yang tidak terpisah, mengutip Higgins (1968:699), bahwa dokumen Pembangunan Semesta Delapan Tahun bukan hanya sekedar dokumen perencanaan ekonomi tapi juga mengandung dimensi politik yang kental, karena di dalamnya termuat sebuah wujud masyarakat yang hendak dicapai.

Setelah itu…
Seiring dengan peristiwa Gerakan Tiga Puluh September (G 30 S), Soekarno akhirnya jatuh dan Orde Baru lahir. Mari kita kembali ke pernyataan pejabat Bank Dunia di atas, dia ada benarnya soal Soekarno mewariskan suatu situasi ekonomi, namun yang ia warisi adalah tata ekonomi dimana Negara menjadi sentral dan justru warisan itulah yang mereka ubah total atas nama ekonomi global sehingga kemudian pasar menjadi sentral. Jadi siapa yang sebenarnya menciptakan kondisi saat ini, ketika perusahaan-perusahaan multinasional-lintas Negara (MNC’s – TNC’s) begitu meraja di Indonesia, mengeruk kekayaan alam dan membayar upah murah bagi buruh, sehingga menghasilkan kerusakan lingkungan dan kemiskinan yang disertai kesenjangan?
Sebagai orang awam saya akan mengatakan bahwa: Jawabannya adalah mereka, Bank Dunia, IMF, WTO, trinitas tidak suci, merekalah institusi keuangan dan perdagangan internasional yang menjebak Negara ini ke dalam hutang luar negeri, membiarkan dengan ‘sengaja’ hutang tersebut dikorupsi, mendorong deregulasi atas segala perangkat hukum yang melindungi buruh karena dianggap menghambat investasi asing masuk, serta kebijakan ekonomi yang berorientasi ekspor tanpa memperdulikan daya beli dan konsumsi dalam negeri. Namun ketika krisis muncul mereka cuci tangan, dan turut mengecam pelbagai kebijakan ekonomi Soeharto, orang yang justru merupakan kaki tangan mereka ketika berkuasa.
Mirisnya lagi, setelah Orde Baru jatuh sejumlah kesepakatan Indonesia dengan Bank Dunia, International Monetary Fund (IMF), dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) lebih antusias bermunculan dan memaksa negeri ini menjalankan kebijakan pencabutan subsidi layanan publik, membuka pasar bagi produk impor, dan kebijakan-kebijakan lainnya yang mengabaikan hak-hak ekonomi rakyat. Parlemen dipaksa memproduksi peraturan yang memperlancar privatisasi (UU Sumber Daya Air, UU Kelistrikan, UU Sistem Pendidikan Nasional, dan lainnya), serta kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Hukum dan aturan perburuhan juga dituntut mengadopsi konsep kelenturan pasar tenaga kerja (flexible labour market) yang melayani investor tetapi mengabaikan kesejahteraan buruh. Akibatnya, buruh selalu berada dalam ancaman PHK dengan tingkat eksploitasi yang kian meningkat.

Kesimpulan
Ekonomi dan Integrasi Sosial
Menurut laporan ILO tahun 2008, ada 52,1 juta buruh miskin di Indonesia, dengan upah kurang dari 2 dollar AS per hari (Bisnis Indonesia, 22/08/2008). Jika merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008 ada 102,5 juta orang yang bekerja. Artinya satu dari dua orang yang bekerja sekalipun hidup miskin. Namun buruh tersebut terpaksa untuk tetap bertahan dengan pekerjaan dan upahnya itu karena tidak punya pilihan lain, karena Negara tidak menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih baik melalui sektor Negara bagi mereka, bagi kita!. Dan inilah wajah globalisasi itu: Suatu sistem yang terus menerus memproduksi kemiskinan sekaligus kesenjangan karena sifatnya yang diskirminatif. Kemiskinan bergaris lurus dengan kualitas hidup yang rendah, karenanya persoalan kemiskinan akan selalu memiliki dampak sosial yang buruk, meningkatkan angka kriminalitas, kekerasan dalam rumah tangga, tawuran, bunuh diri, bahkan banyak pakar ekonomi politik yang mengatakan bahwa kemiskinan adalah akar dari terorisme, karenanya jika kita ingin melawan terorisme maka kita harus melawan kemiskinan, hal ini mungkin senada dengan relasi antara menguatnya fundamentalisme agama dan laju globalisasi.
Max Weber, dikutip dalam buku Economic Sociology yang ditulis Carlo Trigilia, berpendapat bahwa, persoalan ekonomi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap institusi non ekonomi; seperti institusi agama atau politik. Dalam ekonomi terkandung relasi sosial, dan karenanya mempengaruhi fenomena sosial yang kemudian muncul, dan dalam fenomena sosial, rakyat kebanyakan adalah sumber pusarannya. Namun ketika rakyat kebanyakan justru tidak memiliki akses terhadap pertumbuhan ekonomi dan terus menerus terjerat oleh kemiskinan, maka niscaya relasi sosial tersebut akan berangsur rusak. Dan ketika itu terjadi maka integrasi sosial dan nasional tidak akan benar-benar terwujud, selain hanya sebatas persoalan administrastif.
Gambaran yang terperinci yang disajikan oleh John Pilger dalam filmya ‘New Rulers of the World’ , semakin membuktikan bahwa ekonomi dalam arus globalisasi adalah kuasa pasar dalam pusaran modal. Dan dalam pasar model itu ada pelbagai hubungan yang hanya menguntungkan minoritas kapitalis, yang diperantarai oleh institusi keuangan dan perdagangan internasional. Padahal ekonomi idealnya, dalam bahasa Weber adalah suatu tindakan sosial, karena ekonomi pada dasarnya adalah perilaku manusia yang tidak hanya berorientasi pada dirinya sendiri tapi juga pada orang lain, suatu hubungan timbal balik, kerja sama (koperasi) di antara semua yang terlibat, karena di sinilah letak eksistensi dari relasi sosial. Karena itu, integrasi sosial dan nasional bisa dijaga -dalam konteks ini- dengan terus mengupayakan agar aktifitas ekonomi tetap menjadi tindakan sosial yang bertumpu pada mayoritas rakyat, dengan kata lain membangun ekonomi berbasis kerakyatan dimana keuntungan ekonomis dan sosial terdistribusi, bukannya terakumulasi!.

Terimkasih bagi Pilger, karena filmya memudahkan saya dalam mempelajari globalisasi.

Depok, 11-12 Mei 2009

Temon

Mei 5, 2009

Rin-rin Migristine

Abu

Saya mengenalnya di satu milist, dunia maya. Ketika tulisannya tertangkap mata lalu berkelindan di kepala. Hingga kemudian kami makin sering bertukar cerita, seperti sepasang penganggur yang mengolah harap.

Awalnya dia bernama Temon.

Perlahan kami saling mengenal, sambil merajuk ke dalam diri agar bisa menonton adegan kesepian menari dalam drama bisu tentang hidup yang tak diinginkan. Dan kami berhasil, kami di izinkan. Tapi inilah, kami tetap saja tak mengerti, bagaimana membuat kesepian itu tuntas dan selesai, padahal ia sudah capai menari, melenggak-lenggok di ruang hampa yang lurus nyaris tak bertepi, kecuali berhenti hidup karena mati.

Kemudian ku kenal ia sebagai Rin-rin Migristine.

Ajaknya: “mari kita bermain dengan masalalu, mari, saya ajak kamu menemui aki (kakek) yang sedang mendongeng tentang apa arti namamu”. Dan ia kurasa masuk terlalu dalam pada kenangan. Menguntit masalalu satu persatu dengan pertanyaan yang sama, “kapan saya mati?”. Bertanya pada jejak lahir soal maut. Bertanya pulang pada awal kepergian adalah hal yang rupanya akan banyak sia-sia. Tapi alangkah muluk manusia yang juga berkata, “jalani saja hidupmu”, karena bukankah menjalani ‘ini’ sama halnya dengan menunggu ‘itu’, ada hal yang selalu ingin kita capai tho, dan apa salahnya jika itu adalah maut. Dan jelas Rin-rin tak segagah Chairil yang berteriak “sekali berarti setelah itu mati”. Rin-rin lebih memilih lemas sambil menghayati ke dalam maut sendiri, mengenal wajahnya dengan baik agar ketika ia datang, tegur sapa dengan maut berjalan ringan.

Ia ingin hidup sesingkat mungkin.

Ia merindu. Merindu maut yang jelang akan mempertemukannya dengan kebahagiaan itu. Ia pesolek jiwa, ia penari sepi, ia adalah senandung kala hati saya ingin mendengar irama yang mengajak untuk ikhlas. Ia adalah keinginan yang berubah menjadi diam dalam makna yang lebih dari keinginan itu sendiri. Ia melampaui apa itu pasrah dan tabah. Sungguh ia melampaui bentuk ikhtiar apapun, ia melampaui itu dengan cinta.

Ia tak peduli, walau hidup adalah sketsa harap yang acak-acakan.

Sedikit saja kita bergeser, sedikit, tapi ke arah yang benar, ke arah dimana harap untukku kuserahkan untukmu. Inilah sesenti nafas yang berarti, karena ia dipersembahkan bagi si polan yang di ujung sekarat baru saja ingat ada dzat yang disebut Tuhan. Dan untuk itu kau perlu dididik oleh derita berkepanjangan, oleh sekarat berkali-kali tak tuntas, oleh detik ketika hidup dan mati berada di antaranya. Itulah yang Rin-rin ajarkan padaku. Pada semua yang ingin mengolah derita menjadi makna.

Darah di cuci.

Ya, kita tak tahu kapan itu sekarat datang, bisa ia adalah kini, ketika saya menulis ini, tak ada yang tahu kapan urat halus ini putus. Sekarat tak selalu sakit keras dan nafas yang lepas ditangkap, lepas ditangkap, dan semakin lepas tak tertangkap sampai akhirnya ia lari bebas dari tubuh. Sekarat bisa saja ketika kau sedang di dalam angkot, di dalam bioskop, di dalam perpustakaan, di dalam diskotik, di malam pertama- justru ketika kita sehat-sehatnya. Bisa saja…

Darah di cuci, agar ia bisa kembali mengenali kawannya yang tak sepadu. Memisahkannya dan membukakan jalannya untuk keluar dari tubuh. Tapi darah di cuci adalah persoalan jiwa yang serius, ia bukan hanya soal hemoglobin yang drop. Tapi soal jiwa yang mengalami ancaman serius, ancaman itu adalah harapan yang drop. Tapi baginya cuci darah adalah sebuah tugas, menghimpun kembali bekal untuk membekali hidup yang lain. Karena ia tak mau dibungkam oleh sakit yang selalu. Ia bergerak- bersembunyi dari letih, dan apa gerangan yang membuat ia bergerak? Jawabnya adalah, darah itu sendiri!

“Demi darah yang dibanderol”, Ujar Rin2 ketika itu.

Rin-rin, kau adalah jalan perbaikan yang rendah hati. Kau adalah perubahan yang merayu. Bukan ocehan yang hanya bagus untuk orasi. Kau berkelindan dari hati ke hati, memompa darah agar segar dan sejuk selalu.

Dan Minggu pagi kemarin, jam setengah enam, saya terbangun karena mendapat telpon dari Herman, dia memberitahu Rin-rin meninggal. Saya diam, lalu bayangan Rin-rin melintas, keramahannya, kebaikannya, senyumnya, pengorbanan dan perjuangannya, semuanya. Beberapa saat kemudian saya berpikir Rin-rin terbebaskan dari rasa sakit bertahun-tahun itu, cuci darah, dan ia bertemu dengan sesuatu yang ia rindukan, maut- karenanya saya tersenyum, walau tetap saja saya heran, kenapa saya tak menangis ketika itu? Saya hanya merasa beruntung, pada akhir-akhir waktu saya diberi kesempatan untuk sering menginap di rumahnya, walau ketika sakitnya mulai parah dan ia kemudian meninggal, tak sekalipun saya sempat menjenguk.

Kini,

Rin dengar ya, kau pernah menyimpan doa dalam riak kata-kata itu, lambat laun ia akan menjadi gelombang, dan ini bukan soal sepi, tapi soal bagaimana hidup yang tak sia-sia. Dan Abu tahu, adik-adikmu: de Ita dan de Uki- paham sekali soal itu!

Terimkasih Rin, selamat berpulang ke Rahmatullah..

Bogor, 28 Okotober 2008 di gubah pada 05 Mei 2009, Depok

Anne Frank

Februari 3, 2009

Anne Frank
: Fifi dan Kitty

Anne Frank, berbisik pada Ibrahim, “dimana Hitler Tuhan letakkan?”, dan Ibrahim bisu. Di usus para filsuf sejarah melilit, menciptakan radang dan sambil mengancam, “letakkan penamu, ini zaman pedang!”. Salju Gaza menimbun jasad bayi kami, mengirimkan jiwanya pada kedinginan abadi, di tepi abad-abad yang lelah di mana Musa tak henti berkhutbah.

Anne hanya diam, meletakkan sandwich kecil di pangkuan Judas dan menyaksikan dari sana, Hitler kini di pihak kami, katanya diam-diam. Lalu Anne berlari, membiarkan sandwichnya dicicipi Judas, ia datang ke arah Musa dan dengan tegang berseru, hentikan khutbahmu. Musa diam, para penyamun di hadapannya juga ikut diam, lalu Anne menangis, “bacakan ini”, katanya sambil menyuguhkan buku hariannya.

Musa berkata, “ini prihal sejarah”, Heidegger muncul sambil berbisik, “biarkan waktu mengada”. Para penyamun mendengar sejarah, menyaksikan daging-daging manusia di sajikan di meja makan, mendengar tangis yang tidak lagi mampu terurai. Lalu tiba-tiba di depan mataku hadir email yang mengajak untuk mengerti, aku hanya tersipu, email itu seperti menyanjung kaum yang kini teraniaya, seperti simpati, tapi apakah pengirimnya mengerti, berjuta penduduk di sini pernah di kubur hidup-hidup hanya karena dicap komunis, aku hanya tersipu sambil berkata dalam hati, sama saja: Indonesia, Israel atau Amerika, sama saja!.

Ya, nasionalisme telanjang dan berjalan gila, tubuhnya pilu dihantam palu zaman. Sambil menyaksikan TV atau membaca Koran, berjuta sumpah serapah mengalir, membuat sejarah semakin encer, membuat hidup semakin tersudut, kau serukan damai dengan sumpah serapah, aku hanya diam. Anne, aku tahu dimana Hitler berada, di jiwa-jiwa saudaraku yang begitu membenci anak cucumu. Maaf anne, maaf. Inilah langkah sejarah, dimana pengorbanan Kristus sekalipun tidak berhasil mengungkap arahnya. Sama halnya ketika jejak Muhammad terhapus ayat-ayat yang membisu.

Mari Anne makan sandwichmu, temani aku minum kopi di siang yang bising.

Abu
Anyar, 29 Januari 2009

November 19, 2008

Nuning

.

Dia menghampiriku di situ

Di sudut rel kereta api yang remang

Usianya 18 tahun dan

senyumnya mengajak lelaki menjadi lelaki

Tapi aku lelah dan kamipun merokok berdua

Hingga kami saling bercerita

.

Tentang kota ini

Dan mulut-mulut lelaki bau alkohol

Tentang adiknya di kampung

Tentang aku yang baru saja di PHK

Lalu kami jalan-jalan dalam gelap

Masuk ke dalam gerbong kereta setelah lompat pagar berkawat

Ada tikus lewat dan dia melompat

.

Kami kepergok keamanan

Digiring ke kantor

Ditelanjangi

Ditendang

Diludahi

Dibawa ke kantor polisi dan menginap sehari

Besoknya Nuning gila

.

Abu

Bogor, 15 Oktober 2008

Tua-tua Keladi

November 19, 2008

Ada berapa mantan jenderal bikin partai?

Tiga, empat atau lima?

.

Ada penculik bicara hati nurani

Bicara petani

yang tanahnya direbut pengusaha yang dibantu tentara

.

Ada berapa mantan jenderal bikin partai?

Lima?

Bukan, empat!

Atau tiga, saya lupa…

.

Tapi saya masih ingat

Bagaimana Semanggi

Bagaimana Priok

Bagaimana Koramil seram sekali

Atau bagaimana Wiji Thukul hilang sampai sekarang

.

Memang kenapa kalau mantan jenderal bikin partai?

Memang kenapa kalau mantan jenderal jadi presiden?

Mantan jenderal tegas dan berwibawa

Mantan jenderal tahu bagaimana jadi pemimpin

Mantan jenderal juga galak

Galak sama kita-kita

Takut sama Amerika

.

Ada berapa mantan jenderal bikin partai?

Tua-tua keladi…

Kepingin jadi presiden

.

Bogor, 15 Okober 2008

November 19, 2008

Menang Togel

.

Namanya Prayitno

Sudah sepuluh tahun tak pulang kampung

“Aku rindu ibuku mas dan ingin ziarah ke makam bapak” katanya,

ketika mau minjam uang untuk mudik

ke perkampungan transmigrasi di kalimantan

.

Prayitno usianya 26 tahun

Di Jakarta dua kali masuk penjara

Pertama karena berkelahi sama anak polisi

Kedua karena memukuli tramtib

.

Prayitno dikenal berani

Tapi sopan sekali

Ia bekerja jadi tukang gali sumur

Ikut kerabatnya dari kampung

.

Galian sumur lagi sepi

Lebaran sebentar lagi

Aku tak dapat THR ternyata

Order sepi katanya

Janjiku kandas

Prayitno dan aku sama-sama lemas

.

Dua hari mau lebaran Prayitno datang

Kasih uang

Katanya menang togel

Alhamdulillah..

.

Abu di Bogor, 15 Oktober 2008