halo,

Januari 19, 2008

img_2104.jpg

Nama saya Abu Mufakhir. Saya adalah warga Negara Indonesia dari suku Sunda. Dan ini adalah kodrat, yang mau tidak mau mempengaruhi bagaimana saya dibesarkan. Tradisi dan nilai-nilai kearifan lokal yang saya terima sebagai landasan legitimasi saya sebagai makhluk politis. Saya mencerna itu semua walau tidak selalu baik dan terasa. Pekerjaan pokok dari sebuah tradisi adalah mempertahankan tradisinya. Tapi selain saya punya tradisi yang berasal dari lingkungan seperti halnya kita semua saya juga mempunyai tradisi yang berasal dari keluarga. Tentang bagaimana mereka membesarkan anak, menanamkan nilai-nilai, dan bagaimana seorang anak seharusnya berperilaku terhadap orang tua. Walau terlalu banyak mitos yang orang tua saya pakai untuk menjelaskan dan menanamkan sesuatu, itu artinya, apa yang menjadi tradisi keluarga saya merupakan bagian kecil dari tradisi etnik saya. Termasuk soal penamaan anaknya. Di depan nama saya, abu mufakhir, masih ada nama yang akan menjelaskan darimana saya berasal. Dan seringkali tradisi etnik itu merupakan mitos. Banyak mitos yang begitu fantastik dan sukses bertahan sampai sekarang. Dan bagaimana mitos itu bisa sampai dari satu generasi ke generasi selanjutnya?

Adalah tradisi kepenyairan salah satunya yang membuat mitos itu bisa sampai pada generasi kita sekarang. Tradisi mendongeng. Seperti dongeng tentang Tangkuban Perahu. Tangkuban perahu adalah gunung berapi dengan ketinggian 2.084 meter. Bentuk gunung ini adalah Maar atau perisai yang telah meletus 400 tahun lalu. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letusan kebanyakan adalah lava dan sulfur, mineral yang dikeluarkan adalah sulfur belerang, mineral yang dikeluarkan saat gunung tidak aktif adalah uap belerang. Suhu rata-rata hariannya adalah 17oC pada siang hari dan 2 oC pada malam hari. Gunung Tangkuban Perahu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Di luar itu semua, gunung tangkuban perahu menyimpan cerita cinta yang penuh luka. Tentang pasangan suami – istri yang saling mencintai dan mempunyai seorang anak. Seorang istri itu bernama Dayang Sumbi dan suaminya bernama? nama aslinya saya tidak tahu, namun setelah dia menjadi anjing, ia diberi nama Tumang, dan anak mereka bernama Sangkuriang. Suatu hari suatu keinginan yang terasa aneh muncul, si ibu ingin memakan hati rusa, dan meminta Sangkuriang mencarinya. Setelah berburu lama di hutan, Sangkuriang tidak juga menemukan hati rusa, dan karena hanya tidak ingin mengecewakan ibunya, Sangkuriang membunuh Tumang, anjing peliharaannya yang sesungguhnya adalah bapaknya, lalu mengeluarkan hati dari tubuh anjing itu dan memberikan pada ibunya. Dan ibunya kemudian tahu bahwa itu bukan hati rusa, tapi hati anjing, hati Tumang, hati suaminya, hati bapak dari anaknya. Maka ia pun marah dan mengusir Sangkuriang, setelah sebelumnya memukul kening Sangkuriang sampai terluka.

Beberapa tahun kemudian Sangkuriang dewasa, dan ibunya Dayang Sumbing yang tidak bisa tua, masih nampak cantik. Mereka bertemu tanpa sadar bahwa mereka adalah anak dan ibu. Mereka jatuh cinta. Bisa kita bayangkan, Dayang Sumbing yang hidup bertahun-tahun tanpa kehadiran lelaki disampingnya, bertahun-tahun tanpa ada yang pernah menjamahnya, dan Sangkuriang, seorang pemuda gagah dan tampan, yang baru jatuh cinta untuk pertama kali, begitu menggebu hasrat mereka, begitu deras cinta mereka. Sampai akhirnya Dayang Sumbing menemukan bekas luka di kening Sangkuriang dan menyadari bahwa dia adalah anaknya. Tidak perlu saya lanjutkan ceritanya.

Siapa yang membuat cerita ini, siapa Empu dari cerita ini, apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan? Apakah si empu ingin agar siapapun yang mendengar dongeng ini berkhayal demikian jauh, atau bahkan ingin membuat mereka percaya bahwa ada orang bisa menjadi anjing, ada perempuan cantik yang tidak bisa tua karena meminum air di satu gunung, dan seorang pemuda yang mampu membuat perahu dalam semalam. Atau ini sekedar kisah dongeng yang menghibur pendengar atau pembacanya agar bertemu kembali dengan mimpi-mimpi naluri purba mereka.

Walau bagaimanapun setiap karya adalah produk pribadi dari pembuatnya pada tahap dan situasi tertentu- maka ia juga bisa sangat bersifat invidual. Dan pada saat persembahannya kepada masyarakat, ini adalah proses pengakuan bahwa sebagai individu merupakan bagian dari kolektifitas. Dan dalam setiap karya, pasti memuat pandangan pembuatnya, baik atau tidak pancaran tersebut, dimengerti atau tidak, sadar atau tidak, semua sifatnya bukan jadi soal.

Tapi bagaimana dengan sastra pasar? Pasar adalah sebuah kekuasaan, jadi mungkin kita akan melihatnya sebagai relasi antara karya dengan kekuasaan. Bagaimana sebuah karya mengabdi pada kekuasaan, bagaimana si pembuat karya mengabdikan karyanya walau bukan dirinya pada kekuasaan, selalu, sesekali, atau memang hobi, semua sifatnya bukan jadi soal. Tapi nanti dulu, apa itu sastra pasar? Dan apa itu bukan sastra pasar? Apakah selalu sastra pasar adalah karya yang laku dijual, apakah semua karya yang laku dijual itu sastra pasar, jika demikian- apakah sastra bukan pasar tidak boleh laku, karena tidak boleh dipasarkan atau tidak sesuai dengan selera pasar? Lalu apa salahnya jika mengikuti selera pasar? Apakah selera pasar itu salah?

Dalam pasar ada banyak relasi. Ada banyak mitos. Ada banyak tekanan. Maka ini adalah soal bagaimana kita keluar dari mitos tersebut, lepas dari tekanan-tekanan tersebut dan berkreasi secara bebas dan mengolah selera pasar sebagai sebuah batas. Dan inilah pasar, yang mau tidak mau mempengaruhi cara pandang kita, cara kita memilih, cara kita berkarya. Dan cara kita berdamai di tengah-tengah pasar yang kian sempurna dan legitimasi kultural yang kian rapuh.

 

19 Januari 2008

 

Setelah telepon itu saya terpaksa berpikir, mengilmiahkan suatu keheranan.

 

Karena mungkin pengertian-pengertian personal mengenai personal, seperti bingung, galau, stress, trauma, plin-plan dlsbnya, bisa saja kita artikan melalui sesuatu yang generalis. Namun demikian setelah kita selidiki secara khusus personal, nilai generalis tersebut bisa saja tidak dapat dipertahankan. Karena pada suatu waktu, dalam proses perkenalannya kondisi personal seperti bingung bisa saja mengalami perubahan, drastis atau tidak pada intinya suatu eskalasi atau bukan, dan untuk mendapatkan ketepatan memang perlu diteliti sifat inti yang essensial dari eskalasi tersebut.

Dengan demikian bolehlah saya katakan bahwa setiap wujud personal- sejauh menyangkut essensinya- dapat saja muncul pada suatu tempat lain dan dalam bentuk atau cita rasa lain, bahwa kita bisa dan boleh saja berubah atas suatu cara lain, yaitu lain dari cara yang sekarang dialaminya secara faktual. Sifat, wujud, cita rasa, bagi perubahan-perubahan yang mungkin secara apriori memang tidak terbatas. Tidaklah mungkin untuk menyatakan, pada perubahan-perubahan yang mana suatu wujud personal masih tetap wujud yang sama. Fenomena, atau kesan yang berhasil kita tangkap, yang dari beberapa sudut pandangan berbeda secara essensial, dapat saja merupakan fenomena atau kesan yang sama apabila dilihat dari sudut pandang yang lain. Bukankah demikian sihibitku?

Konsisten dalam inkonsistensi, adalah juga sebuah kepribadian yang mutlak fleksibel. Aduh plin-plannya saya.

sis 060

Mei 25, 2007

Abu,

 

Di manapun teater nya, di sana kita merasakan waktu yang berkesinambungan.

 

Hal ini merupakan makna dari keragaman. Keragaman bukan merupakan suatu teknik sederhana pengalihan perhatian (distraction), tetapi suatu kondisi kecakapan. Memberikan karakter, melepaskannya dari sebab apapun, menuntaskannya.

 

Suatu keadaan yang memungkinkan suatu keadaan sejarah manusia yang kontradiktif.

abu 038

Mei 25, 2007

sekaligus traktat-traktat berat filsafat…

abu 037

Mei 25, 2007

setelah dimensi ideologi serentak memisahkan individu dari individu. terjadi totalitas yg parsial, totalitas tapi pecah2. karena kendati menerima totalitas, harus ada syarat yg disepakati. syaratnya adalah totalite (keseluruhan) itu tidak boleh dimutlakan dan tidak boleh menjadi sesuatu yg mutlak. sebab jika totalite itu menjadi mutlak, maka ia akan menjadi tolak ukur tertinggi. seperti tolak ukur penyamarataan rasa itu tidak boleh terjadi. karena menyebabkan nilai hidup sebagai individu tidak lagi mutlak dalam dirinya, tapi dibangun diluar dirinya. karena itu, maka semua bentuk totalite (keseluruhan) harus tunduk pada tolak ukur yg lebih tinggi lagi. nah tolak ukur itu tau apa namanya, yg pasti harus menerima dan menghormati martabat masing2 individu, tapi bukan berarti individualisme.

marx sebagai ideology (marxism) atau apapun harus terlepas dari monopoli kebenaran sejati (hal ini didasarkan pada konsep pluralisme filsafat. jadi awalnya filsafat harus terlepas dari monopoli kebenaran sejati) nah, sebaliknya marxism harus berfungsi sebagai pengatur lalu lintas kebenaran, melalui prosedur yg fair bagi pencapaian konsensus.

 

sis 060

Mei 25, 2007

Agar tetap selaras dengan tradisi idealis Jerman, Habermas menggunakan Marx untuk mengembangkan sebuah strategi kritik yang pada dasarnya akan bersifat emansipatoris. Karna itu bila Marx menekankan peranan pembentukan diri pada pekerjaan praktis, maka dengan merujuk Hegel, Habermas melihat pekerjaan sebagai suatu kritik.

 

Habermas setuju bahwa kapitalisme mendorong adanya suatu masyarakat yang berkelas dan rasionalitas birokratis, atau bertujuan untuk semakin kuat mencengkeram kehidupan individu. Sebagian besar karya nya lebih berpusat pada upaya peninjauan struktur (khususnya bahasa dan aksi komunikatif, serta kesadaran moral) dunia kehidupan. Dunia kehidupan yang didasarkan pada minat terhadap emansipasi, sebagai landasan kehidupan sosial yang sejati, yang berarti juga kehidupan manusia. Menjadi penting untuk mengetahui apa kebutuhan dasar manusia seperti juga bahwa komunikasi yang tidak ter distorsi dan bebas harus diungkapkan.

abu 035

Mei 25, 2007

setiap ilmu pengetahuan pasti memiliki kepentingan, walau kepentingannya adalah untuk imu pengetahuan itu sendiri. ketidakberpihakan adalah keberpihakan itu sendiri. setiap keberpihakan bersandar pada kepentingan.

ketika itu sudah sampai, maka pada kepentingan apa saja ilmu pengetahuan berpihak. habermas menyebut tiga kepentingan yg besar pengaruhnya, dan semuanya tertanam kuat dalam dasar2 budaya dan sejarah manusia, yaitu kepentingan yg bersifat teknis, praktis dan emansipatoris.

memperjuangkan hak-hak buruh adalah kepentingan yg bersifat teknis, praktis.
sedangkan membangun gerakan buruh adalah kepentingan yg bersifat emansipatoris. buruh dan gerakan buruh, memiliki kepentingan dan kebutuhan yg berbeda, namun dua hal ini harus di bangun secara bersamaan. kepentingan/kebutuhan buruh yg bersifat perut, sering dilupakan oleh aktifis NGO yg persoalan perutnya sudah mapan, mereka gembar-gembor soal kesadaran politik, ideologi, demokrasi, sedang buruhnya 3 bulan belum digaji, anaknya belum bayar spp, gimana mau masuk…? rasional itu yah harus praktis…! aaarrggh, karena disatu sisi kita juga dituntut berpikir visioner dan merancang strategi perlawanan jangka panjang.

pengetahuan yg mengandung kepentingan, adalah subjektifitas dari persoalan2 yg terwujud secara objektif dalam mempertahankan hidup. otak ini prasaratnya harus berpihak dulu kepada rakyat, baru membangun perlawanan untuk melawan objektifitas universal, bahwa yg bermodal lah yg menindas. objektifitas, bahwa penindasan itu manusiawi.