Sisi Lain

Juli 2, 2009

Sisi Lain

Untuk Tunk dan Almarhum

Ia duduk di sisi, diam-diam waktu mencuri, apa yang ia rengkuh dalam hati, dalam diam, dalam sakit dan sepi. Ia tetap duduk di sisi, sisi paling runcing paling sisi. Di setiap sisi ia duduk. Menunggu tanpa pernah menjawab, ia berpijak di sisi, di setiap sisi ia berpijak. Diam-diam waktu mencuri.

Laki-laki itu duduk di sisi, merokok puntung abadi, menghisap setiap asap, menghembus segala-galanya. Laki-laki dan sisi, renta dan sepi. Ia mengharap apa? Ia tak pernah menjawab. Ia teguh menelan pil sehari dua kali, pil yang ia simpan di saku paling dalam, ”seumur hidupmu jangan pernah berhenti”, demi apa yang ingin kau saksikan, dari perjudianmu dengan hidup dari hembus nafas paling ganjil. ”telan pilmu, biar gila, engkau harus hidup!”, perjudian yang sama sekali tidak adil.

Aku sisi, dari segala yang terang dan kelam, duduklah dipangkuanku. Semilir rasa perih melambai, melantun, mengajak meregang sedikit demi sedikit, ia yang tertanam hidup dan bergerak dalam darah, sungguh merusak, tapi juga mengingatkan, engkau renta dan rentan, aku akan menelanmu dalam malam dan siang yang pucat. Ia duduk di sisi, diam-dam waktu mencuri.

Engkau sisi? Aku akan rebah di pangkuanmu, sambil menunggu segala yang kupunya lenyap. Jangan hina aku, sakit itu kutanggung sendiri, yang kau rasa cuma bayangannya, cuma asap, apinya yang membakarku. Engkau sisi, lindungi aku dan sakitku, dari segala yang bertanya, dari segala yang curiga, akan aku serah apapun untukmu, walau ia huruf terakhir agar kelak adikku tahu itu makamku.

Ia duduk di sisi, di setiap sisi ia ada.

”yang terserak biarlah, toh waktu akan memungut apapun dari kita”. Ia lelaki, kuyup oleh terik dan basah hujan. Malam, mengajaknya syahdu dengan kopi encer, memeluk mimpi lama yang karatan, di terminal Kiara Condong, di warung kecil yang berdiri di atas selokan. Bulan di kota, mencumbu rayu khayal lelaki yang hidupnya terus-menerus merindu, tanpa berani bertanya. Kulit dan jiwanya memucat, ia menunggu subuh, untuk kemudian ke rumah sakit, meminta obat. Siang meminta sedikit perlindungan, berjumpa teman, menghayati segala ketiba-tibaan, menghajar lagi kekecewaan.

Panas kopinya menguap sebelum subuh tiba, ”oh sayup adzan tak pernah aku serindu ini padamu”. Menghantar hangat pada lubuk yang kelu, pada rasa mual yang menyebar, malam tak kunjung pudar, segala yang kurengkuh bergetar, segala yang kulihat berpendar, pecah, antara cahaya dan kelam. Lalu mendahului adzan, ada suara memanggil dari ibu, dan perempuan penuh ikhlas itu. ”rinduilah maut, siapkan segenap dirimu, syukur dan doa”. Sisi-sisi menguap, ia tenggelam dalam damai.

”Ini bukan saatmu”, kata itu di susul suara adzan, dan riang knalpot setengah ngantuk, bersemangat mengarungi jalanan yang segera sesak sepenuhnya. Ada yang mendorongnya dari lautan tengah. Kini ia mulai yakin, ada yang harus tetap dilalui sambil menunggu. Di bayarnya kopi dengan senyuman, lalu berjalan sambil menahan mual. Sisi itu muncul lagi, semakin runcing dari hari-hari kemarin.

Aspal masih basah, alam menyebar isyarat, menunjukan padaku asalku, apabila pasar asalku, kembalikan aku menjadi sayur mayur, apabila sungai itu asalku, kembalikan aku menjadi ikan, atau apabila sampah asalku, kembalikan aku menjadi? Jangan, jangan biarkan sampah asalku, ibuku bulan, bapakku matahari, hidup dan likunya yang membuatmu menyelinap, salahku atau salah masyarakatku? Engkau ada karena peralihan zaman, dulupun ada kolera, dimana pengidapnya menjadi kaum yang tak di kenal. Cuaca, musim, dan setetes lupa, tak ayal menyeret mereka ke gerbong kereta, diangkut ke sebuah ladang yang luas dengan pagar kawat listrik, lalu bensin, lalu api, lalu kau bunuh penyakit itu bersama merekanya. Atau pernah kudengar, sebuah desa dibakar, namanya dihapus dari silsilah manusia, bahkan dari silsilah mahluk hidup. Hanya dijadikan bentuk biologis tak berjenis.

Bukan kami yang memilih, bukan juga kalian yang memilih. Cuaca, musim, dan setetes lupa yang memilihkannya untukku. Tapi biarlah, kalian boleh marah padaku, tapi kumohon jangan bersedih untukku, jangan!. Sampai di rumah sakit, antrian kami pengemis obat, pada tuan negara, seperti lukisan saja, terimakasih. Sarapan tiga bakwan, secangkir teh manis, aku berjalan ke rumah cemara, dimana kita riang bersama dalam musim yang semi selalu, sinar matahari yang hangat, menghantar kawan yang pergi satu persatu.

Siang temannya pergi, dipenghujung pintu pernikahan, menitipkan huruf terakhir, yang harus ia selipkan pada nama di nisannya, ”selamat jalan kawan terbaik…”. Lalu ia rebah lagi di sisi, menunggu.

Semarang, 3 Juli 2009

Abu Mufakhir