Dulu

Juni 24, 2009

Abah bermain catur sendiri,
Bermain-main dengan waktu

Rasanya baru kemarin, kulihat Abah melukis gerhana
dengan crayon ala anak TK
Ia yang senja, kembali subuh…
lukisan itu masih ada, menggantung dingin di samping meja makan

Rasanya baru kemarin,
Ia membelikanku wafer bergambar superman, dari koperasi kantor,
coklatnya harum potong gaji,
tapi dulu mana aku mengerti…

Aku dihubungkan ke masalalu
oleh rumah dan pohon jambu
rindu bak pelangi
warna-warni
sekaligus merdu merayu
tapi hening
tapi aneh
tapi apa?

Aku rindu dulu
Lebaran yang meriah
Abah membelikanku baju baru, merknya ‘Hammer’
Aku rindu dulu,
Dipaksa memegang ayam, menghadapkannya ke kiblat, lalu disembelih
Aku rindu dulu,
ketika dipilihkannya aku kacamata
malam diajarinya sejarah atau matematika

Pesannya padaku:
Pelajarilah apapun, tapi jangan sastra!

Ah, aku tersenyum lagi,
oleh masalalu

Abu
Anyar, 29 Mei 2009

One Response to “Dulu”

  1. qo2m Says:

    masa kecil adalah masa yang terindah, kita selalu memandang sesuatu dari kaca mata pandang kepolosan mata yang begitu jernih tanpa tendensi atau kepentingan apapun dan ayah ibu adalah sosok yang memenuhi imaji masa kecil kita

Leave a Reply