Moonwalk
Juni 29, 2009
Moonwalk
Industri Musik dan (bayangan saya soal)Transendensi Seorang Jacko
Abu Mufakhir
There’s a place in your heart, and I know that it is love
And this place could be much brighter than tomorrow
And if you really try, you’ll find there’s no need to cry
In this place you’ll feel, there’s no hurt or sorrow
(Heal The World, Michael Jackson)
Michael Jackson adalah ‘King of Pop’, legenda dari dunia musik yang menyatu dengan bisnis, yang kemudian dikenali sebagai industri musik. Jacko lahir di Gary, Indiana, Amerika, 29 Agustus lima puluh tahun yang lalu. Kematiannya menjadi berita yang segera tersebar ke seluruh dunia, bahkan seperti dikatakan oleh wartawan Kompas, Bre Redana, “melindas berita lain, dari politik sampai berita apapun” (Kompas, Sabtu 27/06/09). Pada ujung usianya Jacko dalam keadaan yang apabila disimpulkan dari segala pemberitaan media massa mirip dengan ‘menyedihkan’, ia diterpa sakit, dakwaan pelecehan seksual, dililit hutang, dan mungkin saja ia menanggung sebuah mimpi yang belum tuntas.
Pada era ini, tidak mungkin ada selebritis besar yang tidak lahir dari bidannya yang terbaik, media massa. Media menjadikan seseorang -lebih tepatnya mendefinisikan seseorang, dan kemudian meredefiniskannya- mengalihkan perhatian orang pada dirinya, yang semuanya lekat oleh dan karena bisnis. Jacko, bakat, suara, gaya dan segala dirinya, dipoles oleh media, didistribusikan, dibesarkan, dan jadilah legenda. Jacko sempat menjadi pusat ketika masa jayanya, jutaan orang merujuk kearahnya, musik barat, dimana ada jiwa ‘bebas’ yang berjalan di atas bulan.
Jacko menjadi ‘icon’ oleh segala karya dan gayanya, segala kontroversi hidupnya, dan tentu saja oleh dorongan publikasi media massa. Dan ketika publikasi itu menyurut, karirnya semakin terpuruk. Industri musik dan media mengolah semua yang alami dan kerja kerasnya, menjadi lebih artistik dan ‘menjual’, sehingga terciptalah kekaguman massal jutaan manusia, sebuah industrialisasi kebudayaan massa. Dan Jacko menjadi besar seiring dengan industri musik yang kian pintar dalam menangkap dan memproduksi selera zaman dari seorang Michael Jackson.
Spiritualitas di Penghujung
Dari situasi di luar kendali Jacko sendiri, dan segala kemasyhurannya, saya kemudian membayangkan, ketika di ujung usianya, Jacko sedang duduk-duduk sendiri di rumahnya yang berdiri megah di kawasan yang ia namai Neverland, dimana setiap orang di situ menolak untuk dewasa. Matahari sore berkilauan dalam kemegahannya. Udara kering dan tenang, sementara Jacko merasa sangat kesepian, ia merasa telah begitu menjauh dan dijauhi oleh media. Namun ketika itulah Jacko menghayati lagi segala perjalanan hidupnya sampai ia kemudian menjadi legenda, dan ia hanya menyisakan satu mimpi lagi: konser di bulan Juli.
Jacko sedang merasakan dirinya sendiri, sedang menyusun musik halus dalam diam. Menciptakan ruang kecil, dimana dirinya bisa merasa lebih baik. Ia sedang terlibat dengan segala perjalanan musiknya, menjelajahinya kembali sebagai harmoni yang lebih dalam, yang hanya ia rasakan, sebuah interaksi untuk dirinya sendiri, sebuah konser pribadi. Ia sedang menikmati segala unsur dalam musik yang ia ciptakan, ia ingat-ingat lagi lirik dalam lagu yang ia nyanyikan, tapi dalam situasi yang sangat sederhana, bukan dalam sebuah konser yang megah dan riuh dengan sorak-sorai penonton. Dan tiba-tiba saja, segala ironi mengepungnya dalam kesunyian yang menakutkan. Ia sedang mengingat lagunya, “Heal The World”, dimana sebuah dunia yang lebih baik sedang diharapkan, sedang diperjuangkan untuk dibangun di atas semangat yang tak pernah padam. Mengingat lagu itu ia-pun merinding, ia merasa dunia dan industri musik, juga segala ketenarannya membuatnya kini sangat tersudut.
Kemudian ia beranjak pada salah lagu yang membuatnya sangat besar “You Are Not Alone”, yang ditulis oleh R. Kelly, dan kemudian ia dengan sangat keras meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang sendiri, ia tidak sedang hidup dalam dunia yang dingin. Bahwa ada seseorang yang terus setia menemaninya, seseorang yang terus hidup dalam hatinya.
You are not alone
I am here with you
Though you’re far away
I am here to stay
(You Are Not Alone, Michael Jackson)
Antara konser bulan Juli dan segala perjalanan hidup yang telah ia lalui, Jacko sedang meresapi dua hal tersebut dalam bayangan saya pada masa-masa di penghujung usianya, ia sedang membaur dengan segala yang metafor dan nyata. Ia sama-sama letih menahan sakit dan kebesarannya. Perjalanan spiritual, biasanya hinggap pada akhir-akhir usia, dan saya yakin Jacko mengalami itu, sebuah kisah transenden penuh warna yang ironis, namun akhirnya dengan segala keterbukaan ia menyadari dengan sepenuhnya, ia hanyalah seorang manusia biasa, yang kemudian sangat terbebani dengan segala tuntutan waktu, dan kepuasaan dari sekitarnya. Ia sedang merindukan keheningan, dimana segala kebesarannya menguap dalam sebuah proses introspeksi yang lepas dan bebas, ia sedang menciptakan ruang kecil di sudut jiwanya, dimana semuanya menjadi lebih baik.
Selamat Jalan Jacko. Kematianmu membuat, Heal The World, sebuah lagu yang mengajarkan kasih sesama manusia kembali lebih sering terdengar di seluruh dunia. Dan sesungguhnya konser itu sedang berjalan lebih cepat dari bulan Juli.
Dulu
Juni 24, 2009
Abah bermain catur sendiri,
Bermain-main dengan waktu
Rasanya baru kemarin, kulihat Abah melukis gerhana
dengan crayon ala anak TK
Ia yang senja, kembali subuh…
lukisan itu masih ada, menggantung dingin di samping meja makan
Rasanya baru kemarin,
Ia membelikanku wafer bergambar superman, dari koperasi kantor,
coklatnya harum potong gaji,
tapi dulu mana aku mengerti…
Aku dihubungkan ke masalalu
oleh rumah dan pohon jambu
rindu bak pelangi
warna-warni
sekaligus merdu merayu
tapi hening
tapi aneh
tapi apa?
Aku rindu dulu
Lebaran yang meriah
Abah membelikanku baju baru, merknya ‘Hammer’
Aku rindu dulu,
Dipaksa memegang ayam, menghadapkannya ke kiblat, lalu disembelih
Aku rindu dulu,
ketika dipilihkannya aku kacamata
malam diajarinya sejarah atau matematika
Pesannya padaku:
Pelajarilah apapun, tapi jangan sastra!
Ah, aku tersenyum lagi,
oleh masalalu
Abu
Anyar, 29 Mei 2009
Perempuan di dalam mobil mewah
Juni 24, 2009
Perempuan di dalam mobil mewah
Beribu tahun yang lalu
Rasanya kita pernah bertemu,
pada zaman batu
di suatu gua, di gunung purba
Rumah mentari dan pelangi
Aku ingat,
Kita telah dinikahkan matahari
Sebagai anak langit
Matamu biru, walau tak biru, tetap saja kunilai biru
Seperti laut
Luas dan dalam
Nafasmu angin
perlahan melembab
di ruang yang gelap,
tanpa matahari, tanpa langit
Sempurnalah bersamaku,
menjadi lumut
di sumur terdalam
dimana maut tak berani datang, sampai kapanpun
Lalu beranaklah
Serigala atau Malaikat
Susui mereka dengar air hujan
Kelak ketika mereka dewasa dan menjadi manusia
Lepaskan ke dunia, rimba belantara, hempaskan mereka ke sekolah
Perempuan, engkau belajar asmara dari jalanan
Jadilah ibu,
Jadilah ibu,
Jadilah ibu,
Seperti beribu tahun yang lalu
Seperti kasih dari batu
Abu
Anyar, 29 Mei 2009