Temon
Mei 5, 2009
Rin-rin Migristine
Abu
Saya mengenalnya di satu milist, dunia maya. Ketika tulisannya tertangkap mata lalu berkelindan di kepala. Hingga kemudian kami makin sering bertukar cerita, seperti sepasang penganggur yang mengolah harap.
Awalnya dia bernama Temon.
Perlahan kami saling mengenal, sambil merajuk ke dalam diri agar bisa menonton adegan kesepian menari dalam drama bisu tentang hidup yang tak diinginkan. Dan kami berhasil, kami di izinkan. Tapi inilah, kami tetap saja tak mengerti, bagaimana membuat kesepian itu tuntas dan selesai, padahal ia sudah capai menari, melenggak-lenggok di ruang hampa yang lurus nyaris tak bertepi, kecuali berhenti hidup karena mati.
Kemudian ku kenal ia sebagai Rin-rin Migristine.
Ajaknya: “mari kita bermain dengan masalalu, mari, saya ajak kamu menemui aki (kakek) yang sedang mendongeng tentang apa arti namamu”. Dan ia kurasa masuk terlalu dalam pada kenangan. Menguntit masalalu satu persatu dengan pertanyaan yang sama, “kapan saya mati?”. Bertanya pada jejak lahir soal maut. Bertanya pulang pada awal kepergian adalah hal yang rupanya akan banyak sia-sia. Tapi alangkah muluk manusia yang juga berkata, “jalani saja hidupmu”, karena bukankah menjalani ‘ini’ sama halnya dengan menunggu ‘itu’, ada hal yang selalu ingin kita capai tho, dan apa salahnya jika itu adalah maut. Dan jelas Rin-rin tak segagah Chairil yang berteriak “sekali berarti setelah itu mati”. Rin-rin lebih memilih lemas sambil menghayati ke dalam maut sendiri, mengenal wajahnya dengan baik agar ketika ia datang, tegur sapa dengan maut berjalan ringan.
Ia ingin hidup sesingkat mungkin.
Ia merindu. Merindu maut yang jelang akan mempertemukannya dengan kebahagiaan itu. Ia pesolek jiwa, ia penari sepi, ia adalah senandung kala hati saya ingin mendengar irama yang mengajak untuk ikhlas. Ia adalah keinginan yang berubah menjadi diam dalam makna yang lebih dari keinginan itu sendiri. Ia melampaui apa itu pasrah dan tabah. Sungguh ia melampaui bentuk ikhtiar apapun, ia melampaui itu dengan cinta.
Ia tak peduli, walau hidup adalah sketsa harap yang acak-acakan.
Sedikit saja kita bergeser, sedikit, tapi ke arah yang benar, ke arah dimana harap untukku kuserahkan untukmu. Inilah sesenti nafas yang berarti, karena ia dipersembahkan bagi si polan yang di ujung sekarat baru saja ingat ada dzat yang disebut Tuhan. Dan untuk itu kau perlu dididik oleh derita berkepanjangan, oleh sekarat berkali-kali tak tuntas, oleh detik ketika hidup dan mati berada di antaranya. Itulah yang Rin-rin ajarkan padaku. Pada semua yang ingin mengolah derita menjadi makna.
Darah di cuci.
Ya, kita tak tahu kapan itu sekarat datang, bisa ia adalah kini, ketika saya menulis ini, tak ada yang tahu kapan urat halus ini putus. Sekarat tak selalu sakit keras dan nafas yang lepas ditangkap, lepas ditangkap, dan semakin lepas tak tertangkap sampai akhirnya ia lari bebas dari tubuh. Sekarat bisa saja ketika kau sedang di dalam angkot, di dalam bioskop, di dalam perpustakaan, di dalam diskotik, di malam pertama- justru ketika kita sehat-sehatnya. Bisa saja…
Darah di cuci, agar ia bisa kembali mengenali kawannya yang tak sepadu. Memisahkannya dan membukakan jalannya untuk keluar dari tubuh. Tapi darah di cuci adalah persoalan jiwa yang serius, ia bukan hanya soal hemoglobin yang drop. Tapi soal jiwa yang mengalami ancaman serius, ancaman itu adalah harapan yang drop. Tapi baginya cuci darah adalah sebuah tugas, menghimpun kembali bekal untuk membekali hidup yang lain. Karena ia tak mau dibungkam oleh sakit yang selalu. Ia bergerak- bersembunyi dari letih, dan apa gerangan yang membuat ia bergerak? Jawabnya adalah, darah itu sendiri!
“Demi darah yang dibanderol”, Ujar Rin2 ketika itu.
Rin-rin, kau adalah jalan perbaikan yang rendah hati. Kau adalah perubahan yang merayu. Bukan ocehan yang hanya bagus untuk orasi. Kau berkelindan dari hati ke hati, memompa darah agar segar dan sejuk selalu.
Dan Minggu pagi kemarin, jam setengah enam, saya terbangun karena mendapat telpon dari Herman, dia memberitahu Rin-rin meninggal. Saya diam, lalu bayangan Rin-rin melintas, keramahannya, kebaikannya, senyumnya, pengorbanan dan perjuangannya, semuanya. Beberapa saat kemudian saya berpikir Rin-rin terbebaskan dari rasa sakit bertahun-tahun itu, cuci darah, dan ia bertemu dengan sesuatu yang ia rindukan, maut- karenanya saya tersenyum, walau tetap saja saya heran, kenapa saya tak menangis ketika itu? Saya hanya merasa beruntung, pada akhir-akhir waktu saya diberi kesempatan untuk sering menginap di rumahnya, walau ketika sakitnya mulai parah dan ia kemudian meninggal, tak sekalipun saya sempat menjenguk.
Kini,
Rin dengar ya, kau pernah menyimpan doa dalam riak kata-kata itu, lambat laun ia akan menjadi gelombang, dan ini bukan soal sepi, tapi soal bagaimana hidup yang tak sia-sia. Dan Abu tahu, adik-adikmu: de Ita dan de Uki- paham sekali soal itu!
Terimkasih Rin, selamat berpulang ke Rahmatullah..
Bogor, 28 Okotober 2008 di gubah pada 05 Mei 2009, Depok