Cinta

November 19, 2008

Cinta

Abu

Kau, aku lihat kau semakin ke sudut, semakin menyempit dengan pertanyaan yang justru mengurungmu. Pertanyaan itu bukan kemustahilan yang akan terus kau raih sambil menggugah diri sendiri agar tetap percaya bahwa yang tak terhingga bisa di raih lewat segala keterbatasan. Tapi pertanyaanmu adalah ihwal rasa takut, dan rasa takut tak mungkin membuat yang mustahil jadi bermakna melebih kepastian.

Kau tak bisa begitu saja kemudian mengelak, dengan sekedarnya mengatakan ‘kita butuh rasa takut ini’- seandainya. Karena ini bicara soal ketulusan yang terengap-engap hampir tenggelam di sungai yang kotor, di aliran air yang membawa wabah menyebar ke selip-selip keresahan kota. Ini soal banjirnya ketidakpercayaan. Dan hujannya adalah rasa takut. Maka cinta tak bisa kau raih seandainya begitu.

Karena sungguh cinta itu ada di depan, di belakang itu kenangan- potret cinta dengan wajah yang setengah muram setengah senyum. Cinta ada depan! di depan, menunggu kita sampai kesana, dan cinta itu sendiri adalah persimpangan yang banyak ruasnya tergantung sejauh mana akal kita mencerna cinta, buatlah ia hanya satu ruas. Dan untuk bisa melakukannya, hadirkan hatimu, hapus ruas yang lain dengan keyakinan. Tapi kembali lagi, apa keyakinan bisa tumbuh dalam ketakutan macam itu.

Lalu mau kau apakan pertanyaan itu?

Kau tujukan pada setiap orang yang kau inginkan, salah satunya adalah aku. Apa itu maumu? Atau pertanyaan itu hanya hadir ketika kau merasa ada yang menuduhmu tak mengerti apa itu cinta, lalu kau ancam penuduh itu dengan pertanyaan itu.

Maka aku hanya ingin mengigau, ketika siang ini terik, mengigau tentang dongeng yang tak pernah kudengar, dongeng tentang sesuatu yang sesederhana bibir, lidah, ludah, dan hasrat, ketika perciuman abab ke abad dimulai saat dunia berputar dalam kasih sayang. Gairah sepasang pengantin tanpa resepsi pada percumbuan pertama, ketika rasa takut berlomba dengan keinginan yang gila.

Maka saat dongeng itu mengalir, bayang-bayangmu soal cinta dalam wujudnya yang paling konkret: nafsu- akan hadir, seperti rol film yang berputar tak ‘pede’ karena sekian lama tak diakui.

Tapi inipun bukan hanya soal nafsu semata, ini soal bagaimana kasih sayang berusaha diwujudkan, seperti ketika kau bersedia dihamili seorang budak yang kau cintai sepenuhnya. Ketika kau melepas segala benda itu, hadir telanjang dengan lucu dan bersiap untuk suatu pengarungan yang sementara dan hanyut dalam keabadian.

Jadilah cinta sebagai kontradiksi, seperti kembali melihat esensi yang diobrak-abrik rutinitas. Kita kehilangan dilema, kita kehilangan rasa serbasalah, dan yang muncul hanya perhitungan-perhitungan rigid, dengan konsep yang tunggal- kapitalisme model. Maka kitapun merindukan cinta dalam bentuknya yang serba takpasti, serba beresiko, serbasalah. Dan ketika itu, sosoknya akan lahir, sosok siapapun dimana cintamu ditambatkan. Sosok seorang lelaki yang kau begitu harap mampu dipadukan dengan serasi ketika mengayuh gairah di atas ranjang percumbuan, yang selalu kau harapkan sebagai percumbu pertama namun rasanya lebih sempurna!.

Maka kitapun jatuh cinta lagi.

Entah untuk yang keberapa kali, entah orang keberapa, juga entah berapa keinginan muncul dengan kecepatan yang melebihi rasa takut, maka kita telah sama-sama hadir dalam ketidakpastian yang menyenangkan. Dan dongeng yang tak pernah kudengar itupun bersambung, menuju fragmen yang bisa saja tak pernah sama-sama kita duga. Tapi walaupun kita benar-benar tak akan pernah memastikan, ciumku lewat bulan kupastikan tembus ke jendela kamarmu lalu hinggap di pipi sebelah kanan. Maka kini, tinggal kudambakan pipi kirimu, lewat suatu pertemuan yang akan menjawab pertanyaan itu pelan-pelan.

Kober, 14-15 November 2008

5 Responses to “Cinta”

  1. Noni Says:

    jawab dulu pertanyaan tentang cinta yang sederhana

    dimana cintaku ?

    di bogor ?
    di rel kereta ?
    di kamar kost ?
    di dunia maya internet ?

    atau di mana ?

    ketika kau jentikkan abu rokok dan menggumam kata cinta
    mata mu berbinar dan berbincang tentang panasnya hidup di ibu kota
    yang kau legakan dengan tenggakan teh botol
    dengan sejumput tembakau dibibir

    dan bergumam,
    cinta adalah hiburku

    namun kau benar
    entah mengapa kau benar
    walau tidak semua kau benar
    namun ada kau benar

  2. arga Says:

    Abu masih seperti dulu alias masih absurd ha…ha…ha,,,,

  3. Noni Says:

    terkadang di celah absurd ada logika
    itu lah abu

    coba lah berbincang dengannya
    dan kamu akan mengenal abu yang berbeda

    dia setia kawan lho

    hehe….
    hidup abu !!! (ehem, hidup saya juga, nebeng ya)

    merdeka !!!

  4. aing Says:

    kumaha sia jing.. aing males maca

  5. abu mufakhir Says:

    dado…
    arga…
    kumaha leweung?

Leave a Reply