Cinta
November 19, 2008
Cinta
Abu
Kau, aku lihat kau semakin ke sudut, semakin menyempit dengan pertanyaan yang justru mengurungmu. Pertanyaan itu bukan kemustahilan yang akan terus kau raih sambil menggugah diri sendiri agar tetap percaya bahwa yang tak terhingga bisa di raih lewat segala keterbatasan. Tapi pertanyaanmu adalah ihwal rasa takut, dan rasa takut tak mungkin membuat yang mustahil jadi bermakna melebih kepastian.
Kau tak bisa begitu saja kemudian mengelak, dengan sekedarnya mengatakan ‘kita butuh rasa takut ini’- seandainya. Karena ini bicara soal ketulusan yang terengap-engap hampir tenggelam di sungai yang kotor, di aliran air yang membawa wabah menyebar ke selip-selip keresahan kota. Ini soal banjirnya ketidakpercayaan. Dan hujannya adalah rasa takut. Maka cinta tak bisa kau raih seandainya begitu.
Karena sungguh cinta itu ada di depan, di belakang itu kenangan- potret cinta dengan wajah yang setengah muram setengah senyum. Cinta ada depan! di depan, menunggu kita sampai kesana, dan cinta itu sendiri adalah persimpangan yang banyak ruasnya tergantung sejauh mana akal kita mencerna cinta, buatlah ia hanya satu ruas. Dan untuk bisa melakukannya, hadirkan hatimu, hapus ruas yang lain dengan keyakinan. Tapi kembali lagi, apa keyakinan bisa tumbuh dalam ketakutan macam itu.
Lalu mau kau apakan pertanyaan itu?
Kau tujukan pada setiap orang yang kau inginkan, salah satunya adalah aku. Apa itu maumu? Atau pertanyaan itu hanya hadir ketika kau merasa ada yang menuduhmu tak mengerti apa itu cinta, lalu kau ancam penuduh itu dengan pertanyaan itu.
Maka aku hanya ingin mengigau, ketika siang ini terik, mengigau tentang dongeng yang tak pernah kudengar, dongeng tentang sesuatu yang sesederhana bibir, lidah, ludah, dan hasrat, ketika perciuman abab ke abad dimulai saat dunia berputar dalam kasih sayang. Gairah sepasang pengantin tanpa resepsi pada percumbuan pertama, ketika rasa takut berlomba dengan keinginan yang gila.
Maka saat dongeng itu mengalir, bayang-bayangmu soal cinta dalam wujudnya yang paling konkret: nafsu- akan hadir, seperti rol film yang berputar tak ‘pede’ karena sekian lama tak diakui.
Tapi inipun bukan hanya soal nafsu semata, ini soal bagaimana kasih sayang berusaha diwujudkan, seperti ketika kau bersedia dihamili seorang budak yang kau cintai sepenuhnya. Ketika kau melepas segala benda itu, hadir telanjang dengan lucu dan bersiap untuk suatu pengarungan yang sementara dan hanyut dalam keabadian.
Jadilah cinta sebagai kontradiksi, seperti kembali melihat esensi yang diobrak-abrik rutinitas. Kita kehilangan dilema, kita kehilangan rasa serbasalah, dan yang muncul hanya perhitungan-perhitungan rigid, dengan konsep yang tunggal- kapitalisme model. Maka kitapun merindukan cinta dalam bentuknya yang serba takpasti, serba beresiko, serbasalah. Dan ketika itu, sosoknya akan lahir, sosok siapapun dimana cintamu ditambatkan. Sosok seorang lelaki yang kau begitu harap mampu dipadukan dengan serasi ketika mengayuh gairah di atas ranjang percumbuan, yang selalu kau harapkan sebagai percumbu pertama namun rasanya lebih sempurna!.
Maka kitapun jatuh cinta lagi.
Entah untuk yang keberapa kali, entah orang keberapa, juga entah berapa keinginan muncul dengan kecepatan yang melebihi rasa takut, maka kita telah sama-sama hadir dalam ketidakpastian yang menyenangkan. Dan dongeng yang tak pernah kudengar itupun bersambung, menuju fragmen yang bisa saja tak pernah sama-sama kita duga. Tapi walaupun kita benar-benar tak akan pernah memastikan, ciumku lewat bulan kupastikan tembus ke jendela kamarmu lalu hinggap di pipi sebelah kanan. Maka kini, tinggal kudambakan pipi kirimu, lewat suatu pertemuan yang akan menjawab pertanyaan itu pelan-pelan.
Kober, 14-15 November 2008
Nuning
.
Dia menghampiriku di situ
Di sudut rel kereta api yang remang
Usianya 18 tahun dan
senyumnya mengajak lelaki menjadi lelaki
Tapi aku lelah dan kamipun merokok berdua
Hingga kami saling bercerita
.
Tentang kota ini
Dan mulut-mulut lelaki bau alkohol
Tentang adiknya di kampung
Tentang aku yang baru saja di PHK
Lalu kami jalan-jalan dalam gelap
Masuk ke dalam gerbong kereta setelah lompat pagar berkawat
Ada tikus lewat dan dia melompat
.
Kami kepergok keamanan
Digiring ke kantor
Ditelanjangi
Ditendang
Diludahi
Dibawa ke kantor polisi dan menginap sehari
Besoknya Nuning gila
.
Abu
Bogor, 15 Oktober 2008
Tua-tua Keladi
November 19, 2008
Ada berapa mantan jenderal bikin partai?
Tiga, empat atau lima?
.
Ada penculik bicara hati nurani
Bicara petani
yang tanahnya direbut pengusaha yang dibantu tentara
.
Ada berapa mantan jenderal bikin partai?
Lima?
Bukan, empat!
Atau tiga, saya lupa…
.
Tapi saya masih ingat
Bagaimana Semanggi
Bagaimana Priok
Bagaimana Koramil seram sekali
Atau bagaimana Wiji Thukul hilang sampai sekarang
.
Memang kenapa kalau mantan jenderal bikin partai?
Memang kenapa kalau mantan jenderal jadi presiden?
Mantan jenderal tegas dan berwibawa
Mantan jenderal tahu bagaimana jadi pemimpin
Mantan jenderal juga galak
Galak sama kita-kita
Takut sama Amerika
.
Ada berapa mantan jenderal bikin partai?
Tua-tua keladi…
Kepingin jadi presiden
.
Bogor, 15 Okober 2008
.
Namanya Prayitno
Sudah sepuluh tahun tak pulang kampung
“Aku rindu ibuku mas dan ingin ziarah ke makam bapak” katanya,
ketika mau minjam uang untuk mudik
ke perkampungan transmigrasi di kalimantan
.
Prayitno usianya 26 tahun
Di Jakarta dua kali masuk penjara
Pertama karena berkelahi sama anak polisi
Kedua karena memukuli tramtib
.
Prayitno dikenal berani
Tapi sopan sekali
Ia bekerja jadi tukang gali sumur
Ikut kerabatnya dari kampung
.
Galian sumur lagi sepi
Lebaran sebentar lagi
Aku tak dapat THR ternyata
Order sepi katanya
Janjiku kandas
Prayitno dan aku sama-sama lemas
.
Dua hari mau lebaran Prayitno datang
Kasih uang
Katanya menang togel
Alhamdulillah..
.
Abu di Bogor, 15 Oktober 2008
Bunyi Sirine
November 19, 2008
Bunyi sirine!
.
Becak berlarian kesana kemari
Ada yang masuk got
Ada yang nabrak angkot
Ada yang harakiri nabrak mobil tramtib
Ada yang diam saja sambil berdoa
Ada yang berteriak
Ada yang panas
Semuanya sia-sia
.
Becak-becak dianggap rongsokan
Dinaikan ke truk kuning pengangkut sampah
Sebagian dihancurkan, dikilo jadi besi ke penampungan
Sebagian dijual utuh ke kota lain
.
Tapi kami ajaib
Kemarin tukang becak
Hari ini tukang parkir, tukang pikul, tukang pukul, tukang cukur,…
Kami butuh makan
Siapa butuh ketertiban tapi lapar?
.
Bogor, 15 Oktober 2008
Kenapa pertanyaannya gak nyambung?
November 17, 2008
Kenapa di Negara Totaliter dengan sistem satu partai ada Pemilu? Mendapatkan pertanyaan ini dari teman saya sebagai tugas kuliah[1]- karena saya tidak ikut kelas minggu kemarin- saya jadi bingung, karena di Negara Totaliter dengan sistem satu partai mana yang ada Pemilu?
Totalitarianisme klasik (Nazi-Hitler dan Sovyet-Stalin)[2] terutama ditandai, yakni, oleh satu kenyataan bahwa hanya ada satu partai, yang, legitimasinya tidak melalui pemilu. Aspirasi rakyat tidak diterima sebagai kontrol kekuasaan. Karena itu kemudian saya bingung dengan pertanyaan: Kenapa di Negara Totaliter dengan sistem satu partai ada Pemilu?
Kemudian, yang saya khawatirkan adalah, ada perspektif yang berbeda ketika melihat Totalitarianisme, ini hanya pengandaian. Di satu sisi ada yang kemudian menyamakan antara Totalitarianisme dengan Negara komunisme- hanya dengan melihat kenyataan adanya satu partai yang berkuasa, atau satu partai yang paling dominan. Soal samanya sistem satu partai menurut saya tidak kemudian membuat komunisme menjadi sama dengan totalitarianisme. Komunisme bercita-cita terwujudnya masyarakat tanpa kelas, sedang totalitarianisme adalah kebalikan dari sistem demokratis dimana kekuasaan yang ada sama sekali tidak mengakui adanya partisipasi rakyat.
Seandainya, Negara totalitarianisme yang dimaksud merujuk ke Cina. Cina adalah Negara kategori komunis dengan penyesuaian ideologi politik nasional Maoist. Salah satu ciri pokok dari sistem politik komunisme adalah, ia selalu memiliki corak lokalitasnya yang dominan, hal ini akibat dari model hambatannya berbeda, seperti model feodalisme di satu Negara dengan Negara lain sangat memungkinkan berbeda untuk kemudian dijawab oleh komunisme. Karenanya kemudian Orientasi Partai Komunisme di Cina berbeda dengan komunisme di Indonesia (yang diterapkan PKI) pada masanya, di Cina muncul Maoist[3]. Walaupun dalam berjejaringan partai komunis memiliki jejaring internasional.
Setahu saya, pemilu yang dilakukan di Cina tujuannya sebatas untuk melakukan pemilihan atas pengurus partai, yang kemudian akan duduk di dewan rakyat. Bukan seperti pemilu di Negara demokrasi liberal pada umumnya. Namun apa yang dijalankan Cina tidak bisa serta merta kita katakan sebagai sesuatu yang tidak demokratis dengan kata lain totalitarianisme, tentu saja dengan banyak argumentasi. Salah satunya dalam buku yang ditulis Mao, “Kontradiksi”, dimana di situ kita bisa melihat secara umum, bahwa cara berpikir kontradiksi yang dianut Maoist Cina apabila dijadikan basis fundamental, akan membuat dinamika reformasi memiliki denyut yang berarti ditataran rakyat, karenanya akan terhindar dari perubahan yang bersifat tambal sulam, institusional, bahkan polesan semata. Kontradiksi Mao juga jelas-jelas menolak paham doktriner pada madzhab Deborin Sovyet, sehingga proyek pokok Kontradiksi Mao salah satunya adalah menghapus cara-cara berfikir yang doktriner melalui suatu studi filsafat. Dengan melihat ini saja jelas, bahwa komunisme di Cina menolak paham doktriner yang selalu salah satunya menjadi landasan totalitarianisme, karenanya Cina bukanlah Negara totaliter hanya karena adanya satu partai dan hanya karena ia komunis.
Lalu, satu teman lagi yang berbeda mengatakan bahwa tugasnya adalah menjawab pertanyaan: Kenapa di Negara Komunis Tidak Memiliki Sistem Demokrasi Walaupun Menjalankan Pemilu?
Sebagaian jawaban sudah ditulis di atas. Dan (sekali lagi), Negara Totaliterlah yang tidak demokratis, bukan Negara komunis, itulah posisi jawaban saya. Selain itu Negara otoriter seperti di Indonesia pada masa Orba, merupakan Negara yang tidak demokratis secara nilai-nilai, walaupun demokrasi prosedural berjalan, tapi ini semua hanya manipulasi, dan partisipasi yang ada sifatnya semu, kekuasaan hanya berputar di sekelompok orang itu saja dengan memanfaatkan demokrasi prosedural: demokrasi-oligarkhis. Walaupun demokrasi dan oligarkhi adalah dua hal yang bertolakbelakang tapi inilah menjadi realitas di Indonesia pada zaman Orba, bahkan juga sampai saat ini[4].
Berbeda, jika kita melihatnya dengan menggunakan kacamata demokrasi liberal, dimana demokrasi fokus pada persoalan konstitusional-prosedural dalam menjalankan demokrasi. Jika kita melihatnya dari sisi Demokrasi Substantif (nilai-nilai) maka bisa beda lagi, Cina sebagai Negara komunis tidak bisa dikatakan tidak demokratis, hanya dilihat dari sistemnya yang menganut partai tunggal. Di luar segala perdebatan soal sistem ekonomi Cina yang banyak dinilai liberal, sistem partai tunggal, partai komunis yang menganut Maoist, dan pemilu yang diadakan (sekali lagi) secara teknis tujuannya memang untuk memilih pengurus partai yang akan duduk di dewan rakyat. Tapi proses pemilihan itu sendiri merupakan cara yang demokratis, dan calon pengurus partai itu tidak jarang memiliki platform yang berbeda, hanya saja mereka bernaung di satu wadah partai. Jadi perdebatan platform para calon pengurus partai dan hak untuk berpartisipasi yang diberikan rakyat untuk memilih calon pengurus partai yang akan duduk di dewan rakyat bisa menunjukkan sistemnya demokratis.
Yang menjadi musuh bersama dari demokrasi bukanlah rezim komunisme, tapi pemerintahan despotik, dimana munculnya kekuasaan tunggal (bukan partai) yang penuh dengan kelaliman. Sifat pemerintahan macam itulah yang oleh Montesquieu dalam The Spirit of the Laws (1949) disebut sebagai despotisme. Secara politik, ekonomi, dan militer, pemerintahan tersebut mempunyai naluri untuk menafikan peran individu (sebagai penopang utama kekuatan sebuah negara) dalam negara. Individu dalam masyarakat sepenuhnya diperlihatkan di hadapan hasrat, titah, dan kehendak sang despot (penguasa).
Lebih keras Antonia Gramsci (1971) mengungkapkan, tiadanya kekuatan yang dapat menghubungkan antara kepentingan individu dan negara telah membuat masyarakat tidak berarti apa-apa. Negara adalah segalanya dan masyarakat sipil adalah primordial dan agar-agar yang bisa diperlakukan apa saja. Sifat pemerintahan yang despotik ini bisa terjadi dalam model pemerintahan apa pun: monarki dan non monarkhi.
Hitler atau Stalin pada awalnya dipilih secara demokratis (melalui pemilu), kemudian keduanya mengalami despotik. Artinya sistem yang awalnya demokratis juga bisa menjadi despotik ketika rezim baru kemudian membatasi kontrol dari masyarakat sampai pada titik partisipasi masyarakat dianggap subversif.
Saya sadar, adanya banyak perdebatan ideologis soal beragamnya model demokrasi ini, hal itu juga diwarnai dengan munculnya tuduhan-tuduhan ideologis. Seperti demokrasi proletariat yang kemudian dituduh hanya akan berkembang menjadi diktator proletariat. Karenanya saya rasa perspektif tunggal seharusnya dihindari dalam pembahasan soal ini.
Dua informasi yang saya dapat dari teman sekelas ikhwal tugas ini jangan-jangan berbeda dengan yang dimaksud oleh pengajar. Selain itu saya juga masih sangat butuh belajar lebih banyak, oleh karenanya saya mohon maaf jika ada kesalahan maksud.
[1] Ada kemungkinan salah paham yang sangat besar, atas pertanyaan ini.
[2] Walaupun Hitler dan Stalin pada awalnya dipilih secara demokratis, tapi kemudian dia mengalami depsotik
[3] Corak komunisme di Cina berdasarkan Maoist, salah satunya bisa dilihat di buku “Kontradiksi Mao Tse Tung”, yang ditulis sendiri oleh Mao, diterjemahkan oleh Ismail, Teplok Press, tahun 2000.
[4] Lebih lengkap soal pernyataan ini bisa dilihat di hasil penelitian Demos, Jakarta, tentang demokrasi di Indonesia
Senggama Keyakinan
November 13, 2008
Senggama Keyakinan
.
hei ruang!
kau hembuskan debu,
ke hidungku lalu bersemayam di paru-paru
ke hidupku yang sesak
seperti neraka
.
hey ruang!
kau jejalkan ludahnya
ke mulutku lalu mengalir ke telinga
seperti doa
.
dan kau waktu!
gairah itu selap-selip di hidup yang penuh
hingga sampai ke liang itu
di mana semua bermuara
kulepas semua,
kulepas dan lemas
seperti hijrah yang gagal
.
Kostan Depok, 08 November 2008
Itulah Kita
November 13, 2008
Itulah Kita
.
pada celah itu,
kutu dan debu mengintip
sepasang telanjang
saling- menjilati pori-pori
ketika sajak berhenti dibaca
ketika buku kehilangan huruf-hurufnya
ketika kitab melembab di bawah ranjang
.
pada celah itu,
kutu dan debu mengintip
sepasang kelamin bertemu
dalam gairah yang gila
lalu
terhenti
terhenti dan mati
.
Kostan Depok, 08 November 2008
Noni
November 6, 2008
Noni
“abu, bahasa di munculkan untuk dimengerti, agar penggunanya saling memahami” (Noni)
Saya berkenalan dengan dia setahun setengah yang lalu, dan sampai kini belum kenal siapa dia? Kecuali imaji, soal seorang perempuan yang sanggup menghadapi apapun yang hadir sebagai ancaman. Kecuali cinta.
Saya datang menawarkan sebentuk cinta, dalam rupa ancaman yang paling sulit dimengerti, dan ia hadapi itu sejenak -sekedar menguasai rasa takutnya yang lompat dari masalalu, lalu berlari. Perempuan menghindari cinta, karena mungkin baginya itu terlalu sia-sia, atau hanya karena itu datang dari saya?
Yang pasti dia menghindarinya. Dan dia cekatan dalam hal ini, seperti seketika menjadi pelawak dan mengajak tertawa, lalu lupakan cinta. Atau seketika mencapai puncak harmoni seorang pertapa yang berkata, hasrat itu hanya sementara, mari kita mencari yang abadi. Atau seringkali dia begitu sibuk dan berkata, “cinta, itu nanti saja”.
Apakah ini gejala perempuan modern, menganggap cinta adalah persoalan yang mengancam produktifitas menjadi kendur, mengancam target karir terundur, atau bahkan mengancam eksistensinya sendiri, seperti ancaman bagi gelombang emansipasi yang sedang gencar mengalir dalam darahnya sebagai perempuan yang sadar zaman.
Saya sedang tidak mencemooh nilai kemandirian seorang perempuan, saya hanya sedang menyampaikan padanya suatu kenyataan bahwa cinta tak bisa kau hindari, karena ia seperti lembab kulitmu yang selalu kau jaga setiap hari. Dan cinta bukan kosmetik, pulasan untuk rasa percaya diri. Ia adalah gairah yang ajaib.
Dan inilah cinta yang pernah kutawarkan, suatu ancaman atas keberadaan tubuhmu yang layaknya mesin, pemujaan atas rutinitas. Cinta ini adalah ajakan untuk melihat ada yang bersembunyi muram dalam pikiran-pikiran yang selalu mampu menemukan jawaban atas persoalan yang menuntut hasil baik.
Kau layak atas pendirian itu, kuakui itu dengan sangat. Tapi dari orang yang bahasanya kau rasa sulit dimengerti ini, kuajukan sekali lagi, bahwa cinta juga bisa dijadikan dasar yang kokoh untuk kita berdiri, walau ia adalah kecamuk dalam lubuk kesadaran yang seringkali tidak jelas.
Abu Mufakhir
5 Oktober 2008
Sistem Kerja Harian Lepas: Pada Buruh Perkebunan Kelapa Sawit
November 6, 2008
Sistem Kerja Harian Lepas
Pada Buruh Perkebunan Kelapa Sawit
Dimanakah dikau Negara?
Abu Mufakhir
Ada banyak persoalan penting dalam urusan ketenagakerjaan di Indonesia yang bermuara pada kebijakan Negara yang timpang. Dua dari persoalan penting itu adalah, pertama informalisasi ketenagakerjaan yang kian meningkat dengan semakin efektifnya sistem pasar tenagakerja fleksibel, kedua buruh di sektor informal. Keduanya saling terkait, dan berdampak sama: kemiskinan bagi buruh.
Fleksibilisasi pasar tenagakerja yang menyebabkan terjadinya gelombang informalisasi, merupakan strategi yang terus dikembangkan oleh pemilik modal dalam rangka maksimalisasi keuntungan. Karena dengan hubungan kerja yang fleksibel, pemilik modal bisa mengelak dari berbagai tanggung jawab pemenuhan hak buruh yang mempengaruhi komposisi biaya ketenagakerjaan. Ada banyak bentuk dari hubungan kerja non formal yang dikembangkan pemilik modal dan salah satunya adalah buruh harian lepas yang disingkat BHL.
Apapun bentuk dari hubungan kerja non formal itu, tujuannya adalah menemukan sistem yang mampu meningkatkan keuntungan perusahaan dengan menekan upah buruh sekaligus menaikkan beban kerjanya. Prinsip mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya sekecil mungkin merupakan prinsip ekonomi kapitalis, dimana buruh hanya dipandang sebagai komoditas, merupakan bagian dari mesin produksi yang produktifitasnya dihitung melalui sejumlah target hasil dan jam kerja.
Industri Kelapa Sawit: Ladang Buruh Harian Lepas (BHL)
Industri kelapa sawit selain sebagai salah satu sektor primadona yang telah menghasilkan miliaran dolar, dan menjadi salah satu ekspor andalan Indonesia, juga merupakan ladang yang subur bagi pemilik modal untuk menanam sistem kerja buruh harian lepas, hal ini selain berdasarkan observasi lapangan, juga pada data-data yang menunjukan bahwa sektor perkebunan merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja lepas[1]. Dimana buruh harian lepas di berbagai perkebunan kelapa sawit (misal: di Sumatera Utara), sama sekali tidak mendapatkan perlindungan sosial[2]. Walaupun pemerintah sudah mengeluarkan Permenaker No. Per-03/Men/1994 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja bagi Tenaga Kerja Harian Lepas, Tenaga Kerja Borongan, dan Tenaga Kerja Kontrak. Dalam peraturan itu pengusaha wajib mengikutsertakan semua kategori tenaga kerja yang disebutkan dalam program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), namun dalam kenyataannya, jamsostek hanyalah mimpi di siang bolong bagi BHL di perkebunan kelapa sawit. Padahal BHL seringkali menjadi korban kecelakaan kerja[3]. Jika untuk kecelakaan kerja saja mereka tidak mendapatkan jaminan, apalagi untuk jaminan hari tua, jaminan kematian, dan jaminan kesehatan. Kondisi ini sungguh memprihatinkan, mengingat BHL sebagai bagian dari hubungan kerja tanpa ikatan mempunyai resiko ekonomi lebih besar dibanding buruh sektor formal.
Selain tidak adanya jaminan sosial, BHL di perkebunan kelapa sawit juga mendapatkan upah yang sangat rendah. Kondisi ini sebenarnya merupakan gambaran umum kondisi buruh perkebunan di Indonesia: mendapatkan upah rendah. Dan dalam kenyataannya, upah buruh sektor industri selalu lebih besar dari upah buruh perkebunan.
BHL di perkebunan kelapa sawit secara umum bekerja di lapangan sebagai tukang panen (memetik buah sawit), dan perawatan (meliputi: pemupukan, penyemprotan hama, pembersihan lahan, dlsbnya), jumlahnya tergantung dari luas lahan perkebunan, namun pada umumnya jumlah BHL lepas adalah setengah dari jumlah total buruh.
Jumlah penggunaan BHL oleh perusahaan perkebunan berlandaskan pada tingkat yang dapat terus menjaga keuntungan pengusaha, dan setiap BHL bekerja menggunakan sistem borongan, artinya upah yang ia terima berdasarkan berapa banyak target yang bisa ia capai, bahkan jika tidak mencapai target ia akan menerima potongan upah. Hal ini jelas akan memicu BHL untuk meningkatkan produktivitasnya, terutama pada pekerjaan bagian panen, ia akan berusaha untuk bisa memanen sebanyak-banyaknya sesuai ketentuan perusahaan, sehingga meningkatkan keuntungan perusahaan. Syarat-syarat untuk melakukan pemetikan buah sawit, alat kerja, dan ketentuan upah, yang ditentukan sepihak oleh pemilik perkebunan adalah demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan cara mengurangi biaya upah dan menghilangkan jaminan sosial buruh.
Secara ringkas itulah salah satu bentuk penindasan di perkebunan yang dialami BHL, tidak adanya jaminan sosial dan upah murah. Namun hal ini bukan berarti buruh tetap atau biasa disebut dengan istilah buruh SKU (Syarat Kerja Umum) juga tidak mengalami perlakuan tidak adil, cuma memang BHL kondisinya lebih memprihatinkan. BHL dipaksa bekerja dengan sistem yang mendorong keuntungan pengusaha menjadi lebih besar, sementara itu, resiko kerja yang ada dibebankan sepenuhnya kepada BHL.
Perhitungan upah BHL yang menggunakan sistem borongan, jelas didasarkan pada orientasi pengusaha untuk mengejar jumlah produksi dan keuntungan. Kondisi ini akan terus berlangsung, ketika lapangan kerja di wilayah tersebut hanya bergantung pada keberadaan perusahaan perkebunan swasta dan kondisi geografis wilayah perkebunan kelapa sawit yang terisolir. Sebagian buruh tidak memiliki alternatif pekerjaan lain selain menjadi BHL dengan upah murah dan resiko kerja apapun. Sebaliknya bagi pihak pengusaha kondisi geografis ini jelas menguntungkan karena pasokan tenaga kerja buruh murah akan tetap tersedia melimpah dari generasi ke generasi, sehingga pihak pengusaha terus berada pada posisi yang semakin kuat untuk menentukan kesepakatan kerja dengan para buruhnya.
Namun ketika pemerintah tidak mampu menciptakan pekerjaan melalui sektor Negara, maka seharusnya pemerintah melindungi warga Negaranya yang menjadi buruh di sektor swasta, agar mendapatkan jaminan sosial dan upah yang layak. BHL di perkebunan menjalankan kondisi dan situasi kerja yang hampir sama dengan buruh tetap, dan bekerja setiap hari selama bertahun-tahun, sehingga sudah sepatutnya menjadi kewajiban bagi perusahaan perkebunan untuk mengangkat BHL menjadi buruh tetap dan diikutsertakan dalam program jamsostek. Dan merupakan tanggungjawab pemerintah untuk memastikan perusahaan perkebunan swasta menjalankan kewajibannya tersebut.
Hubungan buruh dan majikan dalam proses produksi adalah hubungan yang mengesankan relasi saling membutuhkan. Namun hubungan majikan dan buruh sejatinya adalah hubungan konflik, karena secara hakiki memiliki kepentingan yang bertentangan. Kepentingan majikan adalah memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya, sedangkan kepentingan buruh adalah upah layak yang mampu mendorongnya ke arah kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, jelaslah bahwa hubungan yang ada antara pengusaha dengan buruh bukan hanya hubungan yang saling membutuhkan, tetapi juga hubungan yang saling berbeda kepentingan (Suziani, 1999).
Jelas jika BHL perkebunan kelapa sawit dihadapkan sendirian dengan pemilik modal dalam hubungan pertentangan ini, maka pemilik modal berada pada posisi yang jauh lebih kuat. Karenanya pemilik modallah yang bisa menentukan segala cara produksi, model hubungan kerja, jumlah upah, dlsbnya. Demi keuntungan yang sebesar-besarnya.
Maka satu entitas yang tersisa adalah Negara, namun pertanyaannya berada dimana Negara pada realitas ini?
Bogor, 02 Oktober 2008