surat kedua
Agustus 25, 2008

KAPPA
Bentara luas identitas anak muda
: Ega, Ketua KAPPA 2008-2009
Dulur, tulisan ini adalah surat saya yang kedua untuk KAPPA dan sama sekali bukan tulisan yang baik, karena hanya akan berisikan keluhan, kritik, dan berbagai keinginan. Melalui tulisan saya tidak mengajak siapapun untuk setuju dengan hal ini-itu, ini hanya sekedar ajakan untuk memperhatikan ini-itu, untuk sejenak tenang dan berpikir. Menghayati proses dan menikmati panjang perjalanan berorganisasi kita di KAPPA, termasuk menengok kembali kemuakan-kemuakan yang mungkin ada, dan tidak mungkin tidak ada.
Kenapa kita masih bertahan, apa yang kita harapkan dari proses ini ke depan? Kenapa kita masih mau disibukkan oleh segala tradisi dan panggilan akan tanggung jawab yang sebenarnya bisa saja dengan mudah kita abaikan, termasuk kenapa kita mau berkorban? Pertanyaan yang sebenarnya bisa dijawab dengan mudah namun dangkal, karena kita merasa nyaman atau merasa itu semua penting. Dan saya sama sekali tidak mengharapkan jawaban seperti itu, bahkan tidak mengharapkan lahirnya jawaban yang lebih mendalam, atau bisa disebut pertanyaan tadi sama sekali bukan untuk dijawab, karena bukan jawaban yang saya cari, itu (sekali lagi) hanya sebuah ajakan untuk berefleksi.
Dulur, saat menulis ini saya membayangkan senyum kalian, tawa kalian, nyanyian kalian, kebersamaan kita. Tapi kemudian saya juga gelisah, jangan-jangan ini semua hanya sesuatu yang tidak akan berkembang, atau proses yang hanya melingkar dan macet, sampai kemudian hanya menjadi klise, kemungkinan untuk itu selalu ada bukan, setidaknya bagi saya. Hanya dijalani, hanya menjadi rutinitas, hanya menjadi aksi, tak pernah terpikirkan. Walau di sisi lain saya juga yakin, dulur semua merefksikan ini suatu ketika, seperti ketika akan tidur, ketika akan mandi, ketika merasa sendiri, dan ketika-ketika lain yang kecil dan tersembunyi sebagai refleksi pribadi.
‘ketika sendiri’, kata kesendirian selalu memiliki kesan yang berbeda bagi saya, setidaknya saya selalu memiliki minat menekuni kesendirian, dan salah satu sumber kegelisahan saya adalah soal kemampuan kita mengolah kesendirian, kemampuan dulur untuk terus meneguhkan cita-cita, atau untuk terus bersikap realistis melihat keadaan sambil juga memelihara pijar kecil semangat berkembang walaupun sudah tidak lagi mesra dengan kebersamaan ini. Saya gelisah jikalau kebersamaan ini membuat dulur menjadi takut dengan kesendirian, menjadi candu dengan kebersamaan.
Kebersamaan kemudian menjadi candu. Kebersamaan itu penting, sebagai sikap atau sebagai nilai. Kebersamaan adalah kekuatan. Namun kita juga harus bersikap arif dalam soal ini, dulur, karena awalnya, mau tidak mau diakui atau tidak- kita dipelihara dalam habitus akademik dalam pengertian praktis (bisa disebut sekaligus pragmatis). Fase pertama, kita memang awalnya dipertemukan oleh lingkup akademik dalam pengertian tadi, dan bagaimanapun ini adalah latarbelakang paling awal, tapi kita kemudian ditemukan oleh niat yang beragam, dalam prosesi yang relatif sama namun pemaknaannya bisa sangat beragam karena sifatnya yang personal. Fase kedua, proses setelah masuk ke dalam KAPPA kemudian mengajak lagi diri masing-masing untuk menekuni pilihan, mencermatinya, untuk kemudian memilih. Ada yang terus bertahan, ada yang ‘terlempar’, ada yang ragu, dan selalu ada berusaha di bertahan. Ya pilihan di luar sangat beragam, dan itu sangat berpeluang mengikis doktrinasi di Diklatsar, ditambah beban-beban yang di namai Mabim dan diklaim sebagai ‘pembelajaran lanjutan’, tapi bukan pada kapasitasnya bagi saya untuk membahas persoalan-persoalan tadi, tapi kembali pada inti dari fase kedua yaitu, dipertemukan oleh dan dalam proses. Fase ketiga, kita selesai menghabiskan masa akademik kita, dengan kondisi apapun, posisi yang menjadi penting dalam hal ini adalah berkurangnya secara teratur dan cenderung drastis tingkat kekerapan kita dalam kebersamaan tadi. Kita dituntut untuk melihat dunia baru, tantangan baru, dan tanggung jawab baru. Namun pada pembahasan ini, posisi kebersamaan kita curigai sebagai candu. Karena pada posisi inilah kebersamaan berpotensi menjadi dua mata pisau yang sama berbahaya, sebagai romantisme dan patologi. Kenapa, karena kebersamaan ini lahir dari proses yang kemudian dipaksa menjadi masa lalu secara relatif ‘mendadak’, dan cara kita menyikapi masa lalu apabila tidak berimbang maka akan membuat kita tergores oleh salah satu dari dua mata pisau tadi.
Mengutip Ignas Kleden (hanya melalui ingatan saja), prihal masa lalu, jika kita melihat masa lalu hanya sebagai hal yang baik, maka kita akan terjebak dalam romantisme, dan sebaliknya jika kita hanya melihat masa lalu hanya sebagai hal yang buruk maka kita akan terjebak dalam patologi. Walaupun Ignas Kleden membangun kesadaran itu dalam konteks politik dalam menyikapi sejarah suatu bangsa, saya menangkap makna yang mendasarnya adalah bahwa kita harus tetap menempatkan masa lalu juga sebagai sesuatu yang manusiawi, karena masa lalu adalah hasil kreasi dari manusia itu sendiri, tentu saja selain sebagai anjuran untuk melihat masa lalu secara adil. Dulur kembali dalam konteks KAPPA, saya termasuk anggota purna, yang pernah melalui fase ketiga, walau apa yang saya tulis kemudian bukan hanya berdasar pada impresi pribadi tapi juga pada kesan yang saya tangkap dari dulur-dulur yang kemudian menjalani fase yang sama dalam waktu yang beriringan.
Apa yang kemudian saya alami semoga bisa menjadi alarm buat semua, semoga bisa menyentuh kesadaran dan kemudian membuat dulur-dulur memberikan perhatiannya sejenak. Terus terang saya mengalami gejala romantisme, ingin selalu bertemu di KAPPA, enggan lepas dari Jatinangor, mengalami gegar kesadaran, dan ketika yang lain pergi saya merasa tidak punya teman, maka saya-pun memaksakan diri untuk masuk terlalu dalam ke generasi di bawah, yang sebenarnya berhak atas proses yang lebih mandiri. Anggapan ini tentu saja bukan meniadakan kerelaan untuk terus terlibat secara langsung secara organisasional, memberi pertimbangan, masukan, atau sumbangsih apapun, tapi yang kemudian menjadi refleksi bagi saya adalah, saya kemudian menjadi mengabaikan langkah-langkah selanjutnya, di mana saya seharusnya membangun rencana yang lebih tepat dengan kondisi saya waktu itu. Dan di sisi lain saya menjadi dogmatis, cenderung tradisional dibanding rasional, dengan menganggap organisasi KAPPA dan menjadi seorang petualang alam bebas sebenarnya juga menjanjikan dalam arti bisa mendorong kehidupan saya ke depan, saya jadi mabuk dengan alam kebebasan yang sesungguhnya juga diselimuti oleh kesadaran yang naïf, tanpa membenturkannya secara kritis dengan perubahan-perubahan yang terjadi sebagai faktor eksternal namun itu adalah realitas. Tanpa memikirkan kalau peluang itu ada, tapi juga bertanya: apa saya punya peluang?
Mungkin ada juga dulur yang kemudian justru menjadikan KAPPA sebagai pelarian, sebagai ekstasi, dan merasa dirinya sangat masih diperlukan. Dulur itu (jika ada) berdiri di KAPPA atas dasar heroisme, dan bisa dipastikan ia kemudian akan diliputi oleh kekecewaan saat apa yang dia harapkan sebagai imbal balik tidak ia dapatkan, di sisi lain dia memang memposisikan KAPPA sebagai media pelarian, kehadirannya muncul secara dipaksakan.
Ada juga yang kemudian memilih untuk bersikap apatis terhadap KAPPA, inilah kelompok yang saya curigai melihat masa lalu hanya sebagai patologi, hanya sebagai hal yang buruk yang lahir dari sebentuk kekecewaan yang belum juga bisa didamaikan, ini juga yang kemudian merongrong perasaan kebersamaannya, merorongrong rasa persaudaraannya. Dan melahirkan trauma pada bentuk-bentuk keintiman khas komunitas.
Dulur, bukan berarti tidak ada suatu orkestrasi yang indah dan pas dalam hal ini, ada saja yang begitu proporsional menempatkan diri. Bisa menyikapi perubahan yang bergulir namun juga bersedia menyempatkan waktu untuk menyentuh kembali kebersamaan itu. Belajarlah dari dia yang mampu memainkan orkestrasi itu.
Bukan kesendirian yang kita takutkan, tapi kemudian bagaimana kita mampu berbagi peran dalam jarak. Dan kesendirian sama sekali bukan modal ketika kita bicara KAPPA sebagai gerakan membangun identitas! Kebersamaan adalah modal ketika kita bicara gerakan tadi.
Akhirnya saya melompat pada kegelisahan saya selanjutnya. Senyum dan tawa kita semua adalah semangat saya ketika menulis ini semua, namun ungkapan ini bukan berarti saya menuntut pamrih dulur-dulur untuk menganggap ini penting. Aksi dan Refleksi, bagaimana kita melihat kedua hal tadi, apa kita melihatnya sebagai hal yang terpisah? Bagaimana caranya, karena setiap aksi sebenarnya lahir dari refleksi yang sistematis. Seperti kita menabung uang kita di Bank, bukankah itu lahir dari refleksi soal manajemen keuangan. Persoalannya adalah bagaimana kita memposisikan dan menilai aksi dan refleksi. Dan tulisan ini dalam posisi membela refleksi dari ancaman aksi yang kemudian hanya menjadi rutinitas.
Dulur, pokok bahasan soal pembelaan posisi dari refleksi ini juga saya tempatkan sebagai kampanye melawan rutinitas, sebuah praktik yang mendekatkan kita pada gejala klise. Sesuatu yang kemudian saya khawatirkan akan mereduksi nilai-nilai yang sudah seharusnya kita tanam dan pelihara dalam sabana KAPPA ini. Awalnya adalah perhatian saya pada beban kerja organisasi yang didiskusikan oleh dulur Piwa, begitu padat, berat, dan menimbulkan stress yang kemudian menurut pikiran sempit saya berpotensi pada konflik-konflik di ruang kosong. Kepadatan kegiatan pada tingkat yang parah, dalam dimensi terapan mendorong pada terfokusnya kegiatan organisasi hanya pada perencanaan-perencanaan jangka pendek, terfokus pada aksi dan aksi terus menerus, dibombardir oleh setumpuk kewajiban, sehingga dalam dimensi ideologis cenderung kehilangan gairah untuk melakukan refleski sekaligus eksplorasi nilai-nilai.
Kemudian muncul tanpa disadari budaya yang ‘menodong’ aksi dari siapapun yang ingin bicara soal gagasan, ada gegap gempita bahwa aksi adalah segalanya. Aksi juga penting, namun apa yang saya perhatikan adalah, ini kemudian menjadi pembenaran bagi sikap malas berpikir, malas membangun refleksi dari bawah dan malas membuat perencanaan strategis. Malas berpikir!.
Ketika aksi menjadi sangat dominan, maka yang patut dihargai hanya sumbangsih konkrit, ketika kita tanpa sadar menyimpulkan hal yang konkrit yang paling penting, resikonya adalah kita terjebak pada cara-cara yang harus seragam. Karena hal yang konkrit selalu disandarkan pada permintaan. Dan ketika kita bicara permintaan, maka yang muncul adalah kompetisi untuk selalu tampil apik, ala pegiat alam, dan harganya mahal. Pada tahap selanjutnya kita kemudian didorong pada gejala haus prestise, pede, status, kita menjadi anak gaul dalam kotak lain. Itulah yang kemudian kita beli dan jual lagi, kita membeli gaya, membangun trend atas gaya itu sehingga orang lain tertarik untuk ikut karena sifatnya yang eksklusif dan eksklusif itu menciptakan status. Maka apa yang kita buru bukan karena nilai yang ada padanya tapi pada pandangan orang lain. Kegagahan. Cowo banget. Padahal itu adalah konsumerisme. Darimana kondisi itu lahir, dari aksi-aksi yang tak pernah terefleksikan. Coba kita lihat cara berpakaian kita yang seakan-akan ingin menegaskan sesuatu, lalu diam dan berpikir sejenak, jangan-jangan kita adalah seorang narcistist yang mengaku petualang.
Resiko lain ketika aksi menjadi sangat dominan adalah penggerusan kapasitas berpikir. Begitu padat kegiatan dalam suatu waktu, seakan-akan itu adalah sesuatu yang lahir dari rasa ingin tahu, padahal itu adalah sebentuk rasa ingin tahu yang melorot menjadi gerak visual saja.
Apa yang kemudian muncul akibat proses tersebut adalah apa yang disebut oleh Vaclav Havel sebagai the aesthetics of banality (estetika kedangkalan), estetika ala Fikom kalau saya boleh kasih sebutan lain. Dalam iklim ini, pemikiran yang sedikit serius saja menjadi sangat langka. Bukan karena tidak ada dulur-dulur yang melakukan ini, tapi karena memang ini menjadi tidak laku, atau dianggap hanya sebagai omong kosong dan ditebas dari belakang dengan peribahas NATO (no action talk only), padahal omongan yang bermuasal dari suatu ikhtiar berpikir adalah awal dari setiap aksi yang berkualitas.
Dulur, tulisan ini hanya refleksi kecil-kecilan, suatu keluh kesah dan keyakinan bahwa masih adanya harapan untuk suatu percakapan yang mendalam tentang KAPPA sebagai bentara identitas anak muda. Sebagai ruang yang memberikan peluang untuk anak muda meneguhkan identitasnya sebagai sekelompok saudara yang menjunjung nilai-nilai solidaritas dan kebersamaan- setidaknya. Selain itu juga harapan masih adanya suatu proses yang oleh Anthony Giddens disebut ‘hermeneutika ganda’ (double hermeneutic), dimana ada arus yang timbal-balik antara dunia aksi (tindakan/praktik) harian organisasi dan dunia refleksi (wacana).
Sekali lagi, melalui tulisan ini saya tidak hendak mengajak siapapun untuk setuju dengan segala yang saya uraikan, tapi untuk memperhatikan sejenak apa yang saya uraikan tadi, tentu saja dengan hati-hati dan tidak tergesa-gesa seperti ketika kita membaca komik. Semoga tidak ada yang menilai tulisan ini memaksakan sesuatu, karena ia hanya ingin sekedar mengajak bercakap-cakap soal KAPPA (dalam arti luas) yang suka lolos dari perhatian dan konsepsi kita soal kebutuhan organisasi. Silahkan memperhatikan lagi sambil santai.
Haturnuhun.
Abu
Bogor, 21 Agustus dini hari
Kepada bara dan satu malam di Agustus
Agustus 6, 2008
kepada bara dan satu malam di Agustus
ingin kusampaikan sesuatu
ketika percumbuan dimulai
sebelum sempat terbuka kelopaknya
.
o bara, pada jari-jarinya pernah kusampaikan
- duka dalam kehilangan yang tiba-tiba
o malam, pada bibirnya pernah kusampaikan
- detak suara itu, ketika ia mendadak asing
.
dan diam-diam,
tenggelam begitu saja
seperti batu dilempar ke telaga
o bara, beginikah akhirnya,
melayang di atas malam-malam ketika itu
.
o malam, ubahlah
pertemukan aku dengan percumbuan yang lain
jangan relakan aku sendiri
bersiasat dengan sepi
dirundung puisi
menghancur di hati
.
Bogor, 07 Agustus 2008