Berbagi peran sebagai sahabat
Juli 27, 2008
Salam Solidaritas…
Dari kemarin saya ingin menulis, tapi menulis apa saya juga gak tahu. Saya bolak-balik beberapa buku, membaca sampul belakang dan kata pengantar, berharap dapat inspirasi… tapi ah, nihil… Sekalimat saya del lagi, sejudul saya del lagi, aah ternyata siang ini baru saya sadari, saya sebenarnya hanya ingin bercerita, ingin mengeluh, bukan menjelaskan sesuatu atau menulis yang serius2. Saya hanya ingin bercerita bukan berpikir!
Tiga hari yang lalu, untuk pertama kalinya saya menonton film ‘Ayat-ayat Cinta’, hehe, maklum norak, gak gaul, orang-orang dah nonton film itu berbulan-bulan yang lalu, tapi saya baru tiga hari yang lalu. Dan sepenuhnya bukan karena alasan yang ‘ideologis’ atau sentimen atas film yang berbau-bau konservatisme agama, tapi hanya karena memang saya bukan tipe orang yang sering datang ke bisokop, saya hanya datang ke bioskop sesekali, sebulan sekalipun belum tentu, dan biasanya saya datang ke bioskop kalau ada yang traktir, hihi… saya lebih suka nonton film sendirian di kamar dengan meminjam in focus milik kantor, haha, menciptakan bioskop di kamar sendiri. Dan itulah yang terjadi ketika saya menonton film Ayat-ayat Cinta. Saya meminjam diam-diam in focus milik kantor, membawanya ke kosan naik sepeda, lalu jreeeng, pintu teater 1 sudah dibuka.
Sepanjang film rasanya saya ikut terbawa, senyum-senyum sendiri, meluk-meluk bantal, sambil merokok dengan khidmat. Waah ternyata saya suka filmnya, apalagi Maria cantiknya beuuh. Dan seringkali setelah menonton sebuah film yang saya suka, saya akan menciptakan sebuah film sendiri di kepala, dan tentu saja tokoh utamanya adalah Abu Mufakhir. Dan jika di Film Ayat-ayat cinta ada sungai Nil yang begitu bijak dalam setiap riaknya, maka di kepala saya ada Danau Toba yang ragu dalam setiap ombaknya dan tentu saja ada abu dan (?). Ada senja yang menguning, dan matahari yang tenggelam dalam ciuman.
Temans,
Pastilah kalian juga pernah mengalami hal yang sama dengan saya, menjadi aktifis bukan sebuah pengecualian kalau kita juga memiliki keinginan untuk dimengerti bukan? Walau sebanyak apapun orang bilang kita adalah segelintir orang yang sulit dimengerti, kita tetap ingin dimengerti.
Jadi sosok seperti apakah aktifis itu?
manusia seperti apakah Wiji Thukul itu?
atau manusia seperti apakah Rini, Ricardo, Juniper, hingga mereka memilih berdiam di perkebunan dan merasa nyaman dengannya?
atau manusia seperti apakah Abu?
Hah, saya sebenarnya takut untuk kembali lagi bertanya soal siapakah saya, karena itu akan mempertanyakan kembali segala pilihan ini, atau mengajak diri melihat lebih dalam lagi tentang apa yang menjadi latarbelakang saya ada di sini. Kenapa saya tidak memilih bekerja di kantoran menjadi Customer Service, pekerjaan yang tidak menarik, tapi saya lebih punya kepastian, lebih punya penghasilan, dan bertemu dengan gadis-gadis manis dengan rok mini setiap hari… ![]()
Atau kita lebih nyaman dengan menjawab, tak perlu ada alasan, jalani saja! karena mencintai sebuah pilihan tidak butuh alasan. Benarkah demikian?
Maaf teman, saya hanya ingin bercerita, bukan untuk mengajak siapapun meragu. Karena ketika yang lain berteriak revolusi dengan penuh semangat, saya mengajak temans untuk takut. Ya, takut- kalau pilihan ini hanya sebuah kebetulan, sama dengan agama yang kita anut, kebetulan saya Islam. Hanya kebetulan, bukan sebuah sikap menggugat!
Atau jangan-jangan kita hanya salah memilih?
Atau menghartikan organisasi hanya sebagai sarana untuk berkumpul dan berdiskusi, jadi berdiskusi terus -setiap hari ditemani kopi dan rokok. Jadi organisasi akhirnya hanya menjadi kesukaan atau lahan untuk membangun romantisme bersama. Atau lain dengan itu, organisasi adalah media yang dipandang secara profesional, saya bekerja saya di gaji. “Ketika saya di gaji untuk kritis maka saya akan kritis”
Sekali lagi maaf temans, paparan ini tidak berniat untuk menuduh siapapun, paparan ini saya niatkan hanya semata-mata sebagai introduksi, sebuah pengantar, atas banyak sekali pertanyaan di kepala saya, salah satunya adalah, apakah di organisasi kita belajar untuk terus kritis atau justru menjadi jinak, ketika kita tidak bersikap kritis atas bangunan pemikiran kita dan terus berenang dalam romantisme?
Mari kembali ke pertanyaan yang lebih awal tadi, siapakah saya, atau karena ini milist para aktifis muda, maka pertanyaannya sama dengan “Siapakah Aktifis Itu?”
Mari kaum muda, kita jawab bersama-sama…
Tapi saya boleh jawab duluan
..
Bicara aktifis tentu tidak bisa lepas dari bicara gerakan sosial, bicara gerakan sosial tidak bisa lepas dari bicara struktur dan sistem sosial yang ada, termasuk kekuasaan dan kelakuan modal. Jadi aktifis itu lahir dari rahim struktur dan sistem sosial. Ibu para aktifis di sini adalah realitas!
Ketika gerakan sosial tidak kunjung maju, maka aktifislah yang salah! saya berani bilang demikian, karena menggunakan logika di atas. Tapi soal gerakan sosial itu tak kunjung maju atau tidak, tentu saja itu bisa diperdebatkan. Dan aktifis memang bekerja dengan cara menggeluti persoalan-persoalan dalam masyarakat, salah satu caranya dengan berdebat, haha…
Aktifis adalah sosok yang tidak boleh sendirian!
Tapi kemudian banyak para aktifis adalah seorang soliter, sanggup untuk menjalani apapun dengan sendiri, suka dan gemar pada kesendirian. Tapi ketika seorang aktifis bicara soal gerakan maka ia tidak boleh sendirian.
Dalam sebuah tulisan Benedict Anderson, seorang aktifis dilukiskan sebagai seorang yang sulit dipahami oleh ibunya sendiri. Ia melawan segala kebiasaan lazim dalam kehidupan keluarganya. Menolak untuk menghabiskan waktu dalam rutinitas. “Rutinitas itu menjauhkan kita dari essensi” katanya aktifis. Seorang aktifis muda seperti kita adalah seorang anak, memilih jalan yang terjal, lebih menyukai jurang dan tebing ketimbang jalan aspal. Seorang aktifis seperti kita adalah seorang anak, seringkali bertengkar dengan ibunya soal pilihan-pilihan hidup daripada merengek minta hape baru.
Seperti halnya seorang anak, seorang aktifis suka mengkhayal, tapi apa yang dia khayalkan adalah sebuah dunia yang lebih baik, lebih adil, lebih jujur, lebih sejahtera, sebuah dunia kedua menurut ilmuawan sosial.
Tapi rasanya kita seringkali melihat aktifis dalam sosok yang angkuh, atau begitu idealis, saya melihat sosok ini dalam rekaman perdebatan-perdebatan sesama aktifis yang saya lihat. Mereka berdebat bukan untuk kemudian membangun solidaritas, tapi untuk saling-salingan, hehe… Padahal rasanya kita sama-sama bercita-cita akan sebuah perubahan, kondisi yang lebih baik, perbedaannya hanya pada soal strategi atau cara yang kita ambil. Inilah kisah aktifis yang seringkali saya jumpai, berbeda dengan cerita-cerita masa lalu, di mana para aktifisnya sangat menjunjung tinggi solidaritas. Perhatikan bagaimana Soekarno dan Hatta berdebat tiada henti, tapi ketika Soekarno sakit dan dikucilkan Hatta mengunjunginya. Atau coba kita baca lagi kisah perdebatan tajam antara Semaoen dan Haji Agus Salim semuanya berjalan dalam sentuhan persahabatan yang hangat. Lalu sebagai anak muda, mana yang akan kita tiru? apakah yang seringkali kita lihat dalam dunia gerakan sosial saat ini, di mana organisasi terpecah semakin kecil dan semakin kecil.
Mari kita membangun Imaji lewat aksara, dan yang di perkebunan jangan bilang yang diam di kantor hanya sebagai yang diam di kantor, karena kita sama-sama memelihara kegelisahan ini. Yang diam di kantor, ketika memiliki kesempatan, menulislah… Mari kita berbagi peran dengan baik sebagai sahabat.
Terimakasih temans sudah mau membaca
untuk Guru Ricardo
Bogor, 27 Juli 2008
tulisan ini diposting juga di milist Parapat Titik Nol (Partiknol) sebagai media komunikasi alumni Parapat
http://us.mg2.mail.yahoo.com/dc/launch?.rand=5d4ho6i523fc3
Lelaki Penebar Puisi
Juli 26, 2008
Lelaki Penebar Puisi
oleh: Temon
.
Lelaki penebar puisi
Tiba di hutan tumbuhkan belukar
Tiba di padang, menjadi ilalang
Hinggap di pucuk ombak, ciptakan gelombang
Mengapung di awan menjadi hujan
.
Apa yang kau tuai
Setelah ranum kata-kata berbuah resah
Lelaki penebar mimpi
Tiba di kebun, menyentuh sawit bermayang duri
Lalu titipkan sepi untuk pergi
.
Selalu serupa angin
Setiap dugaan yang menolak usai
Apa yang berbuah kenapa
Lalu kebingungan yang lapar jawaban
Kau menjelma anak yang tak pernah kulahirkan
.
Tapi musim apakah ini…
Yang membiarkan hujan menari bersama mentari
Lalu puisi-puisi tersesat lagi
di kepala…
terbenam dalam pekat nadi
terjebak di paru-paru yang sesak akan harap
berputar-putar mencari celah di web, inbox… sms
lalu kembali berupa sepi
dinginnya keyboard dan lelangnya monitor
.
Lalu ibu yang tak pernah melahirkan
melepas mimpi di telaga yang selalu senja…
Bunyi ketik dan…
Juli 23, 2008
Bunyi ketik dan…
.
pada kata-kata yang bermuara pada bunyi ketik dan…
kita menciptanya dengan tekun, menyusunnya dalam rusuk-rusuk waktu
kau dan aku
bisakah bertemu, dan apakah kau menunggu?
.
sementara aku menunggu
ketik selanjutnya berbunyi
tapi cinta selalu saja mampu membuat aku menunggu
sampai berdebu
lebih dari…
.
ah biarlah nasib mengatur semuanya…
tapi, sebelum aku mati
kau harus ingat: bunyi ketik itu datang dariku!
dari sini, dari getar jemariku
tapi seandainya pertemuan itu tiba
kuminta, sentuhlah pelipisku
biarkan dirimu mengenalku
lelaki kurus yang ibunya saja sulit mengerti
.
akan tetapi, sebelum aku mati atau pertemuan itu terjadi
dengan segenap kegilaan, aku terima segenap dirimu
menyebar di hatiku
.
Bogor, 24 Juli 2008
22 Juli 08
Juli 22, 2008
Temans, segalanya terus rusak…
Solidaritas runtuh, kemiskinan terus dibiarkan, korupsi bergerak lebih cepat dari hukum
Kelaparan dan kekerasan merebak dengan hening. Segala terus rusak, rusak parah…
Kebebasan kita terenggut terus menerus oleh kuasa kekerasan moral dan politik, mari menjadi berani, melihat lagi ketakutan-ketakutan ketika kita menempuh jalan ini, jalan sebagai individu yang tercerahkan.
Mari bersama-sama menyelami ketakutan…
Tujuh Juli II
Juli 13, 2008
Tujuh Juli II
: mlg
.
Malam ini hembusmu angin halus dan dingin
menjejal perut ku yang kenyang oleh khayal
akan sebuah tengah malam yang larut dalam ciuman
.
tapi malam ini harus gegas kukemasi semua kenangan yang tersisa
berlari kedalam mabuk
supaya besok sampai pada suatu musim
di mana cintaku padamu mengering
.
Tapi nanti dulu,
Benarkah ini cinta bukan azab?
Tujuh Juli I
Juli 13, 2008
: mlg
–
Aku menunggumu, mengucapkan sesuatu
tentang waktu kelahiran
tentang tengah malam
–
Aku menunggumu sungguh-sungguh
dalam rindu yang tiba-tiba mendalam
kusebut namamu berulang-ulang
di atas keinginan,
atau khayal yang beku
–
aku merindumu
or
Juli 11, 2008
God or Dog
saya pilih kodok aja…
Tehnya kurang manis
Juli 5, 2008
Tehnya kurang manis
: langit
__
De, ingin kukirimkan padamu secangkir teh hangat kala subuh
Agar kau kembali teringat masa-masa hangat itu…
Tapi bukan, bukan masa dimana kau mabuk dengan duka
__
De, gambar itu masih menempel di dindingmu, kenapa?
“Queen Of Sadness”, banyak yang luput dari gambar itu
Seperti lamunanmu padanya ketika kau bersamaku
dalam senggama yang selalu singkat dan resah
__
De, ingin kulihat lagi kau membereskan ranjang setiap pagi
Merapihkan yang terserak cepat-cepat lalu berdandan sambil menarik nafas panjang
Sekejap lalu menghilang di lalu lalang
Atau kedatanganmu saat larut,
Dengan setumpuk lelah di seluruh tubuhmu
yang selalu kutunggu:
- derit-derit sepatumu
Dan kemudian aku berputar, membentur karang lautan, dan lampu dimatikan…
Sedikit demi sedikit mulai hening
Sederet kata di kepala tenggelam dalam cium
Tapi seakan-akan kau ingin mengucapkan kata
Tentang rohku yang kau bayangkan sebagai rohnya
Tapi aku terlanjur gila, dan merasuk ke rohmu…
__
“Mas, tehnya kurang manis dan kepanasan”
__
Tapi kini, aku harus pergi, meninggalkan pintu dan jendela yang masih terbuka
Sambil menoleh lagi namamu di situ, di seprei merah, di gelang gantungan kunci, di cincin kekecilan, di baby oil, di gelas, di deterjen, di semua pelosok tubuhku yang pernah kau cium.
Aku pergi ketika musim panas tiba, mencari seseorang yang mirip denganmu untuk kubuatkan teh yang pas. Sambil kubacakan kisah pengembaraanmu denganku padanya, seperti kau bacakan kisah pengembaraanmu dengannya padaku. Suatu saat nanti pada delapan Juli.
__
Bogor, 05 Juli 2008
secangkir teh kurang manis
Juli 5, 2008
secangkir teh kurang manis
: hanya untuk rin-rin
rin, maukah minum teh bersamaku, bersama kita, bersama candu
maukah?
pada pagi dan sore, atau pada resahnya kata, padamu juga
tentu saja pada khayal…
tanpa meja, hanya ruang seperti awan
dan secangkir teh sisa semalam yang kurang manis dan kini dingin ditangan
rin, teh ini rasanya retak
pekat dengan takut
sangat murni
seperti tidur tanpa mimpi
maukah?
Bogor, 05 Juli 2008

