Exploreisme
April 14, 2008
EXPLOREISME
Sebuah Himbauan
“…Kepada penerus-penerus KAPPA!”
Sekedar Pengantar
Saudara-saudaraku, paparan ini tidak bermaksud untuk membentangkan KAPPA dan sejarah KAPPA secara serius dan luas, apalagi secara lengkap. Hal itu tidak mungkin, karena untuk itu KAPPA terlalu luas sedang ruang kita terlalu sempit dan pengetahuan juga pengalaman saya tentang KAPPA masih sangat terbatas.
Jadi paparan saya tentang ini semata-mata hanya bersifat introduksi, sebagai pengantar…
Saya ingin memulainya dengan sebuah salah paham.
Masih saja ada saudara-saudara kita yang mengira KAPPA itu hanya sebagai tempat berkumpulnya manusia-manusia yang suka naik gunung, arung jeram, panjat tebing, fotografi, seni, dan konservasi alam. Hal ini tertulis dengan jelas di profil Friendster KAPPA yang kemudian membuat saya gatal untuk menulis tentang ini.
Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, KAPPA dilahirkan, memang tujuan awal waktu itu adalah sebagai wadah saudara-saudara tua kita yang suka berpetualang di alam bebas. Namun dalam perkembangannya, pikiran yang terkandung dalam diri KAPPA itu sendiri yang dibangun runtuhkan dari pikiran-pikiran anggotanya terus berlanjut dari sejarahnya menuju identitas yang sampai saat inipun belum dijelaskan bentuknya. Hal inilah yang kemudian menyulitkan KAPPA sebagai organisasi melanjutkan dirinya menuju bentuk idealismenya sendiri.
Hal ini disebabkan beberapa faktor, dan kalaulah boleh saya yang tak tahu apa-apa ini meraba-raba, faktor tadi salah satunya adalah pemahaman yang buyar, tidak fokus, sehingga tidak bisa mengikat makna yang jelas dan tegas dari sejarahnya sendiri. Sejarah bukan hanya apa yang teringat, terekam dalam foto, tertulis dalam laporan perjalanan, sejarah bukan hanya kebaikan dan kesalahan pada masa lalu, atau kompromi antara keduanya. Sejarah itu menurut hemat saya adalah terkait dengan alasan, alasan kenapa kita memilih sikap itu, jalan itu, pilihan itu, dan apa itu masih relevan dengan kondisi saat ini. Sejarah adalah pilihan rasional.
Faktor selanjutnya adalah suatu pandangan yang sempit tentang KAPPA itu sendiri, kenapa pandangan yang sempit menghalangi identitas menuju idealisme? Setidaknya, pandangan yang sempit akan menuju tinjauan yang sesat dan palsu. KAPPA bukanlah suatu rancangan untuk berpetualang di alam bebas saja, bukan demi eksistensi KAPPA atau anggotanya sendiri saja, bukan juga suatu pendirian yng bolak-balik atau semboyan-semboyan dalam lagu-lagu KAPPA saja. Bukan suatu pidato yang mengharukan, atau suatu pendekatan teknis untuk menghindar dari kegalauan. Tapi setidaknya “KAPPA adalah suatu tafsiran dari anak-anak muda dengan kegelisahan dan mimpi tentang dunianya sendiri, suatu tafsiran yang luas tentang manusia-manusia yang terus ingin belajar, berorganisasi, membangun solidaritas, saling menghargai, membangun kepercayaan, juga tentang alam dan Tuhan; suatu sintesis umum, menurut teori dan prakteknya, pendek kata, KAPPA adalah suatu sistem yang menyeluruh dan total untuk terus menerus membangun manusia yang sadar akan dirinya”.
Demikianlah, keinginan saya, bahwa KAPPA adalah suatu sistem yang menyeluruh, komplit dan harmonis. Mengapa saya mengatakan bahwa KAPPA itu komplit, bukanlah karena KAPPA dengan semua manusia-manusianya, pemikiran-pemikirannya, aktifitas-aktifitasnya, bisa menjawab semua masalah-masalah yang diajukan oleh kehidupan, tapi justru karena KAPPA selalu berusaha menjawab: apa artinya belajar dari dan dengan masalah-masalah tadi. KAPPA belajar berdemokrasi, menghargai setiap perbedaan, belajar membangun kesadaran, belajar bersaudara, melalui praktek yang senyata-nyatanya!.
Karena itu KAPPA juga harus kita lihat sebagai ajaran, sebagai paham, artinya dimulai dari dipelajari sebagai ilmu. Bagaimana KAPPA bisa terus tegak, bisa terus dirindukan, bisa terus bermanfaat, bisa terus besar, bisa terus menjadi tempat bertemunya anak-anak muda yang merindukan perubahan. Sebelumnya, apakah kita pernah bertanya, bagaimana KAPPA bisa seperti ini sekarang ini? Jika kita mencoba memikirkannya maka kita tidak bisa lepas dari rasa heran. KAPPA yang hampir punah karena para pendirinya lulus kuliah, ditangan dua tiga orang bisa dibangun seperti ini sekarang? Apa yang membuat dua tiga orang ini terus yakin untuk membangun KAPPA, kenapa mereka bersedia dengan ikhlas merelakan waktu, uang, hubungannya dengan apa yang diluar KAPPA? Sehingga sedikitnya KAPPA sudah tegak dengan bangga tidak hanya di kampus FIKOM, tapi juga Jatinangor bahkan mungkin Bandung, dan ini saya yakin akan terus berkembang, tapi jika kita tengok kedalam, kenapa semua yang bersifat praktik-teknik KAPPA bisa berkembang namun identitasnya sendiri belum terbangun secara mapan dan untuk sadar beranjak pada sebuah idealisme saja belum?
Saya bilang, bahwa KAPPA mencapai hasil-hasil yang mengagumkan, demikian majunya, dan mendapatkan pengakuan. Tapi kalau saya kemudian bertanya, untuk apa hasil-hasil itu diperjuangkan? Untuk apa membesarkan organisasi? Atau apa pandangan organisasi terhadap hasil-hasil tadi? Ini sama dengan bertanya apa tujuan organisasi, ingin mencetak manusia-manusia seperti apa, yang punya pemikiran seperti apa, apa yang mau KAPPA sebarkan sebagai sesuatu yang diyakini? Di seberang mana KAPPA berdiri pada zaman ini?
Lalu bisakah itu terjawab jika kita tidak menganggap KAPPA sebagai ilmu?
Banyak dari kita berpikir kenapa itu bisa terjadi, terlepas dari suka atau tidak. Mungkinkah itu terjadi seandainya KAPPA bukan suatu ilmu?
Jadi pertama, saya mengajak kita untuk menafsirkan KAPPA sebagai dan dengan Ilmu. Artinya mau tidak mau kita menganggap teori atau pemikiran itu memiliki kedudukan yang sangat penting untuk merumuskan pertanyaan dan menentukan jawaban. Tetapi ingat saudara-saudaraku, teori atau konsep apapun tidak ada artinya jika tidak teruji dengan praktek, apalagi jika bertentangan dengan praktek. Dan juga perlu diingat tidak semua teori dan konsep mampu menyentuh realitas atau dibuat berdasarkan emperical-histories.
Akal saja belum cukup untuk mewujudkan ilmu pengetahuan. Akal itu harus bersandarkan pada fakta-fakta, yakni pada pengalaman dan kenyataan baik yang ada didalam kita ataupun yang ada diluar kita, yang itu bisa bersifat pengalaman berpikir dan pengalaman berpraktik, yang sangat bisa tidak bergantung dan sesuai dengan cita-cita KAPPA yang setidaknya kita pahami saja, bahkan dari diluar cita-cita kita yang sudah kita lihat sebagai kejadian yang dapat disaksikan dan dibuktikan oleh orang lain. Fakta-fakta inilah yang harus menentukan cara kerja akal kita betul atau salah.
Fakta-fakta KAPPA-lah yang kemudian akan memberikan pembenaran-pembenaran atas teori KAPPA, teori exploreisme.
Begini tawaran saya, KAPPA adalah bentuk ideologi yang mengajarkan apa itu exploreisme, berasal dari kata explore yang sangat sering kita teriak-teriakkan. KAPPA adalah bapak dari exploreisme yang akan kita bangun.
Saudara-saudaraku, saya sama sekali tidak berniat mengajari. Saya hanya mencoba mengajak belajar soal apa yang dekat dan kita sering lakukan. Exlporeisme yang kita kembangkan, sejarahnya menunjukkan sebagai eksploreisme yang rasional, yang masuk akal, soal ilmiahnya akan coba kita kembangkan kemudian. Kenapa saya bilang exploreisme yang rasional? Itu karena cara kerja kita dalam menjalankan exlopreisme bersandarkan pada rasionalitas, walau selalu ada sisi emosional, tapi tetap pada awal dan pokoknya itu adalah ajaran yang mengajak kita untuk menggunakan akal, sepeti contoh, sebelum kita naik gunung kita harus membuat sebuah manajemen perjalanan. Kita tidak akan semata-mata karena explore naik gunung tanpa persiapan. Ini hanya suatu contoh saudaraku, bukan untuk menyederhanakan. Dan lebih awal lagi, tidak mungkin explorime itu menjadi explorisme rasional jika KAPPA sendiri tidak melahirkannya melalui cara-cara kerja yang rasional, bahkan sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang rasional.
Bagaimana caranya bagi kita untuk mencapai kesimpulan mengenai explorisme? Saya ingin menawarkan suatu cara kerja yang ilmiah untuk mencapai itu, melalui tahapan-tahapan: 1) Penyelidikan 2) Percobaan 3) Pencatatan 4) Perenungan 5) Penyimpulan 6) Perombakan untuk kemudian kembali ke no 1. Perombakkan tidak dimaksudkan sebagai cara agar kita tidak bisa mencapai suatu kesimpulan, tapi agar kita tidak sekedar berpikir bagaimana menafsirkan KAPPA dan explorismenya tapi juga untuk merombaknya.
Mengenai penafsiran itu, saya ingin mengundang kita berpikir dimulai dari penafsiran saya, sebagai anak muda anggota KAPPA, “bahwa KAPPA dan explorismenya bukanlah sekedar kesukaan diri, hobi. Tapi kumpulan dari mereka yang beruntung, yang mampu mencurahkan dirinya dalam organisasi –nilai-nilai dan aktifitasnya-, mereka itu karena keberuntungannya harus menempatkan KAPPA dan Exploreismenya sebagai suatu cara mengabdi kepada manusia dan alam. Mengabdilah kepada manusia dan alam.
Begitulah seharusnya kita berbahagia di dalam KAPPA, bukan hanya sekedar karena sudah naik gunung ini-itu, memanjat tebing ini-itu, mengarungi jeram ini-itu, dlsbnya, tapi karena kita sudah sama-sama belajar mengabdi kepada manusia dan alam. Berpikir tentang manusia dan alam. Peduli akan manusia dan alam.
Untuk itu kita harus belajar lebih banyak lagi. Keinginan belajar adalah senjata kita. Kita himpun pengalaman dan bacaan dengan teliti. Kita pelajari lagi dan kita jadikan pelajaran tadi sebagai senjata untuk menghadapi semua tantangan dan menjalankan perjuangan kita. Saudara-saudaraku, tidak kurang kesusahan hidup yang sudah kita alami, tidak sedikit waktu kita merasa lapar, dingin, sepi. Tapi kita tetap harus menyediakan diri untuk mengabdi pada kehidupan dengan terus belajar. Tapi ingat, banyak orang menjadi budak atas apa yang dia pelajari, menjadi egois dengan kebenaran yang merasa sudah dia temukan, tapi kita tidak boleh! Kita harus sebaliknya, apa yang kita pelajari harus menjadi budak bagi kita. Ilmu pengetahuan dan pengalaman harus jadi budak bagi kita, perlu atau tidak ia kita pelajari untuk membuat kita semakin jelas dalam membangun pengabdian kita terhadap manusia dan alam.
Saudara-saudaraku yang jenius, perlu dicatat bahwa kejeniusan kita bukan karena lahir dari wahyu, tapi dari kerja keras kita dalam belajar, keuletan, ketekunan, ketelitian, dan ketajaman otak.
Untuk mengakhir pemaparan saya kali ini, kritik saya tentang proses pengkultusan apapun yng tertulis di profil Friendster KAPPA adalah, “jangan kita menyandarkan diri pada fakta yang belum kita sepenuhnya yakini, jangan menyebarkan apa yang belum kita pelajari dengan baik dan dalam-dalam. Tinjau apa yang akan kita tulis berulang-ulang sebelum kita biarkan orang lain membacanya”.
Terimakasih
Semoga bermanfaat
Abu
Bogor, 14 April 2008