Indomie Addict (About Me)
Maret 3, 2008
Indomie Addict
secara kasat mata dia adalah orang yang kurus putih dan terkesan seperti manusia yang dulunya begitu terawat namun kini berbeda. Seringnya dia melamun sendiri ditepi lereng depan kampusnya memandang kearah persawahan hijau, dan jauh ketapal batas di mana sejauh melihat terbentur ragu.
dulu dia tak sebegitunya, hanya memang terkadang dia memiliki tampilan lain, pemikiran lain, tapi tak aneh seperti sekarang. Selalu memilih berdiam sendiri, entah merenungkan atau memikirkan apa. Tapi sepertinya dia memang hanya ingin berteduh ditempatnya yang paling terdaulat dan membiarkan segalanya menerawang lepas tanpa dibatasi oleh apapun, karena memang tak akan ada yang mampu membatasinya.
apa dia sehat? Entahlah, apa mungkin sayalah yang sebenarnya sakit karena terlalu memperhatikannya, mencari tahu apa yang dia rasakan dan lakukan, sebuah observasi dengan latarbelakang dan tujuan rasa ingin tahu. Apakah dia sedang melakukan sebuah upaya untuk mendapatkan sebuah kehidupan yang menyenangkan dengan memasukkan dirinya kedalam sebuah tungku renungan, menunggunya mendidih sehingga mendapatkan sebuah bentuk kesadaran yang hangat.
seperti sebuah usaha untuk mendapatkan ilham dan membiarkannya berproses sendiri, membangun dirinya sendiri dan lalu menjadi jejak2 langkah yang mungkin diikuti. Tapi seperti apa bentuk ilham yang dia cari? Dan jika saya memaksakannya maka ini akan menjadi analisis dalam, mengenai kesadaran dan pengalamannya, dan pasti akan sangat sulit. Atau dia tidak sedang berusaha mengikat ilham tapi membiarkan ilham itu membentuk dirinya sendiri, pembebasan yang dilakukannya dengan sadar dan penuh penyerahan.
walau bagaimanapun saat dibebaskan ilham itu selalu mencari, meminta bentuknya dari si orang yang mencari ilham itu sendiri, seperti menagih sebuah pertanggungjawaban. Dan dia sejauh yang kukenal seperti melakukan sebuah upaya tersebut melalui berbagai kreasi ide dan kesadaran dengan perpaduan reproduksi sehingga menghasilkan sebuah bentuk nanar bagi ilhamnya lewat tulisan yang yang me-reka2 makna dalam alam bawah sadarnya. Sehingga dia menjadi seorang tokoh yang apa?.
dan tidak semua ilham yang dia temukan berhasil mendapatkan bentuknya yang walaupun nanar dalam tulisan2 tadi, ilham2 itu bisa saja berdiam diri bisu menunggu, menumpuk dan suatu saat bisa saja muncul menjadi sesuatu yang mencakup hal yang lebih besar. Terkadang kemunculannya dianggap sebagai karya sastra yang bukan berasal dari kubur inspirasi, tapi dari sebuah upaya mengingat lagi.
proses mengingat tadi dapat terlatih dan dibuat menjadi lebih peka. Kepekaan ini bertindak sebagai sebuah medium, yang bisa meningkat atau menurun, bahkan hilang, karena berbagai sebab yang sangat sulit ditelusuri asal-usulnya. Sekarang saya jadi curiga apa dia sedang melakukan sebuah proses psikologis ini, mencari sebab dari hilangnya ilham, bukannya mencari ilham. Mencari sebab dari hilangnya sebuah medium kepekaan.
Hilangnya sebuah ilham
hilangnya sebuah ilham sangat bergantung pada tangan siapa ilham itu berada, karena sebuah ilham dapat menjadi benda padat lewat proses yang sebenarnya cukup panjang. Melalui idesiasi lalu kreasi dan jadilah benda padat tadi, karya. Tapi apakah orang ini melamun begitu kronis karena tak mampu berkarya lagi, tak mampu menulis lagi. Atau sebenarnya hanya merasa tak mampu berkarya. Atau sudah merasakan sebuah klimaks ekstasi dari sebuah proses berkarya, menulis. Sehingga dia menjadi merasa gamang karena terlalu terseret padang realitas kehidupan sehari2nya.
jika ya! Seperti apa kehidupan sehari2nya? Saya jadi memperluas kawasan observasi, kearah yang nampak inderawi yang secara dasar dan lahiriah begitu mempengaruhi daya karya tulisan seseorang, siapapun dia, karena itulah bentuk pengalaman yang paling tinggi, berwujud dalam karya. Seperti menegaskan sebuah kesadaran, tanggung jawab dan keyakinan. Realitas sehari2 selalu memliki tuntutan dan itu merupakan kesimpulan yang manusiawi.
entah seperti apa realitasnya sehari2 sehingga dia begitu mengurung dirinya dengan begitu kuat, mungkin demi mendapatkan sebuah konsentrasi yang tidak buyar atau mungkin sebagai sebuah tehnik konsentrasi itu sendiri. Realitas khususnya secara langsung-otomatis, inheren dengan keberadaan realitas bersama, realitas lingkungan, realitas dunia.
mungkin setelah saya mengetahui seperti apa realitas kehidupannya sehari2 saya berharap mampu menemukan sebuah bentuk keharuan yang bersumber dari transformasi ilham. Keharuan akan rasa gelora, cinta, duka, suka, kehangatannya dalam bentuk pengalaman estetis. Seperti ini mungkin upaya saya untuk mengenalnya lebih dalam, pada setiap ringkih puisinya yang seringnya kubaca pelan malam2. Pada sebuah peleburan pengalaman estetis yang padat menjadi rasa ingin tahu.
Penguntitan terhadap dia
orang ini ternyata bisa dimasukkan kedalam kategori orang yang jarang keluar kosannya, dia lebih sering berada dalam kosannya, dan entah apa yang dia lakukan dalam kosannya. Dugaanku mungkin dia sedang mengolah apa saja yang dia dapat renungkan ditepi depan kampusnya. Sesaat memang dia keluar dari kosannya, tapi itu hanya untuk pergi makan, membeli rokok atau minum segelas air putih diwarung depan kosannya. Dan paling sering saya lihat pelayan warung itu menghantar segelas kopi untuknya, atau semangkuk indomie. Sedikit sekali aktivitas untuk seorang yang saya cap pelamun seperti dia.
segala sesuatu yang belum saya tahu saat ini, pasti kebanyakan dia lakukan didalam kosan. Karena apa yang saya cari saat ini lebih terfokus pada realitas kehidupannya sehari2. Entah apa kesibukan didalam kosannya. Jika saya ingin tahu berarti saya harus masuk kedalam kosannya. Agar mampu melihat dia lebih dekat dengan segala aktifitas yang sebagaimana biasanya terjadi, tapi hal itu mustahil saya lakukan tanpa ia mengetahui dan sadar akan keberadaan saya, kecuali jika saya menggunakan strategi spionase tingkat menengah dengan memasang kamera dan penyadap suara tersembunyi.
ya..! Tak ada cara lain, saya harus memasang kamera dan penyadap suara dengan tingkat sensitifitasnya yang amatir, saat dia keluar dari kosannya tanpa diketahui oleh siapapun juga. Hanya itu caranya, karena mempertanyakan segala realitas kehidupannya sehari2 pada teman dekatnya sekalipun percuma. Saya hanya akan mengenal dia lebih dalam jika melihat langsung aktifitas dia secara langsung, dengan mencabik2 hak pribadi seseorang, bahkan mungkin lebih sempurna dari infotainment. Dan dia adalah korban yang paling sempurna dari semua rencana ini, tak ada lagi. Rencana untuk masuk kedalam kehidupan seseorang melalui realitas kehidupannya sehari2 dengan segala kompleksitasnya ditambah beberapa puisi yang ia buat. Seandainya saja saya bisa memahami latar belakang yang jujur dan sesungguhnya dari semua puisi yang dia buat, tentu saja hal seperti ini tak perlu saya lakukan.
observasi ini saya harap bukan sebuah proses yang terlalu panjang dan lama, walau akan sangat sulit mengetahui bagaimana ia menulis, berkarya, karena semua teramat pribadi. Tapi setidaknya dari pengintaian ini saya dapat memahami sedikit dalam kondisi seperti apa karya itu terjadi, melalui realitas kehidupannya, walau pengalaman pribadi masa lampau sangat terlalu biasa menjadi hal yang paling mendominasi tentang kenapa sebuah karya lahir, dari sebuah proses belajar yang tidak sebentar dan terkadang berliku, seorang mencampakkan dirinya dalam ruang yang begitu luas secara rohani, yaitu menulis. Dan menulis biasanya lahir dari sebuah kebiasaan membaca, dengan kadarnya yang tersendiri.
karena apa suara hatinya tergerak untuk menulis, sehingga terjadi proses pemadatan ilham, atau pemikiran. Atau tentang cermin dirinya, melankolisasi pencerahan, tentang segala perasaan yang akan lebih baik jika tertulis, walau segalanya bisa saja terlahir kontras, antara karya dengan ilham dan atau pemikiran atau antar karya itu sendiri bisa saja terjadi kekontrasan. Pemikiran itu sendiri bukan hal yang ingin saya persoalkan sebagai suatu kepastian.
bukankah bisa saja seseorang bukan mencampakan dirinya kedalam dunia yang ia geluti, tapi tercampakan. Dia memiliki peluang untuk tercampakan lebih besar dibanding mencampakan dirinya kedalam segala puisinya, karena sedikit dari yang saya kenal dia tak memiliki skala sebagai seorang yang belajar apa dan bagaimana sastra secara teoritik. Dia seorang otodidak yang tercampakkan oleh segala medium realitasnya. Tapi persoalannya jadi berbeda saat dihadapkan pada keseriusannya menulis puisi. Tapi kehadiran dan keberadaan puisinya menjadi pernyataan akan sesuatu walau itu bukan keseriusan. Hanya hadir dan ada.
dia berpeluang besar tercampak! Kenapa saya bilang tercampak, karena bisa saja dia sebenarnya ingin menjadi musisi namun tak bisa dan berbakat, ingin menjadi seorang modernis hip-hop tapi tak bisa karena tak mampu, atau ingin menjadi pelukis tapi apa daya dia tak memiliki kemampuan yang memadai, dan akhirnya dia tercampak menulis puisi dan berproses sebagai seorang penulis. Dia memiliki peluang itu, peluang yang lebih besar jika dibandingkan dengan mencampakkan diri! Kedalam dunia menulis.
dan yang saya lihat dari kamera rahasia, dia seperti memiliki hasrat dan tekad untuk menulis sampai lupa makan, atau karena tak punya uang untuk makan ia merayu perutnya dengan tulisan2 membingungkan. Soal penyadap suara hampir percuma, dia sendiri hanya bicara dalam hati tak ada dialog atau monolog yang terdengar hanya suara jarinya yang sedang mengetik. Terkadang secara militan siang-malam-pagi ia menulis, menulis menjadi rutinitas yang sepertinya berubah menjadi elementer kebutuhan, walau bukan suatu keseriusan. Tapi entah, apa kosannya yang tak pernah rapih itu menjadi tempat yang tepat untuk ia terdampar menulis?
didalam kamarnya dia menulis, membaca, melamun selain itu tak bisa saya jadikan bahan pertimbangan. Menulis melatih kemahirannya, membaca memberinya pengetahuan, melamun memberinya suatu suasana tentang perasaan. Dan dalam karyanya yang saya lihat terketik dan lahir semuanya seperti menyatu, kemahiran, pengetahuan, dan perasaan. Walau semuanya belum terkomposisikan, dan sangat rawan akan terjebak pada self dramatikum, atau histeria yang dibuat2 dia tetap menulis, penuh hasrat dan gairah.
tapi sampai saat inipun pertanyaan tentang seperti apa realitas kehidupannya menjadi hal yang tetap kabur, dalam bentuk relasi terhadap karya. Kenapa puisi ini lahir, dari semacam ilham yang berbentuk seperti apa, idesiasi dan kreasi yang berproses seperti apa, menjadi tetap pertanyaan yang jawabannya masih merupakan kesimpulan saya pribadi. Pada tampuk apa proses itu terlahir.
dia sebagai tokoh, lewat apa yang saya tulis. Berpuisi seperti ini:
Gemericik panik
Melirik lentik manik2
oh cantik
Rintik2 detik2
Romantik gelitik
ku berbisik tragik
Larik2 puitik
Tik tik tik diketik
Erotik
platonik klasik
fanatik
kata dan kalimat pendek berakhir dengan tik, seperti titik yang selalu menjadi tanda akhir suatu kata, kalimat, paragrap atau kalimat berintonasi tinggi seperti, pokoknya titik!. Tik tik siapa terjebak dalam gejala furor poetici (kegilaan puitis) tik tik, bukannya tok tok tok, yang juga bisa berarti cuma, seperti kalimat: tak bisa kamu tok, atau dia tok, tapi harus keduanya. Lalu dia berpuisi lagi.
Jenjang bumihati
sedangkalanya aku mengukur kenanganku
menanti kehadiran seorang tamu
dan esok aku tangguhkan dulu
Masih ku teringat
Pada perempuan2 subuh
Yang kujumpai sambil mengintip diberanda insomnia
adakalanya merekapun merindu
dalam jejang bumihati yang beruntun
sedangkalanya aku mengukur kenanganku
pada tasbih
Menanti kehadiran seorang tamu
Yang patut kuhadapi dengan..?
Dengan.. Apapun
jenjang bumihati
melukis samudera saat gerhana
dan esok aku tangguhkan
demi kesepian ini agar gegas pergi
jenjang bumihati, apa maksud kata ini, dia bukanlah seorang ahli bahasa sepanjang yang kutahu. Saya tak boleh menghartikannya hanya lewat satu kata yeng membuat saya merasa tertarik. Dan saya sungguh tak mencoba menghartikannya, hanya memastikan bahwa didalam puisi ini ada sebuah penggalan transenden, gelora bertanya akan kehidupan setelah kematian. Tendensi yang saya anggap wajar.
dan akhirnya, sukar bagiku untuk memahami puisinya dalam keseluruhannya, serentetan proses pemadatan tak pula menunjukan suatu kesimpulan tentang apa yang dia cari dengan membuat puisi. Apa dia sedang membangun sebuah pondasi karir untuk menjadi seorang penulis yang diakui, bagiku ini sebuah praduga yang kejam.
sukar juga bagiku untuk memahami kepribadiannya. Sejauh yang kutahu sikap pandangnya tak begitu menunjukan latarbelakang hidupnya, dan memang sayapun sadari akhirnya latarbelakang dia tak perlu dijadikan penyedap rasa tambahan bagi interpretasi karyanya. Karena mungkin bagi dia yang terpenting adalah karyanya. Tapi tetap bagiku yang terpenting adalah segala bentuk rohani dirinya, hal ini tidak lagi hanya didorong oleh rasa ingin tahu akan kepribadiannya tapi juga didorong oleh rasa ingin memahaminya, lebih dekat dengannya. Didorong oleh semacam perasaan yang saya sendiri belum mampu menyimpulkannya sebagai apapun.
bagiku saat ini semua prilakunya yang mampu kulihat sangat tidak cocok dengan vitalitas mudanya yang begitu tinggi. Kalaupun saya mencoba sok kenal dengannya, mungkin puisinya itu terlahir dari sebuah perjalanan. Tapi entah kenapa dalam hati kecil saya berharap dia selanjutnya tidak akan terus tercampakkan dan terjebak dalam aktifitas menulis puisi. Mungkin saya terlalu merasa cemas akan perasaannya pada suatu gairah yang terpendam, yang dalam puisinya kali ini digambarkan seperti tumbuh tak sehat.
Padam
Start
hutan cemara penuh srigala
ditengah kecanduan
Pada pertengah zaman
kertas rokok
meniti bara bumi
Lalu tengah malam
samudera dalam gelombang
gangguan kejiwaan
Titik kecemasan
ataupun padang panas menikam
rasa haus yang gawat
Reses
diam memendam
Padam
……..!
pada dia sebenarnya ingin sekali kuingatkan, pada pilihannya saat ini untuk menjadi penulis sempoyongan yang mengamit semacam laksa kebebasan tersendiri, segenap pribadinya mempersepsikan perenungan2 tertentu tentang hidup, bisa saja membuatnya diapit erat oleh kesadarannya yang teralienasi. Sehingga saya ingin dia perlahan berhenti atau setidaknya membatasi gairah menulisnya dan sedikit lebih banyak memperhatikan penampilannya, pola makannya yang terlalu sering makan indomie dan minum kopi, ataupun lebih memperhatikan dan mencari perhatian seorang perempuan.
tapi ada yang tak saya sadari, karena saat inipun saya menulis penuh gairah, sama persis dengan dia. Karena saya adalah dia dan dia adalah saya. Soliloquy up to date.
Soliloquy
Ruhku
Menyapamu
Dijawab oleh
Ruhku
berhenti, berhentilah untuk mencoba berhenti. Berhentilah kumohon. Berhentilah. Berhentilah untuk berhenti terus mencari si hilang. Berhentilah. Berhentilah berhenti untuk terus mencari apa yang kau cari. Kumohon berhentilah. Sungguh kumohon jangan berhenti disini. Berhentilah untuk mencoba berhenti sampai kita tak ada lagi. Berhentilah berhenti sampai mati. Kumohon dengan sangat memohon, jangan pernah berhenti.
8-9 agustus 2005 23:45. Saat kau menyeretku pada skema kontemplasi yang sulit benar untuk keluar. Sekre KA-Unpad, my home when they are born.