Tung yang baik….

Februari 25, 2008

dscn6391.jpg

Tung yang baik,

kehidupan sehari2 adalah tempat bermain buat orang seperti kita, sebab ia menyimpan potensi2 keren untuk mensubversi dan mentransformasi nilai-nilai yang baku, beku dan mapan. kehidupan sehari-hari juga bernilai karena ia adalah konteks nyata yang langsung mempengaruhi hubungan2 manusia beserta segala evaluasinya, sebuah konteks nyata untuk penciptaan kembali diri dan subjektifitas.

tung, pada setiap pertemuan yang seringkali singkat ada sisi lain yang abu coba lihat; bahwa alam pikiran kita hidup dalam modus yang tidak sinkron, dan traumatik, maaf loh ini cuma sekedar asumsi, pandangan, bukan kritik atau evaluasi, ini cuma sok tau- sok tau-an. terus kalo abu amati secara tajam (beuuuh), pikiran kita banyak berkubang dalam trauma menyangkut hal2 yang telah dikorbankan, terkebiri, terbungkam, atau termarginalisasi akibat idealisme dan kemanusiaan yang sesungguhnya tidak jelas. di hantui masa lalu yang justru bahagia dan nyaman, lalu sedikit masa lalu yang pahit (ituloh nuni, fitri, sari, puni, pari, ah), sekaligus cemas atas berbagai bentuk kemungkinan pahit di masa depan. kenangan atau jalan hidup dari berbagai bagian hidup kita, lantas dicampuradukkan atau dibentur2kan dalam struktur sabar, tulus, tapi menaranya adalah keimanan terhadap Tuhan, apakah kita masih butuh Tuhan ketika kita sudah bisa bersikap sangat sabar dan tulus? jadinya, semacam upaya keras mensinkronkan yang sesungguhnya tidak sinkron.

 

masa lalu boleh saja dilihat sebagai gudang misteri yang memberi kemungkinan bagi sensasi, kenapa sih dia begitu, kenapa tidak begini, kenapa dulu saya nggak begitu, kenapa… dstnya, hal ini sekaligus menjadi fantasi pribadi dan harapan kolektif yang tersisa namun tersembunyi. pada saat yang sama, segala nuansa masa lalu dikompilasikan dengan praduga masa depan, atau sekedar diberi pigura baru dan tidak lazim untuk dengan sengaja menonjolkan ketidaksinkronan.

 

maaf ya tung, klo abu mengungkapkan-nya dengan kasar dan blak2an… semoga tung tidak marah…

 

abu juga melihat adanya kecenderungan transenden, tung sepertinya gemar mengeksplorasi segala batas dan pembatasan, menggugatnya sebagai kesewenangan dari ke tidak normalan, atau malah sebaliknya, dari kenormalan, abu ga tau yang mana, yang pasti tung menganggap segala kesewenangan itu sebagai hal yang tidak perlu ada, tapi kemudian tung membatasinya dengan keimanan yang sangat logis, keimanan adalah batas, klo menurut abu, batas dimana kita harus cuma boleh yakin, tapi disisi lain tung berjalan pelan2 sambil meyakini bahwa pada dasarnya hidup tidak mengenal batas. ambang batas adalah wilayah tidak bertuan, termasuk Tuhan, titik temu dan landasan untuk berkorban dengan tulus, sekaligus untuk memperkarakan segala otoritas dan oposisi dualistik yang tidak perlu (tinggi-rendah, kaya-miskin, murni-hibrib, ciptaan-pencipta, dan sebagainya).

 

pikiran dan atau perasaan kita adalah mikronaratif yang berkembang terus, yang produksi dan disseminasi ideanya bergerak melalui jaringan rizomatik. ia merupakan proyek yang memupuk kedewasaan idea dan membutuhkan jaringan hubungan saling mengisi, kreatif tanpa henti dan tidak pernah terduga.

 

karena itu  abu mau nyanyi:

 

mari bung bingung kembali…

 

halo… halo

bandung

ibukota kegalauan,

sudah…. lama beta- tidak berjumpa dengannya

sekarang! telah menjadi lautan galau

mari bung, bingung kembali…..

 

stop.

 

hehehe, biasa intermezo

 

Tapi sekarangpun, banyak para pemikir memandang segala hal sebagai sementara, fana, tidak memadai dan tanpa dimensi transendental. identitas dan subjektifitas manusiapun tidak lagi dilihat sebagai suatu keseluruhan yang utuh, melainkan terfragmentasi dan tanpa pusat. kepercayaan pada kebenaran absolut dan objektif diganti dengan berbagai kemungkinan kebenaran baru, mencakup skala luas, dari relativisme radikal hingga konsep kebenaran yang bernegoisasi.

 

sensibilitas terhadap pengalaman2 traumatik dan atas segala bentuk kekecewaan memungkinkan orang seperti kita menyelam ke balik permukaan, seringkali dengan cara memperkarakan permukaan atau mempermainkannya. hal ini tentu menuntut kesadaran kita sendiri ikhwal kompleksitas dan sisi2 ilusif dari kenyataan. kesadaran yang seperti kita bangun, adalah tuntutan bagi semua orang yang hendak berevolusi dan beremansipasi. namun ada yang perlu diingat, hub asmara adalah interaksi kritis antara pengalaman, imajinasi dan pikiran, yang berpotensi untuk membantu kita menyadari kerancuan2 yang seringkali tersembunyi secara efektif.

 

tung,

semoga manakala dunia imajinasi kita berdua ini seperti menghilang, atau hilang, hubungan essensialnya dengan kehidupan luas justru akan semakin terbilang. terimakasih, atas semua nilai2 yang tung kenalkan, atas waktu yang tung berikan, terimakasih.

 

Terimakasih ya

 

Hymne Bingung

 

Ditolak deui…

Ditolak deui.. Diiii tolak deuiiii

 

Kudu kumaha, kudu kumaha… kuuuudu kumahaaa?

Aing geus cape… aing geus cape… aaaaing geus capeeee…