Untuk Kawan Sepi

Januari 19, 2008

img_2085.jpg

Untuk Kawan Sepi
: Herman

kesepian, adalah apa yang kau nikmati setelah merenggut kebebasan dari kelamin hidup! “sedang senyap menyelinap diantara desah yang menganga”, karenanya kau coba tebus dengan puisi bimbang. kawan, mimpi telah banyak mencekik orang seperti kita, tapi tetes-tetes upaya melegakan setelahnya, walau mengorbarkan luka dalam ragu yang kian dalam, tapi, mereka terlalu tua untuk kita, dan kita tidak pernah terlalu muda untuk mereka!. karena kita tidak pernah gagal mencuri gairah dalam hidup yang basi ini! karena kita berpuisi…

seperti kita menterjemahkan ayat-ayat suci: buruh-buruh itu menyenandungkan kesaksiannya, bahwa tiada yang paling berkuasa selain Dia, jika ada yang mecoba untuk berkuasa- maka mencoba menjadi Dia. dan kita mendengar senandung itu, kita mendengar, kita mendengar, semakin jauh semakin dekat.

tapi kadang suara dirampas hiruk dunia!

kau bisikkan “mimpi di ujung embun” dan aku mengira, segala telah patah, karenanya kita berpuisi, menyambung mimpi-mimpi, menghimpun yang terserak, menjadi pelayat kepada jiwa-jiwa yang mati. Dan walaupun iringan pelayat terlilit lupa, kita tetap ingat dan berkata: yang mati akan bangkit!; dan malam mulai kembali jahanam, menginjak-injak jiwa yang merasa merdeka!

kawan, kelak kita adalah jasad. Terbaring dalam kadafer yang dingin dan sepi. kelak kita adalah jasad, tapi kinipun kadafer itu telah mengurung kita! siapa malaikat yang berani menyepak kita ke neraka? selama kita tetap setia pada cita-cita. tapi inilah teman- sepi untukmu dari Tuhan.

kawan, kau ingat, setelah lelah dari tempatmu, aku berjalan linglung ke terminal, memasuki alam yang tak tegas menghimpunku. Maka aku-lah yang selalu kembali menegaskan, bahwa hidup adalah secangkir kopi. Hitam dan tumpah ke remang jantung, membuat setiap denyutnya berjaga, membuat setiap hembus nafas terasa senja. Tapi jahanam, doa siapa tersesat di kepala keropos milik kita. Menyeret tubuh kering ini ke sangsi yang kejam. Hingga kita beku di puncak sunyi.

: seribu kata dalam almari coklat di ujung kalimat, diantara kebodohan dan di tepi air yang menjadi nyeri, “jiwamu menolak mati!”

Bogor, 18 Januari 2008

halo,

Januari 19, 2008

img_2104.jpg

Nama saya Abu Mufakhir. Saya adalah warga Negara Indonesia dari suku Sunda. Dan ini adalah kodrat, yang mau tidak mau mempengaruhi bagaimana saya dibesarkan. Tradisi dan nilai-nilai kearifan lokal yang saya terima sebagai landasan legitimasi saya sebagai makhluk politis. Saya mencerna itu semua walau tidak selalu baik dan terasa. Pekerjaan pokok dari sebuah tradisi adalah mempertahankan tradisinya. Tapi selain saya punya tradisi yang berasal dari lingkungan seperti halnya kita semua saya juga mempunyai tradisi yang berasal dari keluarga. Tentang bagaimana mereka membesarkan anak, menanamkan nilai-nilai, dan bagaimana seorang anak seharusnya berperilaku terhadap orang tua. Walau terlalu banyak mitos yang orang tua saya pakai untuk menjelaskan dan menanamkan sesuatu, itu artinya, apa yang menjadi tradisi keluarga saya merupakan bagian kecil dari tradisi etnik saya. Termasuk soal penamaan anaknya. Di depan nama saya, abu mufakhir, masih ada nama yang akan menjelaskan darimana saya berasal. Dan seringkali tradisi etnik itu merupakan mitos. Banyak mitos yang begitu fantastik dan sukses bertahan sampai sekarang. Dan bagaimana mitos itu bisa sampai dari satu generasi ke generasi selanjutnya?

Adalah tradisi kepenyairan salah satunya yang membuat mitos itu bisa sampai pada generasi kita sekarang. Tradisi mendongeng. Seperti dongeng tentang Tangkuban Perahu. Tangkuban perahu adalah gunung berapi dengan ketinggian 2.084 meter. Bentuk gunung ini adalah Maar atau perisai yang telah meletus 400 tahun lalu. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letusan kebanyakan adalah lava dan sulfur, mineral yang dikeluarkan adalah sulfur belerang, mineral yang dikeluarkan saat gunung tidak aktif adalah uap belerang. Suhu rata-rata hariannya adalah 17oC pada siang hari dan 2 oC pada malam hari. Gunung Tangkuban Perahu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Di luar itu semua, gunung tangkuban perahu menyimpan cerita cinta yang penuh luka. Tentang pasangan suami – istri yang saling mencintai dan mempunyai seorang anak. Seorang istri itu bernama Dayang Sumbi dan suaminya bernama? nama aslinya saya tidak tahu, namun setelah dia menjadi anjing, ia diberi nama Tumang, dan anak mereka bernama Sangkuriang. Suatu hari suatu keinginan yang terasa aneh muncul, si ibu ingin memakan hati rusa, dan meminta Sangkuriang mencarinya. Setelah berburu lama di hutan, Sangkuriang tidak juga menemukan hati rusa, dan karena hanya tidak ingin mengecewakan ibunya, Sangkuriang membunuh Tumang, anjing peliharaannya yang sesungguhnya adalah bapaknya, lalu mengeluarkan hati dari tubuh anjing itu dan memberikan pada ibunya. Dan ibunya kemudian tahu bahwa itu bukan hati rusa, tapi hati anjing, hati Tumang, hati suaminya, hati bapak dari anaknya. Maka ia pun marah dan mengusir Sangkuriang, setelah sebelumnya memukul kening Sangkuriang sampai terluka.

Beberapa tahun kemudian Sangkuriang dewasa, dan ibunya Dayang Sumbing yang tidak bisa tua, masih nampak cantik. Mereka bertemu tanpa sadar bahwa mereka adalah anak dan ibu. Mereka jatuh cinta. Bisa kita bayangkan, Dayang Sumbing yang hidup bertahun-tahun tanpa kehadiran lelaki disampingnya, bertahun-tahun tanpa ada yang pernah menjamahnya, dan Sangkuriang, seorang pemuda gagah dan tampan, yang baru jatuh cinta untuk pertama kali, begitu menggebu hasrat mereka, begitu deras cinta mereka. Sampai akhirnya Dayang Sumbing menemukan bekas luka di kening Sangkuriang dan menyadari bahwa dia adalah anaknya. Tidak perlu saya lanjutkan ceritanya.

Siapa yang membuat cerita ini, siapa Empu dari cerita ini, apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan? Apakah si empu ingin agar siapapun yang mendengar dongeng ini berkhayal demikian jauh, atau bahkan ingin membuat mereka percaya bahwa ada orang bisa menjadi anjing, ada perempuan cantik yang tidak bisa tua karena meminum air di satu gunung, dan seorang pemuda yang mampu membuat perahu dalam semalam. Atau ini sekedar kisah dongeng yang menghibur pendengar atau pembacanya agar bertemu kembali dengan mimpi-mimpi naluri purba mereka.

Walau bagaimanapun setiap karya adalah produk pribadi dari pembuatnya pada tahap dan situasi tertentu- maka ia juga bisa sangat bersifat invidual. Dan pada saat persembahannya kepada masyarakat, ini adalah proses pengakuan bahwa sebagai individu merupakan bagian dari kolektifitas. Dan dalam setiap karya, pasti memuat pandangan pembuatnya, baik atau tidak pancaran tersebut, dimengerti atau tidak, sadar atau tidak, semua sifatnya bukan jadi soal.

Tapi bagaimana dengan sastra pasar? Pasar adalah sebuah kekuasaan, jadi mungkin kita akan melihatnya sebagai relasi antara karya dengan kekuasaan. Bagaimana sebuah karya mengabdi pada kekuasaan, bagaimana si pembuat karya mengabdikan karyanya walau bukan dirinya pada kekuasaan, selalu, sesekali, atau memang hobi, semua sifatnya bukan jadi soal. Tapi nanti dulu, apa itu sastra pasar? Dan apa itu bukan sastra pasar? Apakah selalu sastra pasar adalah karya yang laku dijual, apakah semua karya yang laku dijual itu sastra pasar, jika demikian- apakah sastra bukan pasar tidak boleh laku, karena tidak boleh dipasarkan atau tidak sesuai dengan selera pasar? Lalu apa salahnya jika mengikuti selera pasar? Apakah selera pasar itu salah?

Dalam pasar ada banyak relasi. Ada banyak mitos. Ada banyak tekanan. Maka ini adalah soal bagaimana kita keluar dari mitos tersebut, lepas dari tekanan-tekanan tersebut dan berkreasi secara bebas dan mengolah selera pasar sebagai sebuah batas. Dan inilah pasar, yang mau tidak mau mempengaruhi cara pandang kita, cara kita memilih, cara kita berkarya. Dan cara kita berdamai di tengah-tengah pasar yang kian sempurna dan legitimasi kultural yang kian rapuh.

 

19 Januari 2008