Malam ini malam seribu benalu
Desember 29, 2007
Malam ini malam seribu benalu
- dan kita akan mabuk selamanya
Malam ini malam seribu benalu, dan kita akan miskin selamanya, berbohong selamanya, menjilat selamanya, malam ini malam seribu benalu, dan kita mabuk dalam sumpah serapah. Dalam takdir!
Dalam cangkir amis, kita mabuk murah, mencerca anjing dan cinta, lalu merasa merdeka. Masya Allah. Malam ini kita melukai siapa lagi, diri kita yang mana lagi, hati ini lagi, gelap ini lagi, itulah; kita tak akan tua, kita mati pagi ini, kita berjanji. Kita berjanji melanggarnya sebelum pagi, agar kita tidak mati, kita takut mati, kita takut Tuhan, kita takut kenyataan, kita takut hidup!
Malam ini malam seribu benalu
- kita takut mati juga takut hidup. Maka kita bermimpi, kita mabuk selamanya
Malam ini malam seribu benalu, kita merayap pada dinding jantung, pada atap paru, maka jadilah indomie, rokok, kopi. Lalu kita merayap pada lembab kolor perempuan, menghisap dinding rahim gadis patah hati, biarlah sakit, biarlah, aku rasa- kau rasa. Maka malam kita merayap ke jalanan, menghibur diri dengan segala kemungkinan. Dan kau tahu? Kemungkinan bagi kami itu warnanya kuning, seperti jamu. Dan kami membelinya, membeli kemungkinan. Lalu kami peras cinta kami sampai kering, kami peras isi kepala kami sampai kering, dan saat kami tidur ia menggenang lagi, penuh lagi, bau, kotor, hitam.
Setangkai Rona
Desember 29, 2007
Setangkai Rona
dijalanan sepucuk kata terbakar sepi, menderita bagai gelandangan yang mengidap tetanus. “ayo cepat, kematian semakin yakin memburu kita”, entah suara siapa, dan aku tetap berjalan lambat, meludahi rindu demi rindu, menelan kamu yang telanjang.
dijalanan, aku memanggil namamu yang berbaur bersama amis daging manusia yang terbuka, “haram bagiku berlari pada saat seperti ini!” kataku, sambil kemudian meneguk asin kencing sendiri. “ya, tapi kau lupa, jiwamu meminta untuk sembunyi”. Alah itu katamu hewan yang bimbang. menakar dunia yang gelap oleh Tuhan. sedangkan aku, yakin terus menuju rumahmu, dimana mayat-mayat dikumpulkan oleh kerinduan. setelah sampai. aku ketuk pintu rumahmu.
“hai, aku membawakanmu setangkai rona”.
sedang dijalanan orang-orang berlari, melupakan hidup mereka sendiri-sendiri. dan masih saja kuketuk pintu rumahmu, berjuta-juta kali, namun tak ada suara membalasnya, sedang sepi meleleh dan api itu semakin redup. dan aku terus berkata, didepan pintu “aku membawakanmu setangkai rona”
1)
Desember 29, 2007
aku lenyap
selenyap asap
selenyap nafas
dan aku berterimakasih pada kebohonganku
Bogor, 25 Oktober 2007
Desember 29, 2007
Empat mata bermain api
“perhatikan, empat mata bermain api disana…”
Ketika dua angsa tenggelam dalam kuningya langit. Lalu setelah kau perhatikan, kemarilah- ikuti aku menari sampai nanti terhenti. Dan sambil itu, kau baca titik koma dalam air kopi, terka, apa kata yang akan disusun oleh sepasang praduga disana. Dan mereka saling membaca, karena masing-masing punya kepala penuh dengan rahasia. Seperti rimba rasa sayangku, menarilah sampai nanti terhenti.
Pagi, dan secangkir kopi asem. Dan kini belum juga apa-apa, aku sudah melihat empat mata bermain api disana. Ketika dua mayat angsa mengambang di kuningnya langit. Hanya saja aku tergesa. Kemarilah- ikuti aku menari sampai nanti terhenti. Sementara itu coba kau lihat dua batang rokok tergeletak lantai, ambillah, hisap satu untukku. Dan mereka saling menunggu, saling menunggu, kata apa yang akan kulukis dibibirmu. Sementara itu kau hembus asap itu pelan-pelan. Sampai kemudian api padam dan mata kita beku.
Siang, kita berjalan menyusuri limbah dunia. Berbekal dosa cukup untuk akhir nafas. Dan kau bercerita, dari mulutmu yang kecil mengalir kata yang dihantar suara, merdu, kau memang merdu. Sedang aku tetap bertanya, “apa aku adalah derita?” Dan kau menjawab, “bersabarlah”. Ini siang kita menikmati asmara, bersabarlah, seperti sepasang mata yang melihat kita.
Sore, tarian kita terhenti, gerak kita tercuri, gemulai kita pergi.
Kini kita sepasang mata tanpa jasad. Padahal kita telah berjanji untuk berciuman disini. Padahal mereka telah menunggu, dengan berjuta nafas yang mengalir dalam sisa-sisa.
Musim hujan
Kekasih,
Aku dikotamu, mendiami celah dalam rindu. Menunggumu pulang, berziarah kepada kenangan.
Musim hujan, kekasih, secangkir kopi. Ketika itu, bersama tiga roh anjing yang mati diracun maling, aku menyusup ke pelusuk mimpimu, mengorek-ngorek batas. Dan kekasih, mimpimu sirna, karena mungkin itu hanya mimpi, bangun dan lupakanlah. Daun-daun kamboja menyambutmu, bersama hujan yang mereda. Rasa takut seperti udara, kuhirup dan kuhembuskan. Aku dikotamu, mendiami celah dalam rindu, bersama tiga roh anjing yang mati diracun maling. Rasa takut seperti udara, kuhirup dan kuhembuskan, berebut dengan pohon-pohon tua. Musim hujan, dan kekasihku mari kita minum secangkir kopi berdua, menerka rasa dalam kalimat-kalimat yang bisu. Daun-daun kamboja menyambutmu, bersama hujan yang mereda. Rasa takut seperti udara, kuhirup dan kuhembuskan, sampai nanti aku mati diracun jemu.
Kekasih,
Kotamu adalah drama secangkir kopi. Hitam dan kental.
Hujan kotamu, membuat pundak lelaki sepertiku ngilu menahan angin yang membatu. Dan kekasih kapan kau pulang? Berenang dalam kopi hitam kental bersamaku. Menemui kakekmu dirumahnya yang baru, ditepi telaga milik batas-batas waktu. Kekasih, kopi ini sungguh nikmat. Aku sungguh terikat.
Kekasih,
Ditempatku menunggu, seekor puisi yang terusir- tersesat, dan akhirnya kami hidup bersama.
Memanggil-manggil namamu, musim hujan penuh kopi hitam, dikotamu, sungguh aku mengapung liar di encernya udara. Dan udara seperti rasa takut yang kuhirup dan kuhembuskan. Aku dikotamu, mendiami celah dalam rindu. Menunggumu pulang, berziarah kepada kenangan, bersama tiga roh anjing yang mati diracun maling, dan seekor puisi yang terusir. Daun-daun kamboja menyambutmu, bersama hujan yang mereda, saat kau datang, aku mati! Tapi tak perlu menyesal, secangkir kopi dengan panas yang abadi telah kusiapkan. Minumlah, sambil menikmati musim hujan. Hitam dan kental.
Drama sore-sore, dimusim yang sesak dengan angin
Cinta, kau adalah padang luas tanpa arah mata angin. Tanpa arah, hanya hembus-hembus yang dingin.
Dan kekasih, aku menunggumu, pada satu ruang yang bernama jiwa, disebelah jurang bernama sepi.
Bila kita bertemu, aku menunggumu, bila kita bertemu, aku menunggumu, bila kita bertemu, aku menunggumu. hingga akhirnya, bila kita bertemu?
Aku menunggumu, didepan layar komputer, sambil sakit kepala, karena ini musim yang sesak dengan angin. Hingga akhirnya kita bertemu, dipadang luas tanpa arah mata angin. Akankah?
Drama sore-sore, dimusim yang sesak dengan angin, tentang sakit kepala yang berubah menjadi gila.
Bogor, 25 Oktober 2007
Jeung Tung
Desember 12, 2007
Jeung Tung
hei.. femme fatale, kau tak boleh membiarkan lelaki putus asa..
abusurd
de jeung tunk
ada yang hilang, diam, takut, dalam!!!
Tunk
tunk apa yang hilang, diam, takut, dalam..? apa iya kamu sedang berusaha berfilsafat? jelas! pertanyaan saya bukan mengenai filsafat scholastik, karena saya tidak akan percaya tunk yang saya kenal scholastik, tapi a litle estetik, mungkin. “ada yang hilang, diam, dalam!!!” sebuah kalimat yang ditutup dengan kasar oleh tiga tanda seru, apa makna kalimat ini?
tunk sedang mempersonafikasikan sebuah filsafat individu, dengan sebuah kalimat pendek yang histeris pada rentetan realitas yang teralienasi. orang selembut tung bisa terasing karena realitasnya terasing, jika tidak, apalagi kemungkinan terbesarnya, karena siapa tunk? apa tunk mampu berpikir radikal sehingga menyimpulkan sebuah kekejaman realitas dengan begitu telanjang? bugil…! tanpa adanya self alienation.
tunk seperti menyajikan sebuah pentas stripis tanpa menulisnya miring, karena dianggap hal tersebut bukan sebuah kata asing atau serapan yang perlu miring, tapi merupakan sebuah realitas yang meledak dari kecongkakan perempuan. persetan. ada yang hilang, diam, takut, dalam!!! realitas apa yang ingin tung bongkar? karena tunk bukan seorang yang peduli akan arus feminisme yang kadang terjebak dalam perbudakan karir. tunk selalu memiliki kecenderungan berpikir lurus dan praktis.
justru dengan berpikir lurus dan praktis tung mencoba mengungkap sesuatu melalui kesunyian kata-kata, bukan riuhnya kalimat-kalimat panjang yang terkadang hanya ditanggapi dengan menguap. tapi ini bukan soal, hanya metode, juga usaha saya untuk membahasnya bukanlah suatu keinginan untuk memaksakan pemaknaan. persoalannya tunk mengalami sebuah periode krisis pengungkapan gamblangnya yang selama ini menjadi identias pribadi paling dominannya, dan ini terjadi karena betapa bertubinya realitas-realitas tunk dijajahi dengan lamunan. dan sebagai seorang yang merasa kenal dekat dengannya, saya memliki kecurigaan bahwa ini adalah soal perempuan, karenanya saya mempertanyakan persoalan ketimpangan arus feminisme dengan pemahaman hak-hak perempuan secara mendasar, sederhana dan menyentuh. bagaimana kaum feminisme bisa memperjuangkan aspirasinya dari perempuan-perempuan yang belum pernah mendengar hak-hak perempuan? inilah realita, jika ada yang tidak suka hati! tinggal menjadikannya sebagai persoalan moralitas demokratis.
dalam soal perempuan, tunk sebagai sistem individual sering hidup sebagai aktor dalam film yang dia putar di alam ilusi kesadarannya. sebagai sekaligus produser, sutradara, penulis skenario, tunk hanya bisa menjadi aktor utama yang gagap, dan lebih parah lagi karena tingkat alienasi diri sudah diambang sekarat tunk tak bisa lagi menolak membuka pintu neraka realitas, dimana ia tak lagi bisa mengendalikan alam ilusinya agar tak terpolusi realitasnya sendiri, dimana tunk akhirnya hanya menjadi figuran tanpa dialog, ruang waktu yang sekilas, dan penampakannya yang tidak jelas. pada saat itu terjadi, maka jumlah realitas yang menjelajahi lamunan sebagai polutan sudah semakin tak terhitung dan buas. sehingga hatinya di pukul mundur oleh kemampuan unggul inderawi, yang harus menyatakan bahwa persoalan perempuan yang tunk cinta-i baginya adalah persoalan pasti! pasti tertolak.
kerap percobaan, dan upaya bangkit hanya membuat semuanya menjadi imanent, tunk terpaksa memasuki jurang kesadarannya yang paling tepi melalui sebuah kalimat, “ada yang hilang, diam, takut, dalam!!!” dalam kondisi yang semakin tak berubah selama 3 tahun saya mengenal dia. tapi tung jangan karena kamu jijik terhadap sebuah realitas lantas kamu bunuh diri mimpi. karena masih ada nuni-nuni yang lain.
Jatinangor, 19 Maret 2005