Di Simpang Cahaya
April 19, 2007
Di Simpang Cahaya
Bukankah semua berdiri disini?
Disimpang warna sepia
Dan secercah cahaya merekah
Dari pusat arah
Ketika sunyi abadi
Dan senyum hadir dari bibir dan hati yang memerah
Di sini, disimpang cahaya
Di sana, seikat waktu menunggu
April 19, 2007
Di sana, seikat waktu menunggu
Padat. Lorong-lorong gerbong pagi
Menyusup ke arah bunyi
Seperti detak, nyaris retak
Sedang bayangmu bergetar dipucuk rindu
Di sana, seikat waktu menunggu
Seikat waktu kupandang kian lesu
Jelas. Siapa akan kutemu?
Seperti apa tubuhmu? Sorot matamu?
Tidak jelas.
Tubuh
April 19, 2007
Tubuh
Lihat, tubuhmu melompat dibelakang kabut
Seperti apa, entahlah.
Kuinginkan tubuhmu, mengalir bersamaku
Melepas tanda dan kata
Berdua, terbingkai senja
Resahmu yang layang akan kutangkap
Dan kujauhkan dari duka dan duka
Dan pasti akan kuminta, kita celupkan kaki kebibir pantai
Mengheningkan diri dari zaman
Sejauh kepergian dan pulang yang sederhana
Sehingga tak ada yg tersisa, kecuali bahagia
19
April 18, 2007
19
Malam yang selalu kupercaya
menitis tasbih sambil lirih,
pelan-pelan
Aku yang tersandar oleh jendela
di pandang bulan berlama-lama.
Sepertinya sepi telah di baitkan
sebagai jangkar kelana, bagi manusia
setelah sorga kini dunia
terbentang
mataku memancar dari tua jendela
mencari-cari cinta,
yang telah ditasbihkan malam
menghayati kesan
April 5, 2007
Jika boleh aku meraba-raba kamu
menghayati kesan
Cukuplah berputar memilih-milih jendela
Cukupkanlah hunianmu berparodi
Senyaplah sejenak, menghitung jejak-jejak
Heningkanlah kurus tubuhmu, ku lihat ia terlalu capai
Meloncat dan menggapai
Matahari akan selalu hinggap di jendela yang terbuka pagi-pagi
-menyusui padi
Kau adalah gembira lincah
Senang berlelah-lelah
Pagi ini di sini – pagi itu situ
Menebar ceria dan cemberut lucu
tapi tubuhmu butuh kamu lupa
-karenanya tidur sianglah bungaku