Di antara Riwayat dan Isyarat
Maret 31, 2007
Di antara Riwayat dan Isyarat
Di antara riwayat dan isyarat
ada yang menakar jiwanya dan menghitung jarak menuju..?
atau siapapun yang berkehendak
-mendekat
Bertahun-tahunku
bertambah lagi tahun, lagi dan lagi
Matahari menjulang dan terbenam
dalam putaran mimpi revolusi
Menjinakkan hari, menyusur menuju..?
Lalu senja menghantarku pada gerbong yang padat
dan gerbong menghantarku menuju..?
masih dan tetap, di antara riwayat dan isyarat
ada kesetiaan siapa
Riwayat lewat dan isyarat mendarat, di mana..?
Tuhan siapa yang bisa menjawab?
Tuhan ku – Tuhan kamu – atau tukang kebun di sana-
yang merawat bunga-bunga di sorga
sebab dia adalah
sekolah kita: kasih yang salih
yang seringkali tersisih.
scripta manent verba volant 2
Maret 31, 2007
Sisca (scripta manent verba volant)
(Maka akan kubiarkan saja
Setelah deras kini mampat)
Maka akan kudiamkan saja
Tubuhku kaupeluk lewat waktu
Pundakku, dimana selama ini memanggul kebebasan
Boleh kau rebut dan bawa pulang
Aku sudah lemas terlampau bebas
Maka akan kubiarkan saja
Bayangmu muncul sendiri
Menyentuh bayangku
Di tembok tanpa bingkai
Karena bingkai apa yang bisa menjerat bayang
Maka akan kudiamkan saja
Tawamu mengalir lewat kata
Tanpa perlu kuduga seperti apa suaranya
Maka akan kudiamkan saja
Seperti halnya ini rasa terimakasihku
Untuk semua yang datang dengan sederhana
(maka akan kubiarkan saja
setelah mampat kini deras)
23 Maret 2007, Bogor
scripta manent verba volant
Maret 31, 2007
Sisca II (scripta manent verba volant)
Sis, abu-
rindu
Bolehkah?
Sisca III (scripta manent verba volant)
Sayang, malam ini mungkin kita akan bertemu
Menghempas jenuh kata
Sayang, malam ini mungkin kita akan bertemu
Menghempas jenuh Tanya
Sayang, malam ini mungkin kita akan bertemu
Tanpa tanda baca, tapi senyum dan cium
Sayang, malam ini…
Malam ini, usah kau ragu,
batinmu…
Usah kau sua dulu, masa lalu yang tak kau suka
Karena malam ini mungkin kita akan bertemu
di bawah lampu mejamu, aku sudah menunggu, kau berdandan lucu…
abu 07
Maret 25, 2007
Malam Kian Memanjang Sayang
Malam kian memanjang sayang
-sementara itu jam berputar tegang
Sambil senyap
Aku merangkak dari balik kepul asap
Sisa pembakaran sampah
Sambil resah
Lalu aku lihat ke-luar jendela
Hujan telah berhenti
-sementara itu jam masih berputar tegang
Menunggu jawaban tentang:
Apakah aku datang untuk ditinggal pergi?
Malam kian memanjang sayang
Menyuguhkan ngeri sepi
: sisca
abu 05
Maret 25, 2007
Mereka Membajak Kematian
Mereka membajak kematian, seperti sapi
-saat matahari kunjung meninggi, di pundak gunung, di sebrang anak sungai
Mereka membajak kematian, seperti sapi
-dan akan disemai saat musim kawin tiba
Hujan turun membasahi mayat-mayat yang dikubur Lumpur
Sementara di tepi dapur paling lapar, seorang anak menunggu batunya matang
Semuanya terasa pilu
Segala syair dari segala negri terasa bisu, dan dari langit-langit yang sempit peri itu- datang
Membawa segelas susu, dan segenggam roti
Sapipun berteriak geram meminta rumput, dikasihnya oleh pak tani tulang bayi yang- lunak
Mereka membajak kematian, disawah yang dulu punya ibu mereka
Tempat dulu mereka membajak kehidupan
abu 04
Maret 25, 2007
Sekarang jam 18:57
Angka yang terpaku, tulang rusukku
Paku yang ditusukkan pelan-pelan kesela paru-paruku
Memaksa waktu untuk menguburku lebih dalam
Paku itu pelan-pelan masuknya, sehingga darahpun tak hirau
syair itu membahana, menenggelamkan malam
Paku itu, memaksa waktu menguburku lebih dalam
Dan paru-paruku dipaksa mengunyah paku yang masih hangat dalam lengketnya rindu
Rindu itu merah! Perempuan
Rindu itu merah! perempuan, seperti darah yang muncrat dari lapuknya kulit mataku
-di silet dendam, dan bunyi jam
Dan aku masih terpaku, menghibur diri –bersama syair yang membahana,
- menenggelamkan malam
abu 02
Maret 25, 2007
Bukankah pernah aku bercerita:
gerombolan kunang-kunang menuju pengasingan
atau hutan-hutan lemas di punggung gunung
Bukankah pernah aku bisikkan:
Puisi tentang pelangi
saat hujan memayungi kita ke Jayagiri
Bukankah pernah aku katakan:
Ini itu
dan ini itu lagi.
Pernahkah ?
abu 03
Maret 25, 2007
Kesan
Pernah kita habiskan sementara nafas dalam pertemuan
Kau ingat: bukit mungil centil, sebentar lagi menuju manglayang
saat malamnya hujan badai
Pernah kita begitu dekat, saat: kita di sapu-sapu angin
semilir gerimis yang kian dingin
kau lingkarkan lenganmu di lenganku
di pundak gunung berhutan lemas
Pernah kita begitu dekat, seperti bertukar nafas
Kita mengecup pagi bersama, mengusap mata bersama. Walau tak berdua
Bagiku: kenangan adalah rambat darah dalam urat
Terlalu ku ingat
Bilah bambu, lingkar lenganmu, kecupmu di pundakku
Der Rationale der Empirise
Masihkah kau ingat ?
sis 1
Maret 24, 2007
Have ye souls in heaven too,
Double-lived in regions new ?
Mine surely, after read of your poetry
with the whisper of heaven’s trees,
and one another, in soft ease
such a compliment,
like the rose herself has got,
perfume which on earth is not
philosophic numbers smooth
tales and golden histories
of abu and his mysteries
so i thank only you
thus ye teach me, everyday
wisdom, though fled far away