Di antara Riwayat dan Isyarat

 

Di antara riwayat dan isyarat

ada yang menakar jiwanya dan menghitung jarak menuju..?

atau siapapun yang berkehendak

-mendekat

 

Bertahun-tahunku

bertambah lagi tahun, lagi dan lagi

Matahari menjulang dan terbenam

dalam putaran mimpi revolusi

Menjinakkan hari, menyusur menuju..?

 

Lalu senja menghantarku pada gerbong yang padat

dan gerbong menghantarku menuju..?

masih dan tetap, di antara riwayat dan isyarat

ada kesetiaan siapa

 

Riwayat lewat dan isyarat mendarat, di mana..?

Tuhan siapa yang bisa menjawab?

Tuhan ku – Tuhan kamu – atau tukang kebun di sana-

yang merawat bunga-bunga di sorga

sebab dia adalah

sekolah kita: kasih yang salih

yang seringkali tersisih.

Sisca (scripta manent verba volant)

 

(Maka akan kubiarkan saja

Setelah deras kini mampat)

 

Maka akan kudiamkan saja

Tubuhku kaupeluk lewat waktu

Pundakku, dimana selama ini memanggul kebebasan

Boleh kau rebut dan bawa pulang

Aku sudah lemas terlampau bebas

 

Maka akan kubiarkan saja

Bayangmu muncul sendiri

Menyentuh bayangku

Di tembok tanpa bingkai

Karena bingkai apa yang bisa menjerat bayang

 

Maka akan kudiamkan saja

Tawamu mengalir lewat kata

Tanpa perlu kuduga seperti apa suaranya

 

Maka akan kudiamkan saja

Seperti halnya ini rasa terimakasihku

Untuk semua yang datang dengan sederhana

 

(maka akan kubiarkan saja

setelah mampat kini deras)

 

23 Maret 2007, Bogor

Sisca II (scripta manent verba volant)

 

Sis, abu-

rindu

Bolehkah?

 

Sisca III (scripta manent verba volant)

 

Sayang, malam ini mungkin kita akan bertemu

Menghempas jenuh kata

 

Sayang, malam ini mungkin kita akan bertemu

Menghempas jenuh Tanya

 

Sayang, malam ini mungkin kita akan bertemu

Tanpa tanda baca, tapi senyum dan cium

 

Sayang, malam ini…

Malam ini, usah kau ragu,

batinmu…

Usah kau sua dulu, masa lalu yang tak kau suka

Karena malam ini mungkin kita akan bertemu

di bawah lampu mejamu, aku sudah menunggu, kau berdandan lucu…

abu 07

Maret 25, 2007

Malam Kian Memanjang Sayang

Malam kian memanjang sayang

-sementara itu jam berputar tegang

Sambil senyap

Aku merangkak dari balik kepul asap

Sisa pembakaran sampah

Sambil resah

Lalu aku lihat ke-luar jendela

Hujan telah berhenti

-sementara itu jam masih berputar tegang

Menunggu jawaban tentang:

Apakah aku datang untuk ditinggal pergi?

Malam kian memanjang sayang

Menyuguhkan ngeri sepi

: sisca

abu 05

Maret 25, 2007

Mereka Membajak Kematian

 

Mereka membajak kematian, seperti sapi

-saat matahari kunjung meninggi, di pundak gunung, di sebrang anak sungai

Mereka membajak kematian, seperti sapi

-dan akan disemai saat musim kawin tiba

Hujan turun membasahi mayat-mayat yang dikubur Lumpur

Sementara di tepi dapur paling lapar, seorang anak menunggu batunya matang

Semuanya terasa pilu

Segala syair dari segala negri terasa bisu, dan dari langit-langit yang sempit peri itu- datang

Membawa segelas susu, dan segenggam roti

Sapipun berteriak geram meminta rumput, dikasihnya oleh pak tani tulang bayi yang- lunak

Mereka membajak kematian, disawah yang dulu punya ibu mereka

Tempat dulu mereka membajak kehidupan

 

abu 04

Maret 25, 2007

Sekarang jam 18:57

Angka yang terpaku, tulang rusukku

Paku yang ditusukkan pelan-pelan kesela paru-paruku

Memaksa waktu untuk menguburku lebih dalam

Paku itu pelan-pelan masuknya, sehingga darahpun tak hirau

syair itu membahana, menenggelamkan malam

Paku itu, memaksa waktu menguburku lebih dalam

Dan paru-paruku dipaksa mengunyah paku yang masih hangat dalam lengketnya rindu

Rindu itu merah! Perempuan

Rindu itu merah! perempuan, seperti darah yang muncrat dari lapuknya kulit mataku

-di silet dendam, dan bunyi jam

Dan aku masih terpaku, menghibur diri –bersama syair yang membahana,

- menenggelamkan malam

 

 

abu 02

Maret 25, 2007

Bukankah pernah aku bercerita:

gerombolan kunang-kunang menuju pengasingan

atau hutan-hutan lemas di punggung gunung

 

Bukankah pernah aku bisikkan:

Puisi tentang pelangi

saat hujan memayungi kita ke Jayagiri

 

Bukankah pernah aku katakan:

Ini itu

dan ini itu lagi.

Pernahkah ?

 

abu 03

Maret 25, 2007

Kesan

 

Pernah kita habiskan sementara nafas dalam pertemuan

Kau ingat: bukit mungil centil, sebentar lagi menuju manglayang

saat malamnya hujan badai

 

Pernah kita begitu dekat, saat: kita di sapu-sapu angin

semilir gerimis yang kian dingin

kau lingkarkan lenganmu di lenganku

di pundak gunung berhutan lemas

 

Pernah kita begitu dekat, seperti bertukar nafas

Kita mengecup pagi bersama, mengusap mata bersama. Walau tak berdua

Bagiku: kenangan adalah rambat darah dalam urat

Terlalu ku ingat

Bilah bambu, lingkar lenganmu, kecupmu di pundakku

Der Rationale der Empirise

Masihkah kau ingat ?

 

sis 1

Maret 24, 2007

Have ye souls in heaven too,

Double-lived in regions new ?

Mine surely, after read of your poetry

with the whisper of heaven’s trees,

and one another, in soft ease

such a compliment,

like the rose herself has got,

perfume which on earth is not

philosophic numbers smooth

tales and golden histories

of abu and his mysteries

so i thank only you

thus ye teach me, everyday

wisdom, though fled far away